Crazy Rich

Crazy Rich
Murka Mama


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 52


Oleh Sept


Mendengar kasak-kusuk dari ART-nya, Nyonya Geni langsung berbalik dan mencari Gadhi.


"Kamu nipi Mama rupanya!" ucapnya geram sambil berjalan mencari keberadaan putra semata wayangnya itu. Bisa-bisanya Gadhi lunak dan terpengaruh oleh gadis udik macam Hanum. Pasti gadis itu sudah pakai jampi-jampi. Mana mungkin selera Gadhi turun drastis. Dari international menuju kearifan lokal yang sangat tradisional tersebut.


Harga diri Nyonya Geni seakan terinjak jika dapat mantu seperti Hanum. Pokoknya mereka harus dipisah. Masalah kakek Mahindra, ia akan mengatur lagi rencana baru.


Tok tok tok


"Gadhi! Gad! Buka pintunya sekarang!" teriak Nyonya Geni. Ia yang selama ini bersuara pelan anggun layaknya orang terhormat, kini berteriak seperti sedang demo.


"Mama tahu kamu di dalam! Bukak!"


KLEK


Gadhi muncul dari balik pintu, wajahnya segar. Matanya berbinar, senyum pun merekah di wajahnya yang tampan itu. Apalagi aroma shampoo menyeruak, menyerbak menyerang hidung Nyonya Geni.


"Gaddd! Mana dia ... mana? Kau sembunyikan di mana wanita itu?"


Nyonya Geni yang kesal karena melihat rambut Gadhi basah, ia pun nyelonong bergitu saja. Membuka semua pintu, kamar mandi, ruang ganti, bahkan membuka lemari-lemari besar yang ada di dalam sana.


Mungkin dia mengira Hanum bersembunyi saat mendengar teriakan wanita tersebut. Padahal, Hanum sedang berada di kamarnya. Saat dini hari tadi, ia balik ke kamarnya. Kebetulan Gadhi sudah lelap.

__ADS_1


"Mama cari siapa?"


"Wanita udik itu?"


Gadhi menelan ludah, takut Hanum mendengar. Sebab suara sang mama cukup kencang, seperti TOA masjid.


"Hanum ada di kamarnya. Mengapa Mama cari di sini? Jelas tidak ada!"


"BOHONG!"


Gadhi mendesis, sepertinya ia tidak bisa lagi menyembunyikan hubungannya dengan Hanum lagi. Apalagi ia juga tidak mau Hanum malah kabur karena perlakuan sang mama. Bisa-bisa ia kelabakan kalau malam tidak punya sarang.


"Mama tenang dulu. Duduk, Ma."


"Tidak usah suruh-suruh Mama. Ternyata kamu ... sama seperti ayahmu! Seleramu rendahan!"


Gadhi terkejut. Saat mendengar sang mama keceplosan.


"Ma ... apa maksud Mama?"


Nyonya Geni tidak mau menjawab, ia malah langsung berlalu sambil berkacak pinggang. Ngomel-ngomel seperti istri di tanggal tua


yang menunggu gajian tak kunjung turun.


"Maaa!"

__ADS_1


Gadhi ikut keluar, karena pasti sang mama akan memberi pelajaran pada Hanum. Benar saja, suara teriakan sang mama sudah menggema di rumah yang megah, besar dan luas tersebut.


"Kamu hanya istri kontrak! Jangan pernah mimpi jadi bagian keluarga kami! Lihat dirimu! Jangan seperti pungguk yang merindukan bulan!"


"Maaa!" Gadhi langsung memegangi lengan sang mama. Ingin mengajak Nyonya Geni keluar sebelum banyak kata mutiara yang keluar dan membuat Hanum kepanasan.


Hanum biasa saja, tidak ambil hati dan tidak ambil pusing. Karena dari awal ia masuk rumah ini dulu, telinganya sudah kebal. Ya, sekarang hatinya sudah sekeras batu. Seburuk apa mertua mencaci, Hanum sama sekali tidak peduli. Lihat saja nanti, Gadhi yang akan mendapat balasan. Ya, Hanum akan memakai Gadhi untuk jadi sasaran empuk.


"Jangan tarik-tarik Mama! Mama kecewa sama kamu! Astaga! Pusing kepala Mama karena ulah kalian berdua!"


Nyonya Geni memegangi kepalanya yang mendadak pusing. Ia yakin, habis ini ia harus ke dokter kecantikan. Sepertinya kerutan di wajahnya bertambah. Pusing mikirn Gadhi yang tidak bisa diatur.


"Dan kamu Gadhi! Ish ... bisa-bisanya kamu mau menyentuh wanita ini? Ya ampun!"


"MAA ... cukup!"


"Astaga! Kamu teriak sama Mama gara-gara gadis ini? Astaga ... Astaga ... kamu sepertinya bukan anak Mama yang Mama kenal!"


Semua orang terdiam mendengar pertengkaran mereka. Madam Li, sekretaris Jo dan para Art malah sibuk menguping di luar kamar.


"Mama jangan salahkan Hanum! Cukup. Dia tidak salah! Dia juga tidak menggoda Gadhi. Aku yang menginginkannya," ujar Gadhi tegas.


Seperti ada bledek yang berbunyi di atas rumah mereka, memenbus atap dan langsung ke jantung Nyonya Geni. Sedangkan Hanum, wajahnya tampak datar. Padahal Gadhi sudah membelanya. Apa Hanum masih dendam pada suaminya itu?


BERSAMBUNG

__ADS_1


'Jangan membelaku ... aku tahu kamu hanya modus. Dasar pria mes yum!'


__ADS_2