
Crazy Rich Bagian 47
Oleh Sept
Benar-benar bukan bacaan yang nyaman untuk dibaca yang masih belum memiliki KTP ataupun belum menikah. Jadi mohon untuk dilewati saja.
***
Kawasan Rawan Gempa
...
'GADHI!!! Dia mulai lagi?' teriak Hanum dalam hati, mulutnya terkunci rapat karena Gadhi sudah membuatnya tidak bisa bicara lagi. Bagaimana mau bersuara, bibir pria itu sudah menghalangi aksesnya untuk berbicara.
Lidahnya yang lunak memaksa masuk, menciptakan sensasi dingin tapi lembut. Menyelami rongga-rongga yang ada di dalam sana. Ia mencoba mengigit suaminya, tapi pria itu malah membalas. Hanum benar-benar sudah kalah. Jika terus melawan, sudah pasti ia yang akan terluka. Sepertinya pemaksaan jilid dua.
Dukkkk ....
Hanum membenturkan kepalanya, Gadhi meringis menahan sakit. Tapi tidak mau melepaskan. Tangannya kemudian mencengkram kedua pergelangan tangan Hanum. Melepaskan segitiga biru dengan desain aneh itu memakai gigi.
"Apa yang kamu lakukan! Lepaskan aku ... atau aku akan teriak!" acam Hanum panik.
__ADS_1
"Mau teriak? Teriak saja. Siapa yang akan peduli teriakan di kamar pengantin baru?" ancam Gadhi. Pria itu balik mengancam Hanum yang terlihat sudah terpojok.
Yakin Hanum tidak akan teriak, Gadhi langsung saja melahap apa yang sejak tadi membuatnya tegang.
"Gaddd!"
Hanum mengeliat, ia tidak tahan karena Gadhi juga melakukan hal lain. Pria itu meremas-remass sesuatu yang diciptakan bukan untuk diremass. Itu adalah wadah untuk sumber protein ketika sudah memiliki bayi.
Ya, seperti bayi. Gadhi si pemilik Hering malah kini tampak seperti bayi yang baru lahir. Ia seperti bayi kelaparan yang sudah lama kehausan. Dengan rakus dia minum dari sesuatu yang tidak keluar airnya tersebut.
"Gaddd! Stop! Atau kau akan menyesalll! Hentikan sekarang!"
Hanum mencoba melepaskan tangan satunya yang sudah lepas, kemudian mendorong kepala pria itu hingga lepas. Ia sedikit bernapas lega, sudah lepas dari cengkraman Gadhi yang bagai serigala kelaparan itu. Da danya juga terasa panas, malam ini pria itu seperti lepas kendali. Kerasukan roh halus anarkis dan mesyum.
Tapi ia menikmati semua ini, jiwanya tertangtang ketika Hanum sangat kekeh mempertahankan diri, tidak langsung menyerah saat ia begitu ingin. Ini jauh lebih menantang adrenaline pria kaya raya tersebut. Tantangan yang luar biasa.
"Kamu sudah gila!" ujar Hanum marah. Ia kemudian meraih kain selimut yang sudah tergeletak di bawa lantai dengan tangannya.
Dan ketika ia mau mengambil kain itu, begitu ia kembali ke posisi semula, Gadhi sudah duduk mendekat ke arahnya.
"Ini pelecehahhh!" protes Hanum.
__ADS_1
Gadhi hanya tersenyum sinis. Sejak kapan suami menginginkan tubuh istrinya tapi malah dikatakan pelecehahhh? Pria itu jadi geleng kepala.
"Dengar Hanum ... secara hukum, kamu sah istriku. Jadi terserah apa yang aku lakukan."
Hanum menyalak marah. "Bagaimana dengan perjanjian pra nikah! Mengapa kau melangar itu berkali-kali?"
"Perjanjian? Perjanjian yang mana?" Gadhi pura-pura lupa.
"Gadhiiii!" Hanum mendesis kesal.
"Dan lagi ... kenapa kau memakai pakaian seperti itu? Sepertinya kau memang ingin jadi istriku selamanya? Hem? Berlagak menolak ... aku pikir kamu memang polos. Ternyata aku salah," sindir Gadhi.
Dengan gusar Hanum mendorong punggung suaminya. Hampir saja pria itu terjungkal. Untung reflek Gadhi bagus, sehingga pria itu tidak jatuh.
"Dasar pria mesyumm!" maki Hanum kesal.
"Lalu kenapa kalau aku me sum?" tantang Gadhi. Pria itu kini berdiri di samping ranjang menghadap tepat ke arah Hanum.
Hanum rasanya mau pingsan, bagaimana tidak, burung Hering mencuat di antara bulu-bulu yang meresahkan. Seketika wajah Hanum langsung menghangat. Ia merinding, menelan ludah dan spontan berpaling.
Gadhi tersenyum seperti iblish. Pria itu langsung saja menaiki kudanya. Kwkwkkwk
__ADS_1
Bersambung