Crazy Rich

Crazy Rich
Pesta Bujang


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 23


Oleh Sept


"Malah melamun, Gadhi ... Mama bicara sama kamu."


Gadhi menatap mamanya, kemudian beranjak.


"Gadhi mandi dulu, Ma."


Setelah melihat putranya pergi dan berlalu begitu saja tanpa merespon kata-katanya yang panjang barusan, Nyonya Geni pun hanya menghela napas panjang.


***


D'Rose House


Hanum sedang di kamarnya, setelah kesal seharian karena keperawanann miliknya yang diragukan, ia kini rebahan dengan hati dongkol. Saat-saat seperti ini, ia mulai teringat akan ibunya.


Mungkin ia rindu, karena biasanya meski tidak tinggal bersama, ia selalu sempatkan ke panti. Kemarin ia dapat informasi, ibunya sudah diterapi. Sudah ditangani dokter khusus. Ia dapat berita itu dari madam Li.


Sayang, Hanum tidak bisa menemui ibunya dengan bebas lagi. Ia terlanjur menandatangani berkas perjanjian dengan kakek Mahindra. Kebebasan Hanum sudah tergadaikan, dia bukan lagi berjiwa bebas seperti dulu. Berurusan dengan keluarga Mahindra Prakash, membuat Hanum terikat. Banyak aturan dan larangan, dia benar-benar tidak bisa merdeka sekarang.


Tapi lain cerita satu tahun lagi, selama dia yang tidak membatalkan pernikahan, kakek Mahindra tidak berhak menuntut dirinya. Jika Gadhi melakukan sesuai perjanjian pra nikah, yaitu pernikahan hanya berjalan satu tahun tanpa sentuhan fisik, maka lepas hari itu Hanum akan mendapatkan kebebasan. Jika ingat perjanjian itu, rasanya Hanum ingin cepat-cepat satu tahun cepat berlalu.


Hoamm ...


Tiba-tiba ia mulai menguap, kebanyakan melamun dan memikirkan banyak hal, akhirnya Hanum lama-lama merasa mengantuk. Dan dia tidur pulas, karena lelah hati dan lelah pikiran.


***


KRING ...


KRING ...


Bunyi alarm saat matahari masih menyembunyikan sinarnya, membuat Hanum mengerjap. Kelopak matanya bergerak-gerak, kemudian ia mengosok kedua matanya tersebut.


Hanum meraih segelas air putih yang ada di atas nakas, ia meminum sampai habis kemudian perlahan turun dari ranjang. Rutinitas pagi pun sudah dimulai.


Keluar dari kamar dengan jacket hoodie, ia sudah disambut oleh madam Li dan dua pengawal. Seperti biasa, mereka akan jogging bersama. Lebih tepatnya hanya Hanum, sebab yang lain kadang naik kendaraan.


Hanum mandi keringat yang lain masih segar dan bau harum. Tidak sepertinya yang langsung bau asem karena harus basah karena keringatnya sendiri.


Pukul 6 pagi


Hanum istirahat dan duduk di salah satu bangku, sambil mengatur napas.


"Madam ... apakah setelah menikah, hal-hal seperti ini masih akan terus berlanjut?" tanya Hanum penasaran.


"Seperti ini bagaimana, Nona?"


"Ya seperti ini ... agenda bangun tidur sampai mau tidur lagi?"


Madam Li yang biasanya sangat serius, kini wajahnya mulai mencair perlahan. Dia yang dulu terlihat kaku, mulai sedikit melunak. Seperti sekarang, ada senyum usil saat ia menjawab pertanyaan Hanum.


"Tidak Nona ..."


Hanum langsung tersenyum lega.


"Tapi mungkin lebih dari ini, sebab Nona juga harus mengikuti beberapa kelas, seperti parenting, kelas bisnis misalnya. Yang jelas, agenda Kita nanti jauh lebih padat. Tapi Nona akan dibantu banyak asisten."

__ADS_1


Mendengar penuturan madam Li, seketika senyum yang baru terkembang itu langsung sirna. Ya, selama menjadi bagian keluarga Mahindra Prakash, jangan harap Hanum akan hidup dengan kemauannya sendiri.


***


Kediaman Akas


Suha sedang di kamar putranya, sepertinya mereka merencanakan sesuatu.


"Bagaimana pun juga, bawa Gadhi ke acara ini. Nanti Mama bisa atur semuanya. Kamu hanya bawa di ke sini."


Terlihat tatapan jahat dari wanita bernama Suha tersebut. Ia tidak terima jika pernikahan Gadhi berjalan lancar, tidak mau kalau sebagian banyak harta jatuh ke tangan Gadhi. Sedangkan cucu Kakek Mahindra bukan Gadhi saja. Ada juga putranya. Ya meskipun tidak sehebat Gadhi, tapi setidaknya kakek harus adil.


"Kalau papa tahu tentang ini bagaimana?"


Nyonya Suha tersenyum jahat.


"Tidak akan tahu kalau kita melakukan diam-diam."


"Oke, semua bisa Gradi atur."


"Bagus! Kamu memang putra Mama!"


Dua orang jahat itu saling melempar senyum penuh iri dan dengki.


***


Beberapa hari kemudian


Selalu banyak cara bagi Nyonya Suha dan putranya dalam menjatuhkan Gadhi, pria yang digadang akan menjadi pewaris global Tourshine Groups.


Malam ini, keduanya berkonspirasi akan melakukan sesuatu yang mengejutkan Gadhi. 2 hari lagi akan digelar pernikahan Gadhi dan Hanum, sebelum itu terjadi, Nyonya Suha ingin memberikan sedikit kejutan.


"Semua beres, Ma. Aku sudah mengantur orang agar dia ke sini."


"Bagus! Mama gak sabar melihat kekecewaan di wajah kakekmu itu. Apa yang akan dia lakukan jika tahu cucu kebangaan mencoreng keluarga besar dan menjadi bahan berita. Wah ... scandal yang hebat!"


Senyum merekah di wajah Nyonya Suha, hidungnya yang super mancung kembang-kempis membayangkan kehancuran Gadhiata Ratama Prakas.


Seperti ide sebelumnya, Nyonya Suha dan putranya sedang merencanakan pesta bujang yang juga dikenal dengan istilah bachelor party.  Mereka akan melakukan sesuatu yang buruk pada penerus Tourshine Groups tersebut.


Di sebuah club yang cukup Private, hanya kalangan terbatas yang menjadi member si sana, Gadhi berjalan masuk bersama sekretaris Jo. Mereka berdua kemudian menemui teman lama Gadhi. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba muncul banyak teman lama Gadhi, mereka muncul satu persatu dan cukup membuatnya terkejut.


Setelah itu, muncul Gradi dengan teman-temannya juga.


"Terimalah pesta kecil-kecilan dari kami!" ucap Gradi pura-pura baik di depan semua orang.


Semua juga tahu, kalau keduanya adalah saudara sepupu. Karena keluarga mereka memang bukan keluarga biasa. Dan orang lain yang melihat, pasti mengira keduanya dekat.


Gadhi hanya melempar senyum, tapi juga menahan kesal. Karena selama ini mereka tidak dekat, hanya saja kalau di depan umum mereka akan pura-pura tidak ada masalah.


"Silahkan menikmati pestanya!"


Gradi menepuk pundak sepupunya, kemudian mengambil duduk, tentunya bersama gadis yang mengekor di belakangnya.


Tidak bisa pergi begitu saja, akhirnya Gadhi pun terjebak beberapa waktu di sana. Dan sejak tadi seseorang menatap gelasnya yang sudah kosong.


'Ini awal kehancuranmu,' gumam sosok yang sejak tadi mengamati Gadhiata Ratama Prakas tersebut.


Beberapa saat kemudian

__ADS_1


"Mau ke mana? Pestanya belum usai," celetuk teman Gadhi yang melihat pria itu beranjak.


Gadhi yang sudah merasa gerah, menepis teman-temannya yang ingin menghalangi jalannya. Ia kemudian mendekati sekretaris Jo.


"Jo, lakukan apapun. Aku tidak boleh lama-lama di sini!"


Seperti merasakan sesuatu, sekretaris Jo langsung beranjak. Ia langsung mengambil ponsel dan melobby pihak keamanan. Detik berikutnya, banyak pria-pria berseragam hitam dengan badan tegap masuk dalam area pesta bujang tersebut.


'Siallll!' desis orang yang sejak tadi duduk di pojokan.


Sedangkan Gadhi, ia dan sekretarisnya akhirnya bisa keluar dengan bebas dari sana. Dengan alasan keamanan, pesta akhirnya ditutup. Kini Gadhi sudah di dalam mobil, terlihat sekali kalau sesuatu mulai tidak beres. Sekretaris Jo pun merasa cemas.


"Tuan ... apa Kita ke rumah sakit?"


Gadhi mendesis kesal. Sebentar lagi hari pernikahan. Sebaiknya hindari apapun yang bisa jadi sumber berita.


"Kamu mau berita macam-macam terbit saat wajahnya muncul di rumah sakit?"


"Baik, Tuan ... Kita akan segera pulang ke rumah."


Sepanjang jalan Gadhi merasa sangat tersiska. Sekretaris Jo bisa melihat melalu kaca di depannya.


"Tuan ... apa Anda baik-baik saja?"


Gadhi tidak menjawab, jantungnya berdegup kencang. Aliran darahnya mengalir tidak lancar. Ada sesuatu yang meletup-letup. Dan Gadhi tahu, tubuhnya sedang tidak beres.


"Tuan ... Tuan tidak apa-apa?" Sekretaris Jo kembali bertanya, kali ini sambil menoleh ke belakang.


Dilihatnya sang atasan sedang tersiska lahir dan batin menahan gejolakk. Sepertinya Gadhi sudah dimasuki obat dengan sengaja di pesta tadi. Karena tidak tersalurkan, maka Gadhi pun terlihat sangat tersiska saat ini.


***


D'Rose House


Tok tok tok


Madam Li mengetuk pintu kamar Hanum malam-malam.


Karena berkali-kali diketuk, akhirnya Hanum pun membuka pintu sambil menutup wajahnya karena menguap.


"Madam ... kan sudah malam, jadwal Kita sudah berakhir kan. Perasaan tidak ada agenda lagi," celoteh Hanum dengan mata ngantuk.


"Nona, mari ikut dengan saya!"


Dengan malas karena masih mengantuk, Hanum pun ikut pergi bersama madam Li. Mereka kemudian berhenti di depan salah satu pintu kamar di sana.


Ada sekretaris Jo yang berdiri di depan pintu sambil menyandarkan punggung.


'Kenapa malam-malam dia ada di sini?' batin Hanum saat melihat sekretaris Jo.


"Ada masalah besar," bisik madam Li kemudian.


"Masalah?" mata Hanum yang semula setengah mengantuk langsung terbuka lebar saat mendengar kata masalah.


"Mari, Nona."


Madam Li kemudian membuka pintu kamar, ia lalu membawa Hanum ke kamar mandi yang ada dalam kamar tersebut.


BERSAMBUNG

__ADS_1


IG Sept_September2020


__ADS_2