Crazy Rich

Crazy Rich
Secret


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 44


Oleh Sept


"Ehem ... silahkan diminum, Tuan. Tuan besar sedang menerima telpon. Tuan besar meminta untuk tunggu sebentar."


Pelayan itu menundukkan pandangan, kemudian mundur dan berbalik.


'Jangan-jangan habis ini tuan muda akan mengajukan pemecatan untukku!' gumam pelayan yang masih mudah itu. Ia menghela napas karena ulahnya yang cerobo.


'Bodohhh sekali kamu! Harusnya tadi kamu ketuk pintu!! Aduh ... pasti aku bakal dipecat!' batinnya lagi kemudian berjalan dengan lesu.


'Tapi ini sepenuhnya bukan salahku, siapa yang tahu mereka akan melakukan itu di ruang kerja tuan besar, astaga ... mereka benar-benar pengantin baru yang meresahkan!' pelayan itu terus saja merutuk sampai sapaan madam Li membuatnya berhenti.


"Mengapa kau pucat sekali, apa kau sakit?" tanya madam Li.


Pelayan itu menggeleng kemudian kembali berjalan sambil memeluk nampan.


"Anak muda jama sekarang, ditanya hanya mengangguk atau menggeleng. Mereka punya mulut untuk apa?" gumam madam Li lirih.


Ia sudah menandai pelayan itu, namanya Suli. Pelayan paling muda di kediaman kakek Mahindra Prakash. Lulusan dalam negri, tapi sepertinya ia masuk ke rumah ini dengan maksud tersembunyi. Feeling madam mengatakan bahwa Suli memiliki sesuatu yang dirahasiakan.


Sambil terus mengamati kepergian Suli, madam pun mencari ponselnya.


"Hallo!" sapa Madam Li di telpon.


"Ada yang bisa saya bantu Madam?" tanya pria di balik telpon.


"Maaf sebelumnya, tapi aku rasa ada yang mencurigakan dari salah satu pelayan tuan besar. Bisa kau selidik? Akan aku kirim CV-nya."


"Baik, Madam."


Tut Tut Tut


Madam kemudian mencari data semua pelayan dalam database. Di sana muncul ID Suli. Madam pun mengirim itu semua pada Tim keamanan di rumah itu. Sudah wajib dicurigai bila ada sesuatu yang janggal. Sebab banyak yang mengincar kursi kedudukan tuan besar mereka.


Beres dengan yang satu, kini madam Li mencari Hanum. Tapi yang ia temui malah sekretaris Jo.


"Pagi, Madam Li."


"Selamat pagi ... apa nona dan tuan masih ada di dalam ruang kerja tuan besar?"


"Sepertinya begitu, aku juga baru ke mari."


"Oh, sebaiknya Kita tunggu. Sebelum mereka memanggil. Mau aku buatkan kopi?" tanya Madam Li basa-basi.


"Tidak. Terima kasih."


Keduanya pun hanya duduk sambil menunggu sang atasan memanggil.


***


Sementara itu, di ruang kerja kakek, kucing dan tikus sedang ribut.


"Harus pakai bahasa apa agar kamu paham? Aku gak suka cara kamu yang memaksa seperti ini!" protes Hanum.

__ADS_1


Ditatapnya bibir Gadhi yang merah akibat ia gigit barusan.


"Aku bisa lebih dari ini, bila kamu maksa-maksa lagi!" tambah Hanum yang tidak mau ditindas Gadhi.


Meskipun pria itu suaminya dan terlebih lagi pria tersebut pasti berkuasa. Tapi mereka kan menikah karena perjanjian. Jadi Hanum pikir, Gadhi harus melakukan apa yang sudah mereka sepakati bersama-sama. Bukannya malah memperlakukan Hanum seperti wanita murahann.


"Kau terlalu naif, Hanum!"


"Bukan aku yang naif, tapi kamu yang terlalu me sum!"


"Aku? Hanya karena kita sudah tidur bersama kau bisa mengatakan aku pria me sum? Heiii ... Hanum!" Gadhi menahan napas kesal.


"Itu kenyataan! Di kepalamu hanya dipenuhi pikiran Kotor!" cetus Hanum.


Tidak tahan, Gadhi meninggalkan Hanum di ruangan itu. Hanum yang cerewet membuatnya sakit kepala. Apalagi ia selalu dituduh pria me zum! Dia pun mengutuk dirinya sendiri, mengapa gampang sekali terpengaruh oleh sosok seperti Hanum. Ia seperti sudah kena pelett jaran goyang!


***


"Jonathan! Siapkan mobil!" seru Gadhi sambil melangkah dengan gusar.


"Tuan ... bibir Tuan kenapa?"


Gadhi berlalu, ia berjalan cepat meninggalkan madam Li dan sekretaris Jo yang tampak bingung.


Dari jauh, kakek Mahindra berjalan ke arah mereka. Pria tua itu mengeryitkan dahi ketika melihat wajah Gadhi dari yang semakin dekat.


"Kakek, ada urusan pekerjaan di kantor. Sepertinya aku harus balik sekarang."


Gadhi sedikit membungkuk kemudian berjalan melewati kakek Mahindra.


Kedua kaki Gadhi langsung mengerem. Ia berhenti saat sang kakek memintanya.


"Apa itu Hanum?" tebak kakek Mahindra. Sepertinya kakek sengaja mengamati keduanya lewat kamera CCTV.


"Bukan, terbentur sesuatu!" jawab Gadhi mencari alasan.


"Ya sudah. Pergilah ... lagi pula masih banyak hal yang ingin kakek bicarakan berdua saja dengan Hanum."


Gadhi tambah kesal, ia pun pamit meninggalkan kediaman sang kakek.


***


Di halaman yang penuh dengan bunga dan rerumputan hijau yang terawat. Hanum berjalan santai mengikuti kakek Mahindra.


"Hanum ..."


"Ya," jawab Hanum sambil mengangkat dagunya.


"Jangan terlalu kasar pada cucu Kakek."


Hanum spontan canggung. 'Apa Gadhi mengadu?' pikir Hanum.


Karena Hanum diam, kakek kembali berbicara.


"Gadhi itu rapuh. Dia tidak seperti kelihatannya."

__ADS_1


Hanum langsung mendesis kesal. 'Rapuh apanya, cucu Kakek itu sangat kuat, malah sangat liar!' gerutu Hanum dalam hati.


Pria itu kemudian kembali bercerita.


"Gadhi terlihat kasar, kuat, dan dingin ... itu semua karena salah Kakek. Kakek memintanya tumbuh jadi seperti itu. Bisa mengandalkan diri sendiri. Tidak boleh menunjukkan kelemahan di mata orang lain. Tapi ... sepertinya ada yang salah. Cara kakek mungkin menekan dirinya secara tidak langsung ... hingga Gadhi menjadi sosok tertutup dan ... kakek tahu. Dia juga sangat kasar padamu."


Hanum menatap punggung kakek Mahindra yang sudah melangkah di depannya. Sambil meresapi apa yang pria tua itu katakan.


"Kek."


"Hemm."


"Bolehkan aku bertanya sesuatu?"


"Katakan!"


"Mengapa Hanum? Mengapa kakek memilihku? Di luar sana banyak wanita yang mungkin sepadan dengan Gadhi."


Kakek Mahindra malah terkekeh.


"Kau seperti ayahmu. Kritis, selalu ingin tahu dan suka bertanya."


"Kakek kenal ayahku? Tapi memang ayahku dulu sempat terkenal." Hanum tersenyum tipis.


"Bukan ... bukan ayah sambungmu. Tapi ayah kandungmu."


Hanum sedikit kaget.


"Kakek kenal ayahku?"


"Hemm ... sangat kenal."


"Apa kau tidak ingat dengan rumah ini, Hanum? Kau dulu terkadang main dan lari-lari di taman ini."


Hanum semakin bingung.


"Aku? Di sini? Pernah ke sini?"


Kakek Mahindra duduk di salah satu bangku taman. Halaman yang luas membuat banyak bangku yang tersebar di beberapa sudutnya.


"Ya, waktu itu kau masih kecil. Dan ibumu masih hidup."


Jantung Hanum kembali berdegup kencang. Apa maksudnya ibunya masih hidup? Lalu bagaimana dengan ibunya yang sekarang?


"Kek ... maksud Kakek apa? Kakek membuat Hanum bingung."


"Nanti, Kakek janji akan cerita lebih banyak lagi."


Jelas Hanum menolak, ia sangat penasaran dengan asal usulnya yang masih random.


"Kakek harus cerita pada Hanum sekarang, jangan membuat Hanum mati penasaran."


Pria itu malah tersenyum tipis.


"Kalau kau memaksa seperti ini, barulah sangat mirip dengan ibumu ..." BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2