Crazy Rich

Crazy Rich
Tersinggung


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 24


Oleh Sept


"Apa yang terjadi padanya?"


Mata Hanum terbelalak, ia perlahan mendekati bathtub besar dengan penuh es di dalamnnya.


"Tuan Muda dalam masalah, sepertinya ... emm!" Kata-kata madam Li terhenti ketika sekretaris Jo ikut masuk.


Pria itu masuk dan langsung menatap Hanum dan madam Li secara bergantian.


"Tuan Gadhi tidak mau ada yang tahu masalah ini, pernikahan sudah di depan mata. Ini pasti sebuah jebakan, tapi Tuan meminta agar merahasiakan semua ini. Jika saya bawa pulang, pasti Nyonya Geni akan murka. Untuk ke hotel pun banyak kamera CCTV. Terpaksa saya bawa ke sini. Madam Li ... Kali ini tolong rahasia dari tuan besar. Sebab ini permintaan tuan Gadhi."


Hanum dan madam saling melempar pandangan. Keduanya masih shock.


"Memangnya dia kenapa? Kenapa harus direndam air es seperti itu? Jebakan apa memangnya?" tanya Hanum sangat teliti.


"Sepertinya obat pe rang sang, Nona!" sela madam Li.


"Hah? Apa? Siapa yang berani melakukan itu padanya? Apa dia tidak takut?" Hanum menatap Gadhi yang sudah basah kuyup di dalam bathtub. Matanya terpejam, tapi Hanum tahu Gadhi mendengar pembicaraan mereka semua.


"Nona tidak usah tahu, yang jelas ini Tuan Gadhi harus ditangani," sela madam Li sekali lagi.

__ADS_1


"Saya sudah panggil dokter, sebentar lagi dokter akan ke sini." Sekretaris Jo kemudian menambah lagi balok-balok es ke dalam bathtub.


"Sekretaris Jo! Kau bisa membuatnya mati karena membeku!" ucap Hanum yang lama-lama kasihan pada Gadhi yang sepertinya mulai menggigil.


"Tidak apa-apa Nona, ini jalan satu-satunya. Sebab tuan muda tidak boleh melakukan hal tersebut."


Madam ikut membantu memasukkan balok es ke dalam air.


Hanum menelan ludah.


"Tapi dia bisa mati."


Sekretaris Jo menggeleng.


"Fisik tuan muda sangat kuat, dari pada melakukan larangan kakek. Ini yang terbaik!" ujar sekretaris Jo yang sepertinya hafal betul dengan peraturan-peraturan di dalam keluarga Mahindra Prakash tersebut.


"Tuan ... apa sudah baik-baik saja?"


Gadhi membuka matanya, pandangannya buram. Matanya pun memerah, Hanum yang sempat bertatapan langsung memalingkan wajah. Tatapan Gadhi tidak biasa, membuat Hanum bergidik ngeri.


"Sepertinya cukup, sambil menunggu dokter tiba. Kita pindah dulu Tuan Gadhi ke kamar. Kalian bisa keluar, biar tuan Gadhi ganti pakaian. Madam Li, tolong siapakan baju tuan," titah sekretaris Jo.


Madam mengangguk dan keluar, Hanum pun ikut mengekorinya. Entah mengapa ia merasa takut kalau melihat Gadhi. Matanya tadi membuatnya ngeri-ngeri sedap.

__ADS_1


Sesaat kemudian


Sekretaris Jo memapah tubuh Gadhi yang menggigil. Pria itu dengan bantuan sang sekretaris akhirnya bisa istirahat di atas ranjang.


"Tuan ... apa Tuan baik-baik saja?" tanya sekretaris Jo memastikan.


"Mana mungkin aku baik-baik saja!" ucap Gadhi sambil menahan segala sesuatu yang terasa bergejolak dan membakar. Sudah berendam air es, tapi tidak mampu meredam gelora jiwanya yang berkobar.


Pria itu sangat tersiska, tapi tidak bisa melakukan apapun.


"Kenapa dokternya lama sekali?" protes Gadhi masih sambil menggigil.


"Sedang di jalan, Tuan."


Tap tap tap


Madam Li masuk, dia membawa minuman khusus. Mungkin bisa meredam hawa panas dalam diri Gadhi.


"Hanum ... di mana dia?" tanya Gadhi dengan bibir bergetar. Pria itu sepertinya memang kebanyakan berendam air es.


Madam Li menoleh ke arah sekretaris Jo, keduanya saling melempar pandangan.


"Tidak boleh, Tuan."

__ADS_1


Ucapan sekretaris Jo tersebut langsung mendapat tatapan tajam dari Gadhiata Ratama Prakas.


"Siapa yang ingin melakukannya?" sentak Gadhi tersinggung. BERSAMBUNG


__ADS_2