Crazy Rich

Crazy Rich
Pemeriksaan Khusus


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 21


Oleh Sept


Malam hari kediaman Gadhiata Ratama Prakas, pria itu masih tinggal bersama Nyonya Geni. Bukan karena sang mama tidak punya rumah sendiri, memang Nyonya Geni memilih meninggalkan rumah lamanya. Mungkin teringat mending ayah Gadhi.


Bagaimana pun juga, Nyonya Geni merasa kematian suaminya itu masih ditutup misteri. Ia tidak percaya dengan hasil penyidikan. Meskipun sudah dilakukan oleh pihak professional. Isnting Nyonya Geni mengatakan suaminya mati bukan karena kecelakaan biasa, tapi karena sengaja dilenyapkan.


Malam ini, begitu mobil Gadhi terdengar di luar rumah, wanita paruh baya yang sedang telpon langsung mematikan ponselnya.


"Sudah pulang? Bagaimana fitting baju pengantin tadi?"


Gadhi langsung bersandar pada sofa warna hijau tersebut.


"Semua beres," jawaban dengan ekspresi lelah.


"Kamu sepertinya capek banget, Mama suruh bibi siapin air hangat, biar bisa rileks."


"Hemm."


***


Beberapa saat kemudian


Makan malam sudah siap, Nyonya Geni mengetuk pintu kamar putranya untuk makan malam bersama.


"Gad ... Gadhi! Ayo makan dulu."


"Nggak, Ma. Gadhi sudah makan tadi di luar."


Nyonya Geni pun berbalik, wanita itu kemudian duduk seorang diri di meja makan yang panjang dan mewah. Banyak hidangan di sana, tapi belum disantap sudah terasa hambar.


Ya, makan malam seorang diri membuat Nyonya kaya raya itu merasa sudah kenyang. Alhasil, ia pun masuk kamar tanpa makan. Seperti biasa, para pelayan di rumah itu yang akan kenyang.


***


Pagi hari


Saat sarapan, Gadhi tidak bisa menghindar. Ia harus makan pagi bersama mamanya.


"Oh ya, undangan pernikahan sudah jadi."


"Bik ... bibik. Bawakan paper bag saya yang ada di atas meja."


Tap tap tap


Terdengar suara bibi melangkah mendekati Nyonya Geni. Bibi itu kemudian memberikan sesuatu yang Nyonyanya itu minta.


"Ini, Nyonya."


Nyonya Geni langsung mengambil paper bag itu, mengeluarkan isinya dan mendorong piring yang belum selesai ia habiskan isinya.


"Ini undangannya."


"Mama aja yang urus!"


"Iya, tenang aja. Mama yang handle semuanya."


"Hemm!"


"Oh ya, apa Mama harus mengundang orang tua Tafli?"


Seketika Gadhi terdiam.


"Ma!"


"Mama sudah akrab dengan keluarga mereka, selain karena hubungan bisnis, ibunya Tafli teman sosialita Mama. Rasanya aneh gak Mama undang."


"Jangan, nggak usah."


"Kenapa? Kamu masih suka dengan gadis itu? Kalau iya ... Mama juga bisa handle. Tafli jauh lebih terpandang, bibit bebet bobot Tafli jelas. Dari pada wanita udik itu."


"Maaa!"


"Mama bicara fakta, oh ya. Bagaimana perjanjian pra nikah, apa dia menerimanya?"

__ADS_1


"Hemm!"


"Lalu? Apa dia mengajukan syarat tertentu."


Gadhi kembali diam. Kok mamanya tahu.


"Ya."


"Apa itu?" Nyonya Geni kepo.


"Apa dia minta rumah? Apartment? Kapal? Atau apa?" cerocos Nyonya Geni yang menuduh Hanum wanita matre.


"Sudahlah, Ma. Gadhi mau berangkat kerja!"


"Tunggu dulu. Mama belum selesai bicara."


"Apalagi, Ma?"


"Apa syaratnya?"


Karena sang mama terus menyudutkan, Gadhi akhirnya mengeluarkan sesuatu dari dalam tas.


"Mama lihat sendiri."


Nyonya Geni pun bergegas membuka surat perjanjian pra nikah putranya.


"Apa? Siapa yang menulis ini? Kau apa dia?" tanya Nyonya Geni tak percaya setelah membaca pasal nomor tujuh.


"Dia yang menulisnya."


"Ya ampun, anak ini tidak bisa dipandang remeh. Hati-hati, dia hanya berpura-pura. Mama hafal wajah-wajah palsu sepertinya. Dan lagi ... Mama gak mau punya cucu darinya. Awas kamu jangan macan-macam setelah menikah. Mama gak mau kamu jatuh cinta dengannya. Ini hanya pernikahan kontrak satu tahun."


"Mama bicara apa?"


Gadhi menghela napas panjang, ia terlihat kesal.


"Siapa tahu nanti dia menggodamu, dan terperangkap oleh bujuk rayunya. Dia ini asal usulnya gak jelas. Mama mau cucu mama dari wanita yang jelas bibit bebet bobot semuanya."


"Sudahlah, Ma. Gadhi berangkat dulu."


***


D'Rose House


Hanum sedang mandi berendam dengan ribuan kelopak mawar. Menjelang hari pernikahan, madam Li sangat memanjakan tubuhnya. Latihan fisik mulai dikurangi, diganti dengan perawatan yang memanjakan diri.


Setelah berendam, Hanum pun diminta ganti pakaian. Kemudian sebuah mobil sudah siap membawa mereka.


***


"Madam, ada apa ini? Siapa yang sakit? Kenapa Kita ke rumah sakit?" Hanum bertanya ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti di salah satu rumah sakit.


"Nona akan melakukan serangkain pemeriksaan."


Madam Li kemudian menatap tabletnya. Madam Li juga menjawab pertanyaan Hanum dengan sangat tenang.


"Saya sehat Madam, Madam Li juga tahu."


"Bukan itu, Nona. Ini pemeriksaan yang lainnya."


"Pemeriksaan apa?"


"Ehem!"


Madam Li berdehem, kemudian sedikit mendekat ke telinga Hanum. Ia lalu berbisik pelan.


"Untuk pemeriksaan uterosalpingografi, dan ... emmm. Untuk test keperawanann, Nona."


Madam Li tampak tidak enak menjelaskan semua ini. Dan dia juga merasa Hanum sekarang sama sekali tidak nyaman.


"Apa perlu sejauh ini, Madam?" protes Hanum.


"Tuan besar yang menentukan, Nona. Saya hanya menjalankan perintah."


Hanum menghela napas dalam-dalam. Rasanya ia ingin teriak.

__ADS_1


"Mari, Nona."


Madam pun meminta Hanum ikut dengannya. Dalam hati Hanum, ia ingin menolak. Tapi dia sudah menandatangani dua perjanjian sekaligus.


Di lorong rumah sakit yang panjang, dari belakang Hanum mengenali sosok yang berjalan di depannya.


"Untuk apa dia juga di sini?" gumam Hanum lirih. Dan ternyata madam Li mendengar.


"Sama seperti Nona. Kalian berdua akan melakukan test."


Hanum langsung menoleh, menatap madam Li yang berjalan di sebelahnya.


"Hah?"


"Iya, Nona. Tuan besar ingin kalian segera mendapat keturunan. Jika ada kendala di awal sebelum menikah, maka semua bisa diatasi. Sekarang pengobatan sangat canggih. Jika salah satu ada masalah, makan penanganan lebih cepat akan lebih baik."


Hanum semakin tercenggang, ia sangat ingat dengan tulisan tangan di atas kertas perjanjian pra nikah. Pasal 7, ya pasal itu sudah tertempel jelas di dahinya.


***


Ruang pemeriksaan


Gadhi sudah duduk dengan jengkel sejak tadi, begitu Hanum masuk, makin darahnya naik. Keduanya saling melempar tatapan tajam.


"Silahkan ganti baju."


Perawat datang, memberikan baju ganti pasien pada keduanya.


"Aku rasa kakek harus kecewa! Karena mana mungkin aku ..." Gadhi berhenti bicara karena Hanum melotot tajam ke arahnya.


'Astaga! Hanya karena kau terlihat sedikit cantik, kau mulai berani menatapku dengan sombong. Awas kau!' ancam Gadhi.


Pria itu langsung menyibak kerai dan ganti baju. Setelah ganti baju, ia kemudian mendekati Hanum. Dilihatnya gadis itu gelisah. Hanum mencengkram ujung bajunya.


"Kau kenapa?"


Hanum tidak menjawab.


"Ini hanya tes kesuburan biasa. Kenapa kau cemas sekali?" ledek Gadhi.


"Tes kesuburan? Hanya tes kesuburan?" tanya Hanum balik dengan kecewa.


Gadhi yang tidak tahu, ia pun menatap aneh pada Hanum. Mengapa gadis itu terlihat emosional.


"Ini melangar HAMmm!" ucap Hanum kemudian dengan lirih.


"Kau bicara apa? Ini hanya mengetes Kita subur atau tidak!" celetuk Gadhi.


Tap tap tap


"Nona Hanum?" seorang perawat datang dan meminta Hanum pergi bersamanya.


Tanpa kata, Hanum meninggalkan Gadhi seorang diri. Penasaran, mengapa reaksi Hanum berlebihan, Gadhi pun mencari madam Li.


"Madam!"


Madam Li yang dipanggil pun mendekati Gadhi.


"Iya, Tuan."


"Kenapa Hanum terlihat sangat kurang nyaman, sebenarnya pemeriksaan apa yang akan dilakukan padanya?"


Madam langsung mengalihkan perhatian, ia tidak mau menjawab.


"Madam Li? Aku bicara denganmu!"


"Em ... itu. Itu kemauan Kakek."


"Katakan dengan jelas."


Karena dipaksa, akhirnya madam Li mengatakan yang sebenarnya.


"Apa?"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2