
Crazy Rich Bagian 50
Oleh Sept
'Mau ke mana lagi? Putra mama tidak seperti yang mama bayangkan!' desis Hanum kesal dalam hati.
Hanum sangat paham jika sang mertua tidak menyukai dirinya. Mulai awal datang ke rumah itu, saat malam hari bersama Kakek Mahindra. Ia sudah tahu akal bulus ibu dan anak tersebut. Keduanya merencanakan akan menendang Hanum saat mereka sudah mendapatkan warisan dari kakek.
Tiba-tiba jika ingat itu, Hanum jadi sebal. Wanita itu pun mempercepat langkah kakinya. Meninggalkan Gadhi yang ditahan oleh sang mertua.
"Kamu mau ke mana?"
Nyonya Geni mendekati Gadhi. Diamatinya ekspresi Gadhi yang menurut Nyonya Geni sangat aneh.
'Mama pasti akan lebih menyiksa Hanum jika tahu kejadian yang sesungguhnya,' pikir Gadhi dalam hati.
"Hanya mau memastikan kamarnya apa layak pakai. Jika kakek tahu dan Tiba-tiba utusannya memeriksa ke sini. Mama juga yang akan kerepotan!" kelit Gadhi mencari alasan.
"Oh ... kirain. Ya sudah. Habis ini kita perlu bicara. Mama mau bahas hal penting sama kamu."
"Hem!"
***
Kamar tamu, Hanum langsung merebahkan tubuhnya. Sebelum berangkat berlayar besok, ia ingin istirahat dulu. Ingin tidur saja, tapi tiba-tiba ingat ia sedang tinggal satu atap dengan mertua.
Huffff
Wanita itu menghela napas panjang, tapi tubuhnya juga sakit semua. Mungkin karena kecapekan, Hanum malah ketiduran saat madam Li tiba di rumah itu.
Dengan telaten madam Li mengurus barang-barang Hanum. Sambil merasa jengkel. Akan tetapi tidak bisa melapor pada tuan besar yang sekarang menuju New Delhi.
'Kenapa Nona disuruh tidur di kamar tamu? Meskipun banyak kamar, dan kamar ini cukup luas. Tapi kan Nona ini istri pemilik rumah. Astaga! Kalau tuan besar tahu, beliau bisa geram!'
Madam mendengus kesal.
'Dan lagi ... kenapa nona Hanum diam saja, kenapa tidak minta satu kamar dengan tuan muda?'
Lagi-lagi madam hanya bisa mengerutu dalam hati.
Beberapa saat kemudian
Gadhi sudah bicara dengan sang mama, Nyonya Geni mewanti-wanti Gadhi agar tidak macan-macam dengan Hanum. Ia mengingatkan rencana awal semual. Berharap Gadhi tidak lupa.
__ADS_1
Gadhi masih pura-pura, meskipun Nyonya Geni merasa ada yang salah dengan tingkah putranya itu. Tapi Nyonya Geni yakin, Gadhi tidak akan terpengaruh oleh gadis udik seperti Hanum. Toh mantan Gadhi lebih dari Hanum. Lebih cantik, lebih sek sih, lebih berpendidikan, lebih terhormat, terpandang, keluarganya jelas dan mereka satu pandangan, penyuka barang branded.
Jelas Hanum jauh berbeda, siapa itu Hanum? Meski penampilan diubah, tidak akan merubah hakikat Hanum di matanya tetap sama. Hanya gadis miskin yang tidak boleh dekat-dekat keluarga mereka yang kaya sejak lahir tersebut. Sungguh tidak level.
"Ingat pesan Mama, Gad!"
"Hemm!"
"Ya sudah ... kamu boleh istirahat. Mama juga masih ada hal yang perlu Mama urus."
Gadhi menahan napas panjang setelah bicara pada sang mama. Mungkin ia merasa terjebak pada situasi yang ia ciptakan sendiri.
Hingga sampai sore menjelang, ketika langsung sudah berwarna jingga merata. Dilihatnya sang mama keluar dengan sopir. Kebetulan, Gadhi pun langsung ingin menemui Hanum. Sosok yang sudah membuatnya oleng beberapa malam terakhir.
Tok tok tok
Tangannya yang dipenuhi bulu-bulu lembut, mengetuk papan kayu tebal dengan pelan.
"Hanum! Ini aku!" ucapnya kemudian saat tidak dibukakkan pintu.
Di dalam kamarnya, Hanum sedang rebahan. Ia baru bangun beberapa menit yang lalu. Tubuhnya terasa kembali fresh, tidur yang lumayan lama cukup membuat Hanum kembali tampak segar.
Tok tok tok
Ia kemudian malah meraih guling kemudian memeluknya. Tidak peduli pada ketika pintu yang ia dengar.
KLEK ... KLEK ...
"Ish!"
Hanum mendesis kesal, kemudian pura-pura menutup mata. Sambil merutuki suaminya itu.
'Ini kan rumahnya, sudah pasti dia punya kunci cadangan!'
Hanum semakin merapatkan mata, saat terdengar derap langkah yang medekat ke arah ranjang.
"Masih tidur rupanya?"
Gadhi kemudian membungkuk, mengusap dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Hanum.
"Sudah jam berapa ini? Apa kamu ingin tidur sampai ketemu malam lagi?" gumam Gadhi.
Pria itu kemudian duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Apa yang harus aku katakan pada mama? Aku harus menijilaat ludahku sendiri. Pasti mama akan Shok," ucapnya lirih sambil tersenyum miris.
Ya, dia harus menelan sumpah dan ucapannya sendiri mulai sekarang. Bagaimana tidak, ia sudah tidak bisa jauh dari pemilik sarang Hering tersebut.
KLEK
Tiba-tiba pintu terbuka, Gadhi buru-buru bangun karena terkejut. Tidak tahunya yang datang hanya madam Li. Seketika ia duduk kembali dengan lega. Gadhi sudah seperti maling ayam yang takut dimasa warga.
"Maaf, Tuan."
Madam langsung berbalik dan hendak pergi lagi. Ia tidak tahu jika di dalam kamar ada tuan muda.
'Hampir saja! Untung mereka sedang tidak melakukan apa-apa. Ya ampun!'
Madam Li ngeri jika sampai memergoki keduanya aneh-aneh di depannya. Lagian pintu kamar sudah tidak dikunci, ia kira Nona Hanum sudah bangun.
'Tapi kenapa tuan muda ke sini? Apa karena Nona besar sudah pergi? Astaga!! Pria macam apa itu? Ish!" Madam Li malah jadi kesal sendiri.
Ia ngomel-ngomel dalam hati kemudian bertemu sekretaris Jo yang sedang sibuk dengan computer-nya di ruang tamu.
"Mau aku bikinkan teh?"
"Tidak terima kasih!" Sekretaris Jo mengangkat segelas kopi, ia bukannya menolak, tapi memang sudah ada minuman yang tersedia.
***
Kamar tamu
"Kenapa tidak bangun-bangun? Aku rasa kamu sudah cukup tidurnya!" gumam Gadhi.
'Aku tidak akan bangun selama kau ada di sini!' jawab Hanum dalam hati, sebab ia masih pura-pura memejamkan mata.
Gadhi kemudian menatap jam dinding, lalu melihat pergelangan tangannya. Tidak ingin menganggu Hanum yang sedang lelap, akhirnya ia putuskan untuk meninggalkan kamar tersebut.
Pria itu melangkah baru beberapa meter, tapi langsung berbalik.
CUP ...
"Istirahatlah ... tapi nanti malam jangan tidur!" bisik Gadhi.
BERSAMBUNG
IG Sept_September2020
__ADS_1
Fb Sept September