Crazy Rich

Crazy Rich
Double


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 66


Oleh Sept


"Gad ... lepasin. Aku susah napas!" ucap Hanum mencoba melepaskan lengan suaminya.


Lengan yang biasanya ia pakai untuk bantal ketika tidur bersama pria tersebut. Lengan yang selalu membuatnya nyaman saat pria itu memeluknya. Akan tetapi tidak dengan saat ini, pria itu menekan sangat kuat, membuat Hanum sedikit tidak nyaman. Apalagi perutnya sudah mulai membesar.


"Kau kejam sekali, Hanum!"


Suara itu terdengar sangat serak, berat dan pelan. Sepertinya Gadhi sedang menahan diri untuk tidak menangis.


"Gad ... kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Hanum jadi tidak enak.


"Aku tidak baik-baik saja!"


Gadhi memutar tubuh Hanum lembut, kemarin dia baru mendengar dari kakek bahwa Hanum ada di Atlanta. Hari itu juga ia terbang dari Indonesia, tidak peduli dengan apapun. Ia hanya ingin bertemu dengan Hanum.


Bahkan tadi dari jauh ia melihat Hanum tengah selfi, jantungnya hampir berhenti. Hanumnya telah berubah, perut istrinya tersebut telah membuncit. Sungguh kakek raja tega, kenapa tidak mengatakan kalau Hanum juga sedang hamil?


Gadhi mengutuk dirinya sendiri, karena tidak ada di sisi Hanum saat masa-masa awal kehamilan. Tahu-tahu perut Hanum sudah besar.


"Aku sungguh ingin marah pada kalian ... pada Kakek dan padamu, tapi ..."


Gadhi langsung membungkuk, ia usap perut itu dengan hati yang bergetar.


"Ini anakku, kan Hanum?"


Melihat mata suaminya yang berkaca-kaca, membuat Hanum tersentuh. Sudah ia bilang, papa si bayi pasti menyukainya.


"Hem ... anak siapa lagi!" Hanum mencoba bercanda, karena Gadhi terlihat kalut sekali.


"Tega banget kamu sama aku, Hanum ....!"


Gadhi langsung berdiri tegap dan memeluk Hanum lembut, takut perut Hanum tertekan. Setelah Gadhi tenang, keduanya kemudian duduk di taman yang ada di sana.


Tidak jauh dari sana, ada madam Li dan sekretaris Jo yang duduk mengamati keduanya.


"Bagaimana kabarmu, Madam?" tanya sekretaris Jo basa-basi.


"Aku baik, kabarmu?"


"Sama!"


Keduanya melempar senyum tidak jelas.


Sedangkan pasutri yang baru ketemu, tiba-tiba menghilang dari pengawasan keduanya. Karena mereka malah asik ngobrol.


"Tuan ... tuan mana, Madam?"


Keduanya pun clingak clinguk mencari tuan muda dan nona mudanya. Dan yang dicari sedang naik taksi.

__ADS_1


***


"Tunjukkan padaku, di mana selama ini kau bersembunyi!" titah Gadhi yang duduk di jok belakang sambil memegangi lengan Hanum. Takut istrinya kabur dan menghilang lagi.


"Tidak jauh dari ini, oh ya ... nanti Madam dan sekretaris Jo mencari."


"Akan aku chat mereka!" ucap Gadhi santai kemudian menulis pesan untuk sekretaris Jo agar tidak datang ke apartment. Agar Jonathan membawa madam Li jauh-jauh dari Hanum. Dasar kang modus, ada saja siasatnya untuk berduaan dengan Hanum.


Sepanjang perjalanan Gadhi juga merangkul bahu Hanum terus, sembari sesekali mengusap perut Hanum yang lucu itu.


"Kenapa besar sekali, Num?" Gadhi baru sadar, perut Hanum jika dihitung dari lama mereka menikah, maka perutnya terlalu besar.


"Nanti kamu tahu sendiri alasannya, mungkin juga karena madam Li selalu mau membelikanku nasi briyani," canda Hanum.


Dahi Gadhi mengkerut, tapi tidak masalah. Yang penting sekarang ia bersama Hanum. Wanita yang sudah membuatnya resah setiap malam.


***


Apartment


Tidak terasa mereka sudah tiba di mana Hanum selama ini tinggal. Gadhi dengan perhatian menuntun Hanum masuk. Dan saat menginjakkan kaki di dalam apartment, Gadhi langsung mengunci pintunya.


"Terima kasih karena sudah baik-baik saja ... bahkan kamu menjaga anak kita dengan baik, terima kasih banyak, Hanum!" bisik Gadhi sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Terima kasih juga sudah ke sini mencari kami!" balas Hanum sambil membelas pelukan suaminya. Hanum berbalik, jarinya merabaa wajah tegas Gadhi yang dihiasi bulu halus pada dagunya.


"Apa kamu merindukan aku, seperti aku yang sangat merindukanmu?"


Kecupann pertama setelah sekian lama. Kali ini Hanum yang inisiatif duluan, membuat Gadhi semakin terbang ke awang-awang. Karena hanya sebuah kecupann, rasanya Gadhi mana puas. Pria itu langsung melepas semua rindu yang sudah menghukum dirinya di setiap malam.


"Jangan pergi lagi ... aku tidak bisa hidup tanpa kamu ... apalagi ada anak kita. Jangan pergi Hanum, rasa ini benar-benar menyiksa!"


Cup ...


Jeda sesaat, kemudian Gadhi kembali merasakan kelembutan bibir Hanum yang lama ia rindukan. Rasanya berbeda, lebih manis, lebih membuatnya ingin melakukan lebih dari ini. Jantung keduanya sudah bergemuru, saling bersahutan dengan napas yang memburu.


Gara-gara sesapan yang cukup dalam barusan, mereka yang lama tidak bersua kini saling mendamba, sama-sama haus ingin dibelai dan melepaskan beban rindu yang terlanjur menggunung.


Dengan tangan bergetar, Gadhi melepaskan apa yang ia pakai. Tinggal segitiga biru. Sedangkan Hanum, kini tubuhnya membuat Gadhi tambah oleng. Pemandangan itu membuat wajahnya panas dingin. Jantungnya meletup-letup, Gadhi sudah ambyar. Benar-benar minta dilepaskan sesuatu yang ia tahan selama ini.


"Hanum ... kenapa jadi sangat besar?" Gadhi menatap heran.


"Aduh!" ia mengaduh saat Hanum mencubit pinggangnya.


Pertanyaan usil itu membuat Hanum malu. Ya, Hanum sejak Hamil jadi lebih berisi, lebih sek sih!


"Tapi aku menyukainya!"


Hampppp ...


Seperti baru menemukan oase setelah tersesat di padang pasir yang tandus sekian lama. Seperti puasa yang sangat lama, kini Gadhi langsung saja ingin berbuka. Sudah rindu, kangen berat, tidak tahan lagi untuk menahannya lebih lama.

__ADS_1


"Sakit, Gad!" pekik Hanum karena pria itu malah mengigitnya.


Seketika Gadhi melepaskan Hanum, "Sorry!" bisikan kemudian kembali kumat. Pria itu memakan Hanum seperti burung Hering yang sedang kelaparan di Sabana Africa.


"Gaddd!" desis hanum seperti ular.


Hanum begitu berisik, padahal ia menyukainya. Ini adalah pertama kali Gadhi bertandang ke hutan belantara yang sudah ada penghuninya. Keduanya pun akhirnya bersatu, bertukar cairan, bertukar keringat, bertukar apa saja.


Bukkkk ....


Lemas, Gadhi kini merebahkan tubuhnya di samping Hanum. Wajahnya dipenuhi bulir bening, lama tidak olah raga, kali ini ia kembali seperti mendapat asupan gizi lagi. Meski kelelahan, ada seutas senyum yang tergambar indah di wajah pria tampan, macho dan masukin tersebut. Ia kemudian memiringkan tubuhnya, hingga bisa melihat Hanum dengan jelas.


Diusapnya perut yang putih bersih dan terlihat besar itu. Gemas, ia kecupp berkali-kali. Membuat Hanum tidak bisa berkata-kata, lagian Hanum juga sudah kelelahan. Ia memilih tidur, karena badannya jadi capek semua.


***


Sore harinya, Gadhi yang ternyata ikut tertidur, ia sekarang terbangun. Karena haus, ia pun mencari minum. Saat Hanum tidur, Gadhi berkeliling apartment. Ia ingin melihat di mana selama ini Hanum bersembunyi darinya. Gadhi juga melihat satu ruangan yang menyita perhatiannya.


"Apa kamu berniat melahirkan di sini?" gumam Gadhi ketika membuka pintu, dan ternyata itu kamar bayi.


Matanya menyusuri seluruh ruangan sambil bergumam. "Harusnya aku yang menyiapkan semua ini."


Wajahnya tampak menyesal, tapi ia merasa aneh. Gadhi kemudian berjalan ke tengah, menatap dua box bayi.


"Kenapa ada dua?"


Seketika ia berbalik kemudian mencari Hanum yang masih terlelap.


"Hanummmm ... Sayang ... bangun."


Ia mengusap pipi Hanum lembut.


"Sayang ... bangun. Aku ingin bertanya."


"Hemmm!"


"Bangunlah sebentar, nanti tidur lagi," titah Gadhi seperti biasanya yang membuat Hanum jengkel. Karena selalu memaksakan kehendak.


"Aku masih ngantuk."


"Jawab aku sebentar, nanti tidur lagi!"


"Hem," Hanum mengerjap.


"Kenapa box bayi ada dua?"


Mata Hanum kedap-kedip. Mengerjap menatap suaminya.


"Oh ... iya, dua."


Bukkkk

__ADS_1


Hanum kembali merebahkan tubuhnya. Sedangkan Gadhi, ia diam tidak berkutik. BERSAMBUNG


__ADS_2