
Crazy Rich Bagian 25
Oleh Sept
Sekretaris Jo langsung menundukkan wajah. Ketika ia menatap sekilas, ada kilat kemarahan dalam sorot mata pria bernama Gadhiata tersebut.
Lagi-lagi ia yang akan menjadi tumbal kemarahan sang atasan. Jika Gadhi kesal, pelampiasan akan selalu tertuju padanya.
"Madam Li, di mana Nona Hanum?" tanya sekretaris Jo kemudian mewakili Gadhi.
Wanita yang selalu berpakaian rapi, licin dan perfectionists itu pun mengangkat dagunya.
"Nona Hanum saya minta tetap tinggal di kamarnya."
Madam seperti menahan napas saat mengatakan hal tersebut.
"Baiklah! Tolong kalian semua tinggalkan kamar ini," pinta Gadhi.
"Tapi, Tuan ...!" Kata-kata sekretaris Jo menggantung ketika Gadhi melirik sinis.
"Kau boleh masuk jika dokternya sudah datang!"
"Baik, Tuan."
***
Kamar Hanum di D'Rose House
Hanum terlihat mondar-mandir, ia bahkan menatik kursi dan meja untuk penghalang pintu. Kemudian memeriksanya semua jendela, semua harus terkunci rapat. Itu adalah perintah madam beberapa saat lalu.
'Kenapa jadi seperti ini? Ya ampun ... apa-apaan ini?' batin Hanum. Tapi ia tetap menurut apa kata madam. Sebab ini demi keselamatan dirinya sendiri.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat jantung Hanum semakin berdegup kencang.
__ADS_1
"Aduh!"
Tok tok tok
"Nona ... ini saya!"
'Madam?' batin Hanum kemudian kembali menarik kursi dan membuka pintunya.
"Bagaimana Madam?"
Madam Li tidak menjawab dan langsung masuk kemudian mengunci pintu dari dalam. Membuat Hanum menatapnya dengan aneh.
"Demi menjaga kepercayaan tuan besar, saat ini saya akan tidur di sini."
"Apa?"
"Silahkan Nona tidur. Jangan keluar kamar dulu. Situasi di luar belum aman."
Keterangan madam Li membuat Hanum merinding, D'Rose House sudah mirip rumah hantu sekarang.
Madam menunjuk sofa panjang yang ada di sebelah rak lemari besar.
"Jangan ... ranjangnya besar. Madam bisa tidur di sini."
"Tidak, terima kasih!"
Madam Li kemudian membuka lemari dan mengambil selimut sendiri. Wanita itu kemudian berbaring sambil memeluk kunci kamar. Agar Hanum tidak keluar dari penjagaannya.
'Sebaiknya aku juga tidur!' pikir Hanum kemudian berbaring di atas ranjang yang empuk.
***
Di kamar yang lain, dokter sudah datang. Sekarang Gadhi diberikan beberapa obat suntikkan pereda atau seperti penawar dan sebagainya. Mungkin tidak bisa langsung reda, tapi setidaknya bisa mengurangi efek rasa terbakar dalam diri pria tersebut.
"Bagaimana, Tuan?" tanya sekretaris Jo kepo. Karena meski diberikan obat oleh dokter, masih saja ada yang menonjol tapi bukan bakat.
__ADS_1
Gadhi yang dalam keadaan mood yang sangat buruk, uring-uringan, kesal, pengen marah, bad mood, sedikit frustasi, ia pun meminta semuanya keluar.
"Bisa tinggalkan ruangan ini?"
Dokter kemudian menatap sekretaris Jo, dan keduanya pun berlalu. Sekretaris Jo mengangguk pada sang dokter, kemudian mereka sepakat meninggalkan Gadhi yang sedang tersiska seorang diri.
***
Di luar kamar Gadhi
"Dok, bagaimana dengan kondisinya? Apa ini obat itu cukup membantu?"
Sekretaris Jo meminta penjelasan pada dokter yang menangani Gadhi karena rekasi obat pe rang sang tersebut.
"Sebenarnya hampir tidak ada pengaruhnya, satu-satunya harus dilepaskan."
Mendengar penjelasan dokter, sekretaris Jo hanya mengaruk tengkuk lehernya.
"Apa tidak ada jalan lain? Atau harus main sendiri? Apa tidak bisa?"
Ganti dokter yang wajahnya tidak enak untuk menjelaskan.
"Sepertinya obat yang diberikan dosis tinggi, dan efek samping tidak bisa menghilang begitu saja meskipun dilepaskan sendiri. Harus ada partner agar mencapai kepuasan maksimal dan semua yang terendap bisa lepas. Jika tidak, akan menimbulkan rasa pusing, stress, emosional, dan seperti Kita lihat di dalam. Tuan Muda sangat kacau."
Sekretaris Jo hanya mengangguk, ia paham. Sebab hal seperti ini sebenarnya tidak asing. Sudah sering ia dengar. Dan biasanya juga diselesaikan dengan pelepasan bersama pasangan atau menyewa orang. Tapi ini Gadhi, si pewaris global Tourshine Groups. Tidak boleh ada scandal yang mencoreng wajah besar Tourshine tersebut.
Alhasil, mereka hanya bisa mengunci Gadhi dan Hanum di kamar masing-masing. Ya, Sekretaris Jo sekarang telah mengunci Gadhi dari luar. Ia sama sekali tidak percaya dengan Tuan mudanya tersebut. Apalagi setelah mendengar penuturan dokter. Sudah jelas dia akan ektra menjaga calon pengantin tersebut. CCTV di rumah itu merata di setiap sudut, jika kakek Mahindra tahu, semua akan dalam masalah.
***
Di dalam kamarnya, Gadhi sudah merasakan gerah yang tidak bisa ditahan lagi. Tubuhnya sudah dipenuhi keringat, meskipun ia mencoba bersolo karir, tapi gelora dalam tubuhnya malah semakin membakar dan berkobar.
Sungguh ia benar-benar tersiska. Tepatnya pukul satu malam, Gadhi sudah kepanasan dan tidak tahan, pria itu pun mencoba keluar. Gadhi berusaha mencari jalan lain untuk melepaskan rasa tersiksanya itu. Sayang, pintu malah dikunci dari luar.
"Sialll!!! Joooo!" BERSAMBUNG
__ADS_1