
Crazy Rich Bagian 32
Oleh Sept
Tidak cocok untuk mereka yang belum memiliki pasangan dan yang belum dewasa. Jangan paksa baca jika masih di bawah dua puluh tahun. Jangan mengotori hati dan pikiran. Lebih baik skip, bahkan pelajaran biology, kimia, fisika, mathematics serta bahasa English, jauh lebih cocok dari pada sebuah novel tentang rumah tangga. Mohon diskip ya, demi kedamaian kita bersama.
***
Kawasan skip!
"Hanum! Pakai lagi itu!" Gadhi menunjuk pada bathrobe warna putih yang sudah terbuang di atas lantai. Pria itu tidak mau Hanum berpenampilan terbuka seperti sekarang. Ini sungguh menguji dirinya. Meski tidak tertarik, dia tetaplah pria normal.
"Apa AC-nya mati?" tanya Hanum yang sudah kepanasan. Matanya mengerjap, menatap Gadhi seolah minta tolong.
Gadhi lantas menatap AC, semua normal. Hanum kepanasan bukan karena suhu dalam ruangan yang tinggi, tapi gadis itu sedang mengalami reaksi obat sama persis yang menimpanya dulu.
Dan tiba-tiba Gadhi menoleh pada makanan yang ada di atas meja.
"Siallll!"
Ia menelan ludah, sepertinya Hanum diobati dari makanan yang madam Li bawa. Dan dia juga minum kopinya. Semoga kopi itu tanpa obat, jika tidak maka ia akan berakhir tersiska. Sebab ada Hanum dalam ruangan itu.
"Heiii!!! Hanummmmmm!" Gadhi panik. Ia langsung berbalik saat Hanum malah melepaskan CD, sepertinya Hanum mau konser dengan lagu yang berirama sangat mengerikan, lebih seram dari pada iringan music pada back sound film horor.
"Gadis ini!!!" rutuk Gadhi marah.
Hanum sudah semakin mengila karena obatnya benar-benar sudah merasuk dan menguasai alam sadarnya. Lain cerita dengan Gadhi. Ia masih biasa saja, karena baru saja minum. Belum bereaksi, tapi kalau melihat Hanum seperti itu, bisa-bisa burung pipit pun langsung mengepakkan sayapnya lalu terbang menuju sarang.
"Sialannn kau JOO!!"
Tok tok tok
"JOOO! Buka pintunya!"
Gadhi mengedor pintu kamar hotelnya, bisa bahaya jika ia tetap berada di dalam sana. Pasalnya Hanum masih perawan seperti hasil pemeriksaan beberapa hari lalu.
'Dia bahkan masih perawan ... Astaga! Ada apa dengan otakku!' ia menelan ludah dan merutuk tanpa henti.
"Kenapa tubuhku jadi panas begini ... Gadhi! Aku rasa ..."
__ADS_1
Hanum tidak bisa berkata-kata, ia sudah seperti cacing kena garam. Mengeliat tidak tahan dengan sensasi yang membakar tersebut.
Gadhi yang sudah pengalaman dengan obat itu, hanya bisa mengumpatt. Ia tahu efek tersiksa kalau tidak disalurkan. Dengan cepat ia raih bathrobe, ia selimutkan pada tubuh Hanum.
Sekilas ia melihat hutan terlarang, dalam hati seketika langsung mengumpat.
"Sialll!"
Jantungnya mulai berdegup kencang, isi kepalanya sudah mulai terkontaminasi. Ya, sepertinya 5 menit cukup membuat obat itu merasuki dan membuat Gadhi traveling kemana-mana.
"Gadhi!" panggil Hanum dengan suara serak, sorot matanya tidak mampu Gadhi balas.
"Masuklah kamar mandi! Kunci!" Gadhi langsung membopong tubuh Hanum, dan saat ia meletakkan Hanum dalam bathtub, gadis itu malah melingkarkan lengannya di leher Gadhi. Dan enggan melepaskan.
"Hanum! Kau akan menyesal setelah obat ini hilang reaksinya. Jadi ... tolong lepaskan!" titah Gadhi. Meskipun jakunnya sudah naik turun, matanya menatap ke bawah, melihat belahan yang meresahkan.
Tangan Gadhi pun mencoba melepaskan lengan Hanum yang mejeratnya, sambil menelan ludah berkali-kali ia mencoba tetap dalam mode kewarasan.
Saat terlepas, Hanum kemudian menarik keran yang ada di belakangnya, membuat air dari atas langsung terjun dengan bebas. Membuat keduanya basah kuyup.
"Aku kunci pintunya dari luar!" Gadhi beranjak, tapi tangan Hanum malah menarik ujung bajunya.
Gadhi melepaskan jari-jari Hanum. Tidak mau sesuatu hal yang buruk terjadi malam ini.
Sementara itu, Hanum mencoba untuk tetap sadar. Ia mengerjap berkali-kali, menggeleng keras dan menepuk pipinya. Ia bahkan menengelamkan diri dalam bathtub beberapa detik kemudian muncul kembali.
'Apa dia akan baik-baik saja?' batin Gadhi yang akan meninggalkan kamar mandi.
"Ini lebih baik!"
KLEK
Gadhi mengunci Hanum dalam kamar mandi, sedangkan dirinya sendiri mulai kerepotan karena ujung tombak sudah mencuat ingin dilepaskan.
"Ish!"
Gadhi lantas push up entah sampai berapa puluh kali, tapi malah terasa tersiska. Baru setengah jam, pria itu sudah kelimpungan.
"Astaga! Berapa obat yang mereka berikan?" rutuknya kesal.
__ADS_1
Gadhi kemudian membuka kulkas, ia siram kepalanya dengan air dingin. Mencoba meredam panas gejolak dalam tubuh. Tapi hasilnya sama, tidak ada pengaruhnya sama sekali. Napasnya malah semakin memburu, jantungnya sudah hilang kendali.
Matanya kemudian menatap pintu kamar mandi, di mana Hanum ada di dalam sana. Mungkin sudah tidak tahan akan rasa sakit yang terus menyerang, akhirnya pria itu membuka kamar mandi Hanum.
Dilihatnya bathtub itu sudah kosong, Gadhi pun menatap sudut yang lain. Di sana ia malah mendapai Hanum tergeletak di atas lantai, bukan pingsan atau tidur. Hanum sedang menikmati derasnya air shower yang menghujam tubuhnya. Ya, gadis itu merentangkan tangan dengan kaki terbuka lebar, tanpa apa-apa.
Dengan nafas yang memburu semakin cepat, Gadhi mencoba berpaling.
"Kau akan menyesali semuanya besok!" ucapnya yakin. Tapi kakinya malah melangkah mendekati Hanum.
Pria itu berjalan sambil melepaskan apa saja yang ia kenakan. Setelah itu ia mengangkat tubuh Hanum yang seperti bayi.
"Kau bisa mati kedinginan!" bisiknya penuh aura mistis.
Hanum tidak menolak, ia memeluk erat tubuh bidang itu. Ternyata cukup membuatnya terpesona.
Bukkkk ....
Pelan tapi pasti, Gadhi menjatuhkan Hanum tepat di ranjang mereka. Ranjang penuh kelopak bunga mawar dari Bulgaria. Aromanya wangi menyatu dengan aroma tubuh Hanum yang menghipnotis Gadhiata Ratama Prakas.
"Panas sekali!" Hanum bicara dengan mata yang sudah tidak fokus. Bicaranya lirih, suaranya membuat Gadhi tidak fokus.
Pria itu hanya bisa menelan ludah, pemandangan indah di depannya membuat akal logika Gadhi seketika menghilang. Dari kemarin ia hanya melihat pembungkus saja, dari merah, hitam dan tadi unggu. Tapi sekarang, dia bisa melihat tanpa penghalang satu apapun. Bahkan gunung kecil itu terlihat mencuat dengan berani, seolah menantang untuk digigit.
"Aku pastikan kau akan menyesalinya besok!" ujar Gadhi kemudian langsung melahap. Tangannya mencari jemari Hanum, kemudian bertaut. Saling merapatkan jari-jari, seakan menolak tapi keduanya malah terbawa arus dan larut.
"Apa yang mereka lakukan padaku! Apa kau dendam padaku? Apa ini perintah darimu?" tuduh Hanum sambil mengeliat karena ulah bibir Gadhi yang sudah lihat dan very usil.
Gadhi melepaskan lolipop dengan aroma paling manis, yang dimakan tidak habis-habis. Pria itu kemudian mengusap pipi Hanum, lalu merambat ke bawah.
Ia menggeleng pelan.
"Bukan ... bukan aku!" jawabnya serak, matanya pun sudah fokus ke arah yang lain.
'Sialll!! Gadis ini kenapa sek siih kalau begini! Sialll!'
"Apa mereka?" tebak Hanum dengan kesadaran yang tersisa.
Gadhi mengangguk, kemudian tangannya mulai berkelana, membuat Hanum mengeliat karena tidak tahan.
__ADS_1
"Lalu ... bagaimana ini?" Hanum meremass kain seprai, tidak tahan ketika bibir Gadhi sudah mulai sampai pusarr. Ya, pria itu mengabsen jengkal demi jengkal dengan bibirnya. Membuat Hanum mabukkkk kepayang. Dia sepenuhnya sudah oleng! BERSAMBUNG