Crazy Rich

Crazy Rich
Penuh Kasih


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 89


Oleh Sept


"Ma ... Maaa!" suara munggil dan khas anak kecil mengetuk-ngetuk pintu dan memanggil sang mama.


Arjuna kecil yang baru berusia 4 tahun itu terbangun tengah malam ketika kedua orang tuanya sedang sibuk.


"Mama ..." Arjuna kecil merengek, ia merajuk sambil menendang pintu kamar orang tuanya.


Mendengar suara anaknya menangis, Hanum langsung mendorong tubuh suaminya.


"Bentar, Arjun bangun."


"Ish ... Arjunaaa .... Papa kan tinggal dikit lagi!"


Bukkkk ....


Gadhi langsung lemas, karena putranya datang di waktu yang kurang tepat. Sedangkan Hanum, ia langsung memakai jubah tidurnya dan menyalakan lampu.


KLEK


Begitu ia buka pintunya, Arjuna langsung merentangkan tangan minta digendong.


"Anak Mama, kenapa? Kok nangis?"


Arjuna kecil hanya menyandarkan kepala di leher sang mama. Tidak mau tidur sendirian malam ini.


"Arjun balik kamar ya, Papa temenin?" tawar Gadhi agar putranya tetep tidur di dalam kamarnya sendiri.


Arjun menggeleng pelan.


"Mau bobo sama mama!" cetus Arjun kecil kemudian melingkar lengannya pada leher Hanum.

__ADS_1


'Astaga anak ini ... Papa besok seminggu gak di rumah ... ampun deh.'


Gadhi kemudian berbisik pada Hanum.


"Tidurin dulu, ya. Jangan lama-lama."


Hanum mengangguk kemudian meninggalkan Gadhi di kamar seorang diri.


Kamar anak-anak


Hanum menemani Arjun sampai anak itu tidur, tapi saat ia akan keluar kamar, Arjun kembali memanggil.


"Arjun takut, Ma. Ada moster!" celoteh anak kecil itu.


'Sepertinya dia mimpi buruk!' batin Hanum kemudian membelai dan memeluk putranya lagi.


***


Dua jam kemudian


Kriet ....


Ia membuka pelan pintu kamar anak-anak. Dilihatnya Hanum malah sudah tidur.


"Sayang ... bangun," bisik Gadhi agar anaknya tidak ikut bangun.


Hanum mengerjap, ia tidak sadar kalau ketiduran. Ia juga cukup kaget ketika Gadhi membopong tubuhnya. Mereka berdua kembali ke kamar mereka sendiri.


Dengan hati-hati Gadhi menaruh Hanum di atas ranjang yang besar itu. Sambil menepuk pipi Hanum lembut, karena Hanum malah tidur lagi.


"Hanum ... ayolah. Tega bener sama aku. Aku nanti lama loh perginya .... Hanum ... sayang."


"Hemm ... ngantuk."

__ADS_1


"Aku buatin kopi, ya?"


Hanum tersenyum tipis, kemudian meraih guling.


"Habis pulang aja, ya. Ngantuk banget."


"Mana bisaaaa!" protes Gadhi keras.


"Anggap aja pas akunya datang bulan," jawab Hanum masih dengan mata tertutup.


"Itu beda donk. Hanum ... jangan gini. Tega banget."


Hanum yang mengantuk mencoba membuka mata lebar-lebar.


"Pengen banget, ya?"


Gadhi langsung sumringah, ia mengangguk semangat.


"Ya udah, habis pulang aja. Malah enak."


"Hanummm!"


Hanum yang menggoda suaminya langsung terkekeh, meski sangat mengantuk. Untung sekali ia rajin olahraga bersama madam Li, jika tidak, tubuhnya akan sakit semua. Karena hampir setiap hari Gadhi membolak-mbalik Hanum. Tidak sekali duakali. Kadang bisa 3 kali.


Entah jamu apa yang diminum suaminya itu, kenapa selalu bersemangat kalau menjurus ke hal-hal seperti itu. Tapi tidak apa-apa. Hanum pun menyukainya, karena Gadhi memperlakukan dirinya dengan sangat lembut.


Kalau paginya bangun tidur dan capek, pria itu tidak segan-segan membopong Hanum untuk berjalan ke kamar mandi. Membantu mengeringkan rambut, membantu menemani anak-anak bermain sebelum ke kantor, pokoknya Gadhi suami idaman.


Sudah kaya, ganteng, perhatian dan penyayang. Entah kebaikan apa di masa lalu, yang jelas Hanum merasa mendapat berkat yang banyak dari langit, keluarga yang hangat dan sangat-sangat penuh kasih.


Sampai tumpah-tumpah, seperti sekarang ini. Ada yang tumpah tapi bukan air.


Sambung besok lagi ya extra chapter-nya. Hehehe ...

__ADS_1



__ADS_2