
Crazy Rich Bagian 53
Oleh Sept
"Ma ... Mama!"
Gadhi langsung memapah tubuh sang mama yang hampir oleng karena kata-katanya.
"Singkirkan tanganmu dari Mama!" sentak Nyonya Geni. Ia masih bisa marah padahal kepalanya sudah nyut-nyutan.
"Biiikk ... bibik!" terbaik Nyonya Geni.
Karena banyak Art yang sedang menguping, dengan cepat mereka pun langsung masuk. Membuat Nyonya Geni semakin marah. Ia menepis tangan Gadhi lalu keluar kamar Hanum dengan gaya arrogant.
Selepas kepergian sang mama, Gadhi langsung mendekati Hanum.
"Jangan masukin omongan mama."
Hanum melirik kemudian duduk di sofa yang ada di sekatnya. Gadhi hanya menghela napas panjang, lalu memanggil madam Li.
"Madam!"
Tap tap tap
Baru dipanggil madam Li langsung muncul.
"Iya, Tuan muda."
"Siapakan semuanya, lebih baik Kita berangkat sekarang," titah Gadhi yang ingin segera meninggalkan rumah. Hanum tidak boleh tinggal lama-lama di sana. Nanti malah akan semakin terluka.
"Baik, Tuan!"
Madam pun memeriksa semuanya yang memang sudah disiapkan. Perutnya pun sudah beres karena minum obat yang paling mahal dan terbaik.
"Aku tidak mau ikut denganmu," ucap Hanum tiba-tiba.
Hal itu membuat madam Li berhenti melakukan persiapan. Ia kemudian memperhatikan ekspresi sang tuan muda.
"Aku akan memaksa!" cetus Gadhi tegas.
"Kamu tidak mendengar? Aku gak mau ikut!"
"Hanummm! Jangan membuatku jengkel!" Pria itu mendengus kesal.
"Aku? Ingat ini pernikahan kontrak. Ibumu yang bilang. Jadi jangan pernah lagi mendekatiku!"
"Aku bilang jangan denger kata mama! Yang menikah itu aku bukan mama!"
'Aku gak akan tertipu akal bulusmu tuan muda! Kau hanya mau ambil keuntungan dariku. Setelah aku hamil dan kau mendapatkan keturunan serta semua warisan kakek. Kau akan melakukan rencanamu semula. Dasar pria brengsekkk!'
Hanum mendesis, ia juga kesal dengan semua ini. Ia muak, karena tubuhnya hanya dijadikan alat, ya alat untuk mendapat warisan.
"Pokoknya aku gak mau ikut. Kalau kamu mau pergi ... pergilah."
Hanum yang memang sudah berpakaian rapi, langsung menarik tas kecil lalu keluar dari kamar itu dengan emosi.
"Hanum! mau ke mana kamu?"
Suara derap kaki beradu, Gadhi menyusul Hanum yang mau pergi dari rumahnya. Gawat kalau Hanum marah.
"Jangan mengikutiku!" sentak Hanum marah.
"Kau mau ke mana? Jangan konyol. Cepat kembali!" Gadhi menarik lengan Hanum. Tapi Hanum malah menepis dan langsung berlari lagi.
__ADS_1
Begitu dari jauh ia melihat mobil taksi warna biru, Hanum langsung melambai tangan.
"Berhenti!"
"Hanum!" Gadhi menyusul. Ia tutup kembali pintu mobil itu.
"Jangan Ikuti aku!"
"Jangan macan-macam! Kalau tidak ...!"
"Kalau tidak apa? Kau hanya anak manja yang bersembunyi di bawah ketek ibumu!" tukas Hanum kasar. Mungkin emosi karena terbawa suasana akibat ucapan Nyonya Geni di dalam tadi.
Gadhi memejamkan mata rapat-rapat, ia kemudian membuak pintu taksi untuk Hanum.
"Masuklah!" titahnya dengan muka serius. Rahangya mengeras, sepertinya Gadhi marah.
"Aku bilang masuk!" kali ini nadanya sangat tinggi. Membuat Hanum bergidik.
'Pria aneh! Apa kau marah karena kata-kataku?' batin Hanum kemudian masuk.
Setelah Hanum masuk, Gadhi langsung putar arah. Ia mengitari Mobil dari depan. Kemudian membuka pintu sambil.
"Jalan, Pak!" titahnya sambil duduk tepat di jok belakang bersama Hanum.
'Kenapa dia ikut?'
"Baik, Tuan."
Mbrem ...
WUSHHHH ...
Mobil pun mulai melaju, memasuki jalan besar yang amat ramai.
"Berhenti di hotel terdekat!" cetus Gadhi dengan pandangan lurus ke depan.
'Hotel! Sialll! Kau selalu begitu!' Hanum menoleh, menatap kesal pada suaminya.
"Turun di sini, Pak!" ujar Hanum tidak mau dibawa ke hotel.
"Berani kau turun, akan kubuat kamu menyesal!" ancam Gadhi.
Seketika Hanum menelan ludah. Sepertinya Gadhi serius dengan ucapannya. Apalagi tangannya sudang mencekam pinggangnya.
'Kenapa kau menyeramkan sekali? Bukankah semalam sudah?' Hanum langsung lemas.
"Sudah sampai, Tuan."
Gadhi melirik argo.
"Bayar taksinya. Aku tidak bawa dompet."
Hanum mendongak, menatap wajah suaminya yang menjengkelkan itu. Lalu kenapa ke hotel segala kalau tidak bawa uang? Tidak bawa kartu tidak bawa apapun. Astaga.
"Jalan lagi, Pak. Cari hotel yang lebih murah!"
Kali ini Gadhi yang tertegun.
"Kamu tidak bawa uang?"
"Aku tidak akan menghabiskan gajiku berbulan-bulan hanya untuk menginap semalam di hotel itu!" Hanum menunjuk hotel bintang tujuh di sampingnya.
"Kau pelit sekali. Nanti aku ganti!" gerutu Gadhi.
__ADS_1
Hanum tidak peduli, baginya uang itu tidak untuk dihamburkan-hamburkan.
"Aku bisa telpon sekretaris Jo sekarang!" bujuk Gadhi.
"Turun saja jika tidak mau ikut!"
Gadhi langsung medesis.
Hotel Romera Glad
"Aku bisa hubungi sekretaris Jo sekarang!" Gadhi berbalik tidak mau check in di sana. Karena bukan kelasnya.
"Pergilah ... jangan kembali. Silahkan nikamati pelayaranmu sedari!"
Hanum lalu mengeluarkan identitas miliknya, kemudian mendapat kunci kamar.
'Lebih baik tinggal di sini sampai kakek kembali. Dari pada harus mendengar makian dari Nyonya kaya raya tersebut!'
Hanum langsung naik lift, dan saat lift akan tertutup, Gadhi mengulurkan tangan. Akhirnya ia ikut.
Keduanya berjalan dengan sok-sokan. Dan begitu masuk kamar, ada aroma canggung yang langsung menyerbak.
'Aku Kita dia takut aku bawa ke hotel! Rupanya dia malah nantang. Hanum ... kamu tidak sepolos yang aku Kita. Kamu memang beruang liar!'
'Tuan muda, kau terbiasa makan dengan sedok emas. Hingga keluargamu sangat mudah menilai sesuatu dari materi. Kita lihat, seberapa lama kamu bertahan denganku di sini. Kamarmu tidak seperti ini kan? Akan aku buat menyesal karena sudah membawaku ke hotel!'
"Baiklah ... hari ini kita menginap di sini. Aku tahu kamu terluka dengan ucapan mama."
"Jangan kuatir, apa yang mamamu katakan benar."
"Hanum ... aku tahu kamu marah, marah saja. Jangan mengatakan semua tidak masalah."
"Kamu mau aku marah? Ya ... aku marah! Marah sekali padamu!"
"Bagus ... katakan saja. Aku bisa terima kalau kamu marah!" Gadhi mencoba merayu. Ia menyibak rambut Hanum yang menutupi sebagian kening.
'Kau hanya mau tubuhku saja!' batin Hanum marah.
Ia beringsut, berjalan mundur menjauh dari sentuhan tangan Gadhi.
"Kau hanya ingin aku cepat-cepat hamil dan membuangku, kan?" tuduh Hanum dengan sorot amarah yang menghujam.
"Omong kosong ... bagaimana bisa aku membuangmu?"
CUP
Untuk menenangkan ombak prasangka dalam hati Hanum, Gadhi langsung menunjukkan bukti kongkrit. Ya, ia lantas menyelami rongga-rongga tersebut. Menyatukan saliva, menciumm Hanum sangat dalam. Hingga wanita itu yakin, bahwa dirinya sudah seperti candu. Bagaimana mungkin membuangnya?
"Perjanjian itu batal!" bisik Gadhi kemudian menyesap lagi jengkal demi jengkal, tidak ada yang terlewati. Hanum miliknya, tidak peduli wanita itu masih meragu. Yang jelas, Hering sudah terlanjur menginginkan Hanum. Ya, perjanjian pernikahan mereka batal.
"Apa aku bisa percaya?" Hanum belum luluh. Jelas masih ada keraguan. Mana mungkin dia langsung percaya dengan buaya seperti Gadhi.
"Lalu kamu mau bukti apa lagi?" Gadhi langsung membopong Hanum. Dan langsung meletakkan di atas ranjang.
Hanum memalingkan wajah, saat Gadhi mulai aksi gilanya. Melepaskan semua yang ada. Dasar gak pernah puas. Semalam sudah!
BERSAMBUNG
Kamar seadanya pun jadi. Dari sini Hanum mulai mengerjai suaminya yang sok cool tersebut. Dari menyuruhnya selfi sampai memakai pakaian yang bukan gayannya.
Demi ayang ... ego pun bisa ditepis. Ayang!!! Prett!
__ADS_1