Crazy Rich

Crazy Rich
Accident


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 16


Oleh Sept


Selama ini ia memang sering sekali direndahkan. Dihina dan dikatakan macam-macam oleh orang di luar sana. Tapi baru kali ini Hanum merasakan telinganya jadi sangat panas. Hanya karena mengambil sepotong kue, pria itu berani mengatai dirinya sebagai pencuri.


'Akan aku buat nanti kamu menyesali kata-katamu!' batin Hanum kemudian menutup pintu kulkas.


"Maaf, siapa yang anda bilang maling?" tatap Hanum kesal.


"Sudah mengambil sesuatu sembunyi-sembunyi lagak seperti pencuri, masih bisa menatap dengan berani sekali?"


"Pencuri? Aku bayar jika anda keberatan makanan ini aku makan!" ketus Hanum yang memang dari pertama tidak suka dengan Gadhi.


Pria itu dari awal memang terkesan menyebalkan bagi Hanum. Sosok pria yang sok sempurna hanya karena memiliki segalanya. Dan Hanum tidak menyukai sosok seperti itu.


"Kau bahkan sekarang sudah keluar dari kantormu. Simpan saja uangmu. Dan lagi ... kau pasti suka, iya kan? Bisa masuk dalam keluarga kami?" tuduh Gadhi.


"Terserah ANDA, pikirkan apa yang memang anda mau pikirkan!"


Hanum langsung meninggalkan Gadhi di dapur, dekat-dekat dengan pria itu hanya membuat darahnya naik. Gadhi sangat menyebalkan, apa-apa yang dikatakan pria itu pasti terasa gatal di telinganya.


Melihat Hanum pergi, Gadhi menggeleng pelan.


"Kakek, kali ini pilihan kakek salah. Bagaimana bisa kakek memilihnya? Dia bahkan tidak punya sopan santun," gerutu Gadhi kemudian mengambil sebotol air mineral dalam kulkas. Ia minum sambil berdiri karena kesal, hingga akhirnya malah tersedak dan batuk-batuk.


"Ish ... sialll!"


***


Matahari bersinar sangat cerah, cahayanya terasa hangat menembus kulit Gadhi yang masih terlelap.


Srekkkk ...


Kakek menarik korden jendela kamar Gadhi agar cucunya itu cepat bangun.


"Gadhi! Bangunlah!" titah kakek Mahindra.


Gadhi yang masih mengantuk, memiliki malah memeluk guling.


"Gadhi! Bangunlah ... matahari sudah meninggi. Kebetulan kau di sini. Mari Kita ke danau."


Gadhi mengusap wajahnya, "Kakek saja. Aku masih mengantuk."

__ADS_1


"Lalu untuk apa kau ke sini kalau hanya untuk pindah tidur?" sindir Kakek Mahindra.


Gadhi langsung bangun dengan malas. "Memangnya mau ngapain di danau, Kakek?" tanyanya dengan nada protes.


"Mau apa lagi? Cepat. Kakek tunggu setengah jam. Hanum dan mamamu sudah menunggu."


"Mama?"


"Ya, pagi-pagi dia sudah tiba di sini. Entahlah, mamamu itu memang kurang kerjaan."


Gadhi hanya memijit pelipisnya. Kalau sang mama dikatakan kurang kerjaan oleh sang kakek, itu juga sama artinya dengan dirinya. Jauh-jauh ke sana tidak jelas. Benar-benar keduanya sama-sama kurang kerjaan.


"Cepatlah! Kakek tunggu di depan."


"Hemm!" jawab Gadhi malas. Tapi setelah kakeknya keluar, pria itu langsung mandi dan bersiap.


Di dalam lemari itu, sudah banyak pakaian miliknya yang tersimpan. Memang mereka kadang rajin ke sana hanya untuk sekedar berkuda atau melepas penat. Jadi pakaian ganti miliknya di sana sudah lebih dari cukup.


Pagi ini Gadhi memilih setelan kaos poloo dengan kera warna hijau. Celana pendek hitam di atas lutut. Sehingga membuat bulu-bulu kakinya terlihat jelas, makin macho dan cukup manly.


Sudah siap, Gadhi pun menyusul mereka semua. Dilihatnya malah semua orang sudah naik mobil masing-masing. Kakek satu mobil dengan Geni, mama Gadhi.


"Kamu satu mobil sama Hanum!" titah Nyonya Geni.


Gadhi hanya melirik Kakek, dan pria itu malah mengangguk.


"Geser!" titah Gadhi pada Hanum yang duduk di tengah.


"Masih ada bangku kosong, kenapa duduk di sini? Duduk saja di depan!" protes Hanum karena Gadhi datang-datang sudah galak. Ia paling malas duduk di samping orang yang suka marah-marah.


"Hey! Ini mobil siapa? Jadi tolong tahu diri!"


Sekretaris Jo hanya menundukkan wajahnya di balik kemudi. Sebenarnya ia ingin tertawa. Sebab baru kali ini ia melihat Gadhi seperti anak kecil yang selalu ribut dengan Hanum.


'Bagaimana nanti kalau mereka menikah? Apa akan perang duniaa selalu?' batin sekretaris Jo.


Sementara itu, Hanum yang jengkel karena ucapan Gadhi, ia pun mau pindah ke kursi paling belakang.


"Kau mau aku dimarahi Kakek?" celetuk Gadhi.


"Kalau tidak mau kakek marah, tolong jangan mengusikku!" ujar Hanum kemudian.


"Mengusik? Hei ... hei! Garis bawahi Hanum gadis udik! Kamu yang mengusik keluarga kami! Entan datang dari mana tiba-tiba harus menikah dengan wanita sepertimu! Cih!!!"

__ADS_1


"Wanita sepertiku? Memangnya aku wanita seperti apa?" tantang Hanum yang memang lagi M. Jadi dia sangat sensitive sekarang ini.


"Waniat tidak tahu tempatnya!" ucap Gadhi spontan.


Hanum menghela napas panjang, kemudian langsung pindah kursi belakang tanpa turun.


"Sudah! Tempati itu tempat yang luas itu!" celetuk Hanum.


Hanum pikir tempat yang dimaksud Gadhi adalah kursi tempat duduk. Padahal bukan, bukan tempat itu yang Gadhi maksud.


'He, pria sombong. Aku paham betul tempatku. Aku harap tetaplah dingin seperti ini. Jika tidak ...' Hanum menggeleng pelan. Kemudian memilih menatap ke jendela.


Rupanya Hanum tahu dan paham makna ucapan Gadhi. Hanya saja, ia pura-pura tidak mengetahuinya.


Sementara itu, mobil tetap terus melaju. Meninggalkan area peternakan. Mereka sekarang menuju danau hijau. Danau di mana airnya terkenal dengan warna hijaunya yang alami.


"Sudah sampai, Tuan ... Nona."


Keduanya pun langsung keluar, Hanum seperti baru melihat tempat yang indah. Mulutnya terbuka menatap suguhan alam yang sangat menakjubkan tersebut.


"Cantik banget!" seru Hanum berkali-kali.


"Norak!" celetuk Gadhi pelan. Membuat Hanum menatapnya kesal.


"Kenapa?" tanya Gadhi yang dilirik oleh Hanum dengan tajam. Ia jadi terganggu dengan tatapan seperti itu. Berani sekali Hanum menatapnya begitu.


"Kamu memang norak!" tambahnya membuat Hanum kesal.


Tidak mau mendengar kata-kata usil Gadhi. Hanum memilih menjauh. Ia tidak ingin Gadhi merusak keindahan alam di sana.


"Hei ... mau ke mana kau!" teriak Gadhi yang melihat Hanum melangkah menuju jembatan kayu yang terbentang di atas danau. Kayunya sedikit lapuk dan rapuh, mungkin karena sering kepanasan dan terkena air hujan.


Dari jauh, madam Li langsung menghampiri Hanum.


"Nona, jangan ke sana berbahaya."


Hanum menoleh, kemudian malah ingin melihat danaunya dari atas jembatan.


"Sebentar, hanya sebentar."


Hanum pun melanjutkan langkah kakinya, dan beberapa langkah kemudian terdengar suara kayu yang patah.


Brukkkkk ....

__ADS_1


BYURRRR ....


Bersambung


__ADS_2