
Crazy Rich Bagian 19
Oleh Sept
Pagi itu Gadhi mondar-mandir di balik pintu. Pria itu gusar, jengkel, malu, bagaimana nanti saat ketemu Hanum di luar. Gadis itu sudah melihat keindahan tubuhnya. Meski masih tertutup segita pengaman. Tetap saja Gadhi merasa jengkel dan sangat kesal. Sambil berjalan seperti setrika, pria itu berkacak pinggang.
"Siapa yang berani memberikan kunci cadangan? Aku yakin semalam menguncinya!" gumamnya jengkel.
Ia kemudian menghubungi sekretaris Jo. Rasanya tidak mau ketemu Hanum untuk saat ini, Gadhi pun langsung meminta sekretaris membereskan semuanya.
"Selamat pagi, Tuan," sapa sekretaris Jo yang sudah berada di depan pintu.
Jo terlihat segar, bersemangat dan berbinar-binar. Beda sekali dengan aura sang bos. Pancaran wajah Gadhiata Ratama Prakas itu terlihat muram dan suram.
"Tuan ... apa Tuan kurang enak badan?" tanya sekretaris Jo.
Gadhi pun menatap sinis.
"Aku sehat! Baik-baik saja!" jawabnya ketus.
'Baik-baik saja tapi kenapa wajahnya terlihat gelisah, cemas, dan kesal seperti itu?' gerutu sekretaris Jonathan sembari mencuri pandang pada atasannya itu.
"Lihat apa kau ini?" cetus Gadhi marah yang mendapati sekretaris Jo sedang curi-curi pandang padanya. Gadhi yang dalam mode sensitive semakin masam saja wajahnya.
"Tidak, Tuan. Mari ... mobilnya sudah siap."
"Hemm!"
Gadhi pun berjalan dengan langkah cepat, sengaja menghindar dari Hanum.
"Bagus, dia tidak ada di sekitar sini!" gumam Gadhi merasa lega.
Tap tap tap
Suara derap langkah itu, membuat Gadhi mendesis kesal.
"Mau balik?" tanya Hanum di belakang mereka.
Tanpa menjawab, Gadhi langsung bergegas. Seolah pertanyaan Hanum hanya suara-suara dari mahluk di dunia lain. Ada tapi tidak terlihat dan tidak terdengar.
'Lah? Apa suaraku kurang keras tadi? Hingga mereka tidak mendengar?' batin Hanum menatap punggung Gadhi yang bidang tersebut semakin menjauh.
Hanum menghela napas panjang, sembari berguman. "Lagian bukan urusanku, dia mau balik sekarang atau nanti juga terserah."
Hanum pun berbalik, ia mau ke dapur. Tadi ia merasakan aroma harum vanilla dari dalam sana. Rupanya perut Hanum minta disisi untuk sesi kedua. Biar dilaporin ke madam Li tidak masalah. Nanti dia bisa membakar lemak dengan Olahraga.
"Nona ... jangan. Ini untuk Nyonya Geni. Beliau akan datang sesaat lagi."
Hanum menelan ludah.
"Satu aja!"
__ADS_1
Seorang asisten datang, dan langsung memberikan segelas teh pahit pada Hanum.
"Jangan, Nona. Nanti madam Li menghukum kami."
Hanum hanya bisa menahan napas kesal, orangnya tidak ada, tapi peraturan tetap peraturan.
'Astaga!'
***
Seperti apa kata para asisten di sana, beberapa saat kemudian setelah mobil Gadhi pergi, muncul lagi mobil yang lain. Nyonya Geni tiba bersama Kakek Mahindra dan Madam Li. Sedangkan tuan Akas, pria itu langsung balik karena harus mengurus perusahaan.
Saat masuk dalam hunian yang sangat nyaman itu, Nyonya Geni langsung berakting sangat ramah. Ia menyapa Hanum dengan melempar senyum semanis gula jawa. Padahal, dalam hati ia merutuki calon menantunya itu.
'Tunggu saja, satu tahun setelah kalian menikah. Akan aku buat kamu menghilang dari penglihatan kami!' sumpah Nyonya Geni dalam hati.
"Hanum ... kakek akan segera kembali, kamu akan bersama madam Li kembali ke D'Rose House. Dan ingat, jangan kecewakan Kakek!" seru Kakek dengan wajah serius.
Hanum hanya mengangguk pelan.
Sedangkan Nyonya Geni, ia menatap dengan sinis. Tapi saat kakek melirik Nyonya, sinis itu lenyap. Berganti dengan senyum yang penuh intrik.
Setelah berbincang singkat, semua pun pergi. Ternyata Nyonya Geni juga ikut balik ke kota. Lagian untuk apa di sana. Sebenarnya ia kurang suka dekat-dekat dengan Hanum, tidak selevel.
D'Rose House
Begitu tiba di rumah yang seperti area pelatihan tersebut, Hanum pun kembali melakukan segala sesuatu yang diperintah oleh Madam Li. Mulai dari latihan fisik, latihan bersikap, latihan berjalan yang anggun, bertingkah yang sangat sopan meski dalam keadaan yang kurang mengenakkan.
Hari ke 21
Sudah 3 minggu terhitung dari pertama kali Hanum menginjakkan kaki di D'Rose House. Sudah 21 satu hari pula ia tidak bertemu siapa pun. Kakek memang membuat wilayah D'Rose House sterile.
Demi kelancaran acara pernikahan cucunya, ia benar-benar menjaga Hanum dari pengaruh luar. Bahkan kabar pernikahan yang sudah terendus oleh media, semua belum tahu siapa calon istri sang pewaris global Tourshine Groups tersebut. Konglomerat terkaya yang hartanya selalu bertambah dan tidak habis-habis itu.
Global Tourshine Groups
Di salah satu lantai tertinggi, terlihat Gadhi sedang fokus dengan kumpulan berkas yang harus ia periksa. Beberapa hari terakhir, ia mengendus keuangan perusahaan yang tidak beres.
Pria itu menaruh curiga pada pamannya sendiri, tuan Akas. Bagaimana bisa banyak dana yang sepertinya digelapkan oleh sang paman.
"Jonathan ... tolong ambilkan semua berkas keuangan 3 tahun terakhir," pintanya pada sang sekretaris.
"Baik, Tuan."
Setelah sekretaris Jo keluar, ponsel Gadhi langsung berdering.
"Iya, Ma."
Rupanya Nyonya Geni yang menelpon.
"Ini fitting terakhir, jangan lupa datang. Meski kamu tidak suka. Kakek nanti akan marah."
__ADS_1
"Gadhi sibuk!"
"GADHI!"
"MA!"
"Kamu mau Mama jemput kamu sekarang?" ancam Nyonya Geni yang selalu memaksakan kehendak.
Gadhi membuang napas kesal. "Oke! Kirim alamatnya!"
"Mama sudah kirim dari kemarin!"
"Hemm!"
Gadhi akhirnya mematikan laptop, saat sekretaris Jo datang, pria itu malah mengakak pergi.
"Lupakan ini, ikut denganku!"
"Mau ke mana, Tuan?"
Gadhi hanya menjawab dengan sorot mata yang tajam.
***
Sparling Gold Exclusive Boutique
Gadhi turun dari mobil, kemudian menatap deretan huruf besar yang terlihat mencolok di depan gedung.
Di depan lahan parkir yang ekslusif itu, ia bisa memgenali mobil yang membawa Hanum dan rombongan. Ya, hanya ke boutique saja mereka memboyong banyak asisten.
'Mau kalian poles seperti apapun, dia tetap gadis miskin dan jelek!' batin Gadhi kemudian melangkah masuk dengan setengah hati.
"Selamat datang, Tuan Gadhiata!" sapa pegawai boutique dengan sangat ramah.
Gadhi hanya menatapnya sekilas, kemudian masuk ke dalam.
"Di mana dia?" tanya Gadhi sembari menatap sekretarisnya yang kini sudah berjalan sejajar dengannya.
"Tuan .... Tuan rupanya sedang datang? Kebetulan, Nona Hanum juga hampir selesai," ucap madam Li antusias.
Sementara itu, wajah Gadhi seperti orang yang dipaksa nikah. Datang ke fitting baju pengantin ekspresi yang ia tampakkan malah wajah masam.
"Nah ... pasti sudah selesai!" seru madam saat melihat pegawai keluar dari balik tirai putih yang panjang dan lebar.
"Silahkan duduk dulu, Tuan," pinta madam Li kemudian berjalan menghampiri tirai.
Perlahan tangan madam Li menyentuh tirai putih tersebut, ia tarik kain tirai itu hingga sosok Hanum perlahan terlihat sedikit demi sedikit.
BERSAMBUNG
IG Sept_September2020
__ADS_1
Fb Sept September