
Crazy Rich Bagian 90
Oleh Sept
Bonus chapter
***
"Kenapa wajahnya seperti itu, ayo senyum!"
Hanum memegang bibir suaminya, mengerakkan jarinya agar pria itu tersenyum.
"Bagaimana bisa senyum," Gadhi mengeluh kemudian meraih pinggang Hanum.
"Aku bakalan kangen banget nanti," tambah Gadhi dengan lebay, seperti remaja yang baru jatuh cinta.
"Ya ampun. Cuma beberapa hari."
Gadhi mempererat pelukannya, seolah belum mau berangkat.
"Mamaaaa!" panggil Arjuna.
Anak itu langsung menerobos masuk ke dalam kamarnya. Menarik lengan sang mama agar ikut bersamanya.
"Iya ...!"
Gadhi pun merelakan Hanum, kalau anak-anak sudah bangun, Hanum sudah menjadi milik mereka, ia pun harus mengalah.
***
Beberapa saat kemudian, Gadhi yang sudah rapi saat ini pamit pada anak-anak. Seperti biasanya, yang paling merajuk adalah yang paling bontot, si Kavi.
Ia merajuk dan tidak mau turun dari gendongan sang papa. Kavi anak paling kecil dan sangat manja. Hingga Hanum harus membujuk karena takut suaminya ketinggalan pesawat.
"Kavi, sayang ... sini ikut Mama."
Kavi kecil yang lucu dan mengemaskan, malah menggeleng kemudian membuang muka. Anak kecil itu melingkar lengannya di leher sang papa.
"Kavi ... ganteng ... sini ikut Tante."
Madam Li mengulurkan tangan, dan Kavi langsung menuntut.
"Main sama Oliv, ya?" bujuk Madam Li.
__ADS_1
Seperti dicucuk hidungnya, Kavi kecil begitu menurut dengan madam Li. Anak kecil itu pun menyambut rentangan tangan madam Li dan akhirnya mau turun.
Anak-anak pun berkumpul di playground yang luas dan nyaman di kediaman Gadhi ditemani para suster, sedangkan Hanum menyiapkan semua barang-barang yang akan dibawa oleh suaminya.
"Hati-hati," Hanum memeluk suaminya.
"Hemm! titip anak-anak ya." Gadhi mengusap wajah Hanum dan langsung mengecupp dalam.
"Miss u!" bisik Gadhi lebay.
Hanum hanya tersenyum, wajahnya merona. Belum juga pergi sudah bilang kangen, Gadhi benar-benar sudah bucin parah.
"Ehem ... Tuan, mari berangkat. Nanti kita terlambat."
Mendengar suara sekretaris Jo, Gadhi langsung masam.
"Oke!" Gadhi mengusap wajah Hanum kemudian meninggalkan istrinya itu.
"Anak-anak ... Papa berangkat dulu, ya?" seru Gadhi menatap anak-anak yang asik main.
"Iya, Papa!" jawab semuanya serempak.
Gadhi pun menoleh ke belakang, ia melambai menatap Hanum yang juga melambaikan tangan ke arahnya.
***
Selama penerbangan, Gadhi tidur sambil duduk. Ini karena semalam ia bergadang, hingga dalam perjalanan merasa kantuk yang tidak tertahan. Pria itu duduk di bisnis class, tenang dan sangat nyaman.
Tidak jauh dari tempatnya duduk, seorang executive muda dan cantik terus saja memperhatikan Gadhi yang duduk sambil tidur. Wanita itu curi-curi pandang, dan sorot matanya mengatakan bahwa ia sedikit tertarik.
"Nona, anda melihat apa?" tanya wanita berpakaian rapi di sebelah executive muda tersebut.
Wanita muda itu hanya menggeleng. Kemudian fokus pada laptop yang ia pangku. Ia tersenyum tipis saat memperhatikan profile di sebuah web.
"Sudah menikah rupanya?" gumam executive muda tersebut.
"Nona bicara apa?"
"Tidak ... bukan apa-apa. Aku hanya sedang membaca berita di media."
"Oh."
Dua wanita itu kemudian saling melempar senyum, kemudian menikmati penerbangan kembali.
__ADS_1
***
Penerbangan yang lama, hampir 20 jam lebih, membuat Gadhi bosan. Ia pun menatap sekitar, tidak sengaja malah melihat seorang wanita muda yang juga sedang menatap dirinya.
Wanita itu tersenyum ramah, sangat cantik. Masih muda dan sepertinya juga dalam perjalanan bisnis seperti dirinya. Dilempar sebuah senyuman oleh wanita cantik, tangapan Gadhi B saja. Ia malah merasa aneh dengan wanita itu. Tidak kenal tapi melempar senyum.
Hingga akhirnya baja besi itu berhenti di sebuah Bandara International terbesar di kota itu. Gadhi yang sudah menyalakan ponsel, ia pun langsung melakukan vcall.
"Hanum!" panggil Gadhi di layar ponsel sambil tersenyum saat melihat wajah Hanum bersama Kavi yang lucu. Baru sampai sudah kangen.
"Sudah sampai?" tanya Hanum sambil menjauhkan ponselnya agar Gadhi bisa melihat jelas wajahnya.
"Baru, baru saja turun. Jonathan masih mengurus barang-barang." Gadhi juga menjauhkan ponselnya agar Hanum bisa melihat keadaan di sekitar Bandara yang masih ramai tersebut.
"Ya sudah, hati-hati ya. Nanti sampai hotel telpon lagi. Arjun tadi merajuk, mencari."
"Wah ... baru juga sehari. Iya, nanti sampai hotel langsung telpon."
"Hemm."
...
"Aduhhhh!" terdengar suara seorang wanita yang mengaduh kesakitan.
"Sayang! Itu suara apa?" tanya Hanum dengan tatapan penuh selidik di dalam layar.
"Tolong bisa bantu aku sebentar?" suara wanita yang sama terdengar lagi.
Gadhi yang reflek, ia pun membantu wanita yang sempat satu penerbangan dengannya, masih dengan layar ponsel yang masih menyala.
Hanum yang merasa pertanyaan darinya tidak kunjung dijawab, dan malah melihat sosok wanita cantik. Ia pun jadi jengkel dan langsung mematikan ponselnya.
Sambung besok ya, bonus chapter tipis-tipis hehehe ...
IG Sept_September2020
Jangan lupa ikuti event bagi-bagi hampers cute dari Sept ya. Caranya cukup ramaikan "Kekasih Bayaran"
Kirim like dan komentar yang banyak, komentar terbanyak akan Sept pilih sebagai pembaca yang beruntung. Semangat!
Ada 5 hampers cute siap dikirim ke rumah ...
__ADS_1