Crazy Rich

Crazy Rich
Spontan


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 36


Oleh Sept


'Mungkin jika besok tiba, kami berdua akan menyesalinya. Biarlah malam ini kami mengila!'


Gadhi kembali mengikuti nalurinya yang terpengaruh oleh obat. Dia laki-laki dewasa yang normal, melihat Hanum seperti itu, rasanya ia ingin memangsa Hanum sampai tak bersisa. Apalagi Hering sudah mengepakkan sayapnya.


"G-Gad!!!" Hanum memejamkan mata.


***


Ditengah-tengah pergulatan yang telah berlangsung, terdengar suara pintu terbuka. Seketika Gadhi langsung menarik selimut, menutupi tubuh mereka berdua dan langsung berbaring di samping Hanum. Padahal sesaat yang lalu, ia masih di atas tubuh yang sudah lemas tersebut.


"Tuan ...!"


Sekretaris Jo langsung membuang muka.


'Siallll!' Ia merutuk dalam hati.


"Maaf, Tuan. Tadi tuan besar menghubungi. Katanya terjadi sesuatu?" tanya sekretaris Jo sambil menundukkan pandangan dalam-dalam.


Sudut matanya sempat melirik lantai dan ranjang yang berantakan. Entah terjadi apa saja di dalam kamar tersebut. Yang pasti sepertinya obat mereka berhasil. Karena sepertinya tuan muda tidak pakai apapun. Begitu juga dengan Nona mereka.


'Ish!' Hanum sangat malu. Ia kemudian menarik selimut dalam-dalam. Bersembunyi di dalam sana.


"Ehem!" Gadhi berdehem, ia juga menarik selimut, keduanya seperti pasangan me sum yang sedang terkena grebekk di dalam kamar hotel.


Wajah mereka berdua sangat canggung, ini karena sekretaris Jo datang pada waktu yang tidak tepat. Gadhi tadi hampir keluar, karena kehadiran sang sekretaris, membuat Hering kembali menjadi pipit.


"Tolong siapakan makanan untuk Hanum, makanan BIASA!" ada penekanan pada kata biasa. Membuat sekretaris Jo paham, lalu mengangguk mengerti.


"Baik, Tuan. Dan kata tuan besar, nona terluka? Apa perlu saya panggil dokter?" tanya sekretaris Jo dengan hati-hati. Sebab seperti Nona Hanum biasa saja, tidak kelihatan sakit.

__ADS_1


"Lakukan saja perintahku!" ujar Gadhi dengan tegas. Ia malah mengalihkan perhatian.


"Baik, Tuan."


Sesaat kemudian, terdengar suara pintu tertutup. Gadhi dan Hanum langsung bernapas lega.


Keduanya kemudian kembali memakai bathrobe mereka lagi. Karena sudah pasti tidak bisa meneruskan kegiatan mereka. Sekretaris Jo pasti akan datang sesaat lagi.


Benar saja, tidak butuh waktu lama. Pintu kembali terbuka. Sekretaris Jo datang bersama pegawai hotel dan mendorong meja yang penuh makanan.


"Apakah ada lagi yang bisa saya bantu, Tuan?"


Gadhi menatap semua makanan itu penuh curiga.


"Makanlah!" titah Gadhi.


"Apa, Tuan?" tanya sekretaris Jo. Pria itu takut salah dengar.


"Coba cicipi dulu!" perintah Gadhi ingin memastikan.


Bagaimana mau khawatir, karena memang makanan itu murni tanpa bahan tambahan apapun. Tanpa obat, hanya makanan biasa.


"Ya sudah! Kau boleh pergi!" ucapnya dengan gaya bos.


Ketika sekretaris Jo berbalik, Gadhi kembali memanggil.


"Joo! Mana cardnya!" Gadhi meminta kunci kamarnya.


Karena dirasa misi sukses, Jonathan pun tidak keberatan memberikan kunci berupa kartu dengan chip tersebut.


"Ini, Tuan!"


"Hemm!"

__ADS_1


Sekretaris Jo kemudian benar-benar pergi, ia juga mau tidur. Bergadang menunggu pengantin baru membuatnya lelah. Sekarang waktunya istirahat.


***


'Beruang ... kau kelihatan kelaparan sekali!' cibir Gadhi dalam hati.


Dilihatnya Hanum makan dengan lahap meski hanya mengenakan bathrobe. Sedangkan Gadhi, ia habis mandi. Tidak lapar, rasanya sangat kenyang. Ya, ia merasa kenyang padahal belum makan nasi. Mungkin karena sudah kenyang makan Hanum berkali-kali.


Sementara itu, Hanum makan dengan rasa campur aduk. Rasa perih masih terasa, menjalar ke mana-mana. Tapi ia juga lapar. Apalagi Gadhi terus saja menatapnya. Sungguh Hanum ingin menghilang dari tempat itu.


Sesaat kemudian


Selesai makan, Hanum langsung mandi. Lama sekali ia mandi. Tidak lupa mengunci pintu. Sepertinya pengaruh obat oada Hanum sudah menghilang, sekarang tersisa tinggal rasa malu. Merutuki diri sendiri dan ada perasaan jengkel, sebab gambaran kejadian beberapa saat yang lalu tampak nyata dalam kepalanya.


Di luar kamar mandi, di atas ranjang yang besar dan berserakan. Gadhi sudah terbaring nyenyak. Pria itu tidur mungkin karena kelelahan.


KLEK


Seperti pencuri, Hanum mengendap-endap berjalan keluar kamar mandi. Dilihatnya Gadhi sudah tidur nyenyak. Ia pun mengambil pakaian dan langsung ganti baju.


"Dia bahkan bisa tidur dengan nyenyak setelah apa yang terjadi?" gumam Hanum.


Ia kemudian memperhatikan da da Gadhi yang naik turun, napasnya teratur. Dengkuran pria itu terdengar halus. Hanum pun langsung menggeleng pelan, tidak mau memikirkan hal yang bukan-bukann. Dengan pelan ia lantas naik ke atas ranjang, sepertinya ia juga butuh istirahat.


Pukul delapan pagi.


Sepasang kaki menyembul dari balik selimut, sepasang lagi tidak terlihat karena sedang meringkuk dalam dekapan hangat yang sangat nyaman.


KRING ... KRING ... KRING ...


Dering ponsel Gadhi membuat Hanum mengerjap, ia kemudian perlahan membuka mata. Begitu terbangun, ia malah dalam dekapan Gadhi.


Kaget, Hanum langsung melepaskan diri. Sayangnya, saat itu posisi Gadhi sudah berada di tepi ranjang. Alhasil sama-sama kaget membuat Gadhi malah terjatuh dari atas tempatnya berbaring.

__ADS_1


"HANUM!!!" desis Gadhi marah sambil memegang pinggangnya yang sakit. BERSAMBUNG.


IG Sept_September2020


__ADS_2