Crazy Rich

Crazy Rich
Marah


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 41


Oleh Sept


Gadhi dan sekretaris Jo sudah berada dalam sebuah pesawat. Mereka akan terbang ke Washington DC beberapa saat lagi. Keduanya duduk di first class. Tentunya jenis kelas yang paling mahal. Dan tentu saja fasilitanya paling mewah. Sudah seperti raja selama berada di dalam sana.


Gadhi sudah didampingi asisten yang mengurus semua hal. Mulai dari membawa bagasi, membantu proses imigrasi, sampai mengantar ke pesawat. Ia bahkan tidak perlu mengantre saat masuk pesawat karena ada jalur khusus untuk First Class. Tersedia kursi empuk dengan pembatas di sekeliling tiap penumpang untuk menjaga privasi.


Di dalam sana juga tersedia layar LCD dengan headphone untuk menonton berbagai hiburan selama dalam perjalanan. Makanannya pun sangat mewah dan komplet. Tapi sepertinya semua terasa hambar bagi lidah seorang Gadhiata Ratama Prakash.


Burung besi itu sudah mengudara dua jam lebih, Gadhi hanya melamun, seperti sedang memikirkan sesuatu. Kadang matanya terpejam, tapi sepertinya pria itu tidak benar-benar tidur. Sedangkan sekretaris Jo, pria itu sudah tidur beberapa saat lalu. Lelah mengurus masalah sang bos, kini Jonathan mau istirahat barang sebentar saja.


***


Ballumax Luxury Hotel, presidential suite.


Hanum mengerjap, dahinya mengkerut. Ada rasa perih yang membuatnya cukup merasa sakit untuk bergerak. Ini semua karena ulah satu pria. Ya, ini adalah hasil karya suaminya sendiri. Ia kemudian mencoba untuk bangun, berusaha menahan rasa nyeri yang menghujam tubuhnya.


Hanum berjalan meringiss, ia menuju kamar mandi sambil berpegang pada dinding. Semalam Gadhi menerobos masuk dengan paksa, meninggalkan rasa sakit pagi harinya.


"Jam berapa ini?" Hanum menoleh, melihat sekeliling. Kamar sudah rapi. Matanya tertuju pada jarum jam warna emas yang menempel pada dinding putih bersih.


"Aku tertidur cukup lama rupanya."


Hanum pun membersihkan diri, saat ia selesai mandi, tiba-tiba madam Li sudah ada di dalam kamarnya.


"Sudah bangun, Nona?"


Hanum mengangguk pelan. Ia berjalan hati-hati, dan sadar madam Li sedang memperhatikan dirinya.


"Nona baik-baik saja?"


Hanum mendongak sedikit, kemudian mengangguk.


"Nona pasti lapar, saya pesankan makanan yang baru, sepertinya yang itu sudah dingin!" Madam Li menatap meja yang berisi makanan. Sepertinya sebelum pergi Gadhi meminta pelayan menyiapkan semuanya.


"Terima kasih, nanti saja. Aku belum lapar," ucap Hanum murung. Mungkin dia mencari sosok Gadhi yang tidak ia temui sejak tadi.


"Baik, Nona."


Sepanjang hari Hanum hanya berbaring, tubuhnya terasa ngilu. Tulang-tulangnya nyeri semua. Membuat Hanum ingin rebahan saja. Apalagi kalau buat jalan, rasanya amat perih. Semalam Hering sangat perkasa, memaksa masuk dengan segala cara. Membuat Hanum tidak kuasa dan kini meninggalkan jejak perih yang terasa sampai sore menjelang.


"Nona ... Nona belum makan. Apa Nona kurang enak badan?" madam Li khawatir. Hanum hanya berbaring tanpa menyentuh makanan.


"Aku tidak lapar, Madam!"


Hanum menarik selimut, ia pun memejamkan mata lagi. Sampai pukul 7 malam, Hanum terbangun. Dilihatnya kamar masih kosong.


'Untuk apa aku mencarinya?' batin Hanum kecewa. Sejak bangun sampai malam ini, Gadhi belum kelihatan sama sekali. Hanum juga tidak mau bertanya pada Madam Li. Ia pendam sendirian.


***


Esok harinya, Hanum bangun sedikit agak segar. Tubuhnya yang lemas seolah kembali mendapat energy lagi.

__ADS_1


"Nona!" panggil madam Li yang duduk di samping ranjang.


Hanum menatap wajah cemas itu, kemudian akan mengerakkan tangannya. Tapi terasa berat. Ia malah terkejut saat tangannya sudah dipasang infus.


"Madam! Apa yang terjadi?"


"Nona semalam lemas dan pingsan. Untung dokter langsung datang. Hari ini kita akan ke rumah sakit. Tuan besar minta Nona dirawat di rumah sakit."


"Madam! Aku tidak apa-apa. Dan untuk apa aku diinfus?"


Madam menghela napas panjang.


"Nona semalam mengigau ... emm!"


Madam kesulitan untuk berterus terang.


"Memangnya semalam aku kenapa?"


Flashback


Kejadian tadi malam.


"Gad! Jangan ... hentikan!" Hanum mengigau berkali-kali meminta Gadhi tidak melakukan apapun padanya.


"Aku mohon! Jangan lakuin ...!" Hanum menangis dengan mata yang masih tertutup. Melihat hal itu, madam Li panik.


Apalagi saat ia pegang tubuh Hanum, istri Gadhi tersebut malah badannya demam. Mungkin juga karena tidak makan seharian. Akhirnya, madam Li memanggil dokter dan perawat.


Flashback End


Hanum langsung memalingkan muka.


"Madam ... tinggalkan aku sendirian."


"Nona!"


"Aku ingin sendiri!"


Akhirnya mau tidak mau madam Li pun keluar.


Sore hari, Hanum meminta check out. Lama-lama di kamar itu hanya membuat sesak. Sakit hati karena sudah dua hari ini Gadhi tidak menemui atau bahkan menghubungi dirinya.


***


"Jika Nona tidak mau ke rumah sakit, tuan besar meminta Kita langsung pergi ke rumah tuan besar. Sambil menunggu tuan muda pulang," ucap madam Li kemudian, saat mereka sudah ada di lobby hotel.


"Nona ... Nona Hanum!" panggil madam Li yang memperhatikan Hanum hanya diam saja. Dua hari ini Hanum benar-benar murung, membisu sama sekali tidak bicara.


'Aku ingin tahu dia ke mana? Tapi mulutku terlalu angkuh untuk menanyakan dia di mana. Aku marah, kecewa, benci, tapi semua masih bisa aku pendam. Ini bukan apa-apa, aku terlanjur terjerat dengan perjanjian pernikahan yang bodohhh ini!' batin Hanum.


Madam Li kembali memperhatikan sorot mata Hanum yang kosong.


'Kenapa Nona hanya diam? Dia bakan bisa bertanya tuan muda ke mana? Apa mereka sedang bertengkar hebat? Tapi bukankah setiap saat keduanya memang selalu berdebat? Nona ... sepertinya Nona sudah mulai terusik. Tapi sikap tuan muda yang dingin, membuat Nona ragu. Apakah betul dugaanku?' dalam hati madam Li bertanya-tanya, ia juga menatap kasihan pada Hanum.

__ADS_1


Kediaman Mahindra Prakash


Sebuah rumah dengan pagar menjulang tinggi, halaman sangat luas. Dengah sesain rumah seperti berbau Timur Tengah. Ini bukan rumah, malah terlihat seperti istana president.


"Akhirnya kamu datang ... Kakek dengar kamu sakit?"


Hanum tersenyum tipis saat kakek Mahindra menanyakan kabarnya. Bila kemarin kakek Mahindra terlihat sama dinginnya dengan Gadhi, sekarang sedikit berbeda. Pria tua itu bahkan melempar senyum ramah padanya.


"Nggak, Kek. Hanum sudah sehat."


"Syukurlah."


Mereka pun bersantai, keduanya berjalan kaki di halaman rumah kakek Mahindra yang penuh dengan sangkar satwa langka.


"Hanum ...!"


"Iya, Kek."


Mereka berjalan cukup pelan, sambil berbincang santai dan menikmati udara segar di sana.


"Apa Gadhi menyakitimu?"


Hanum berhenti melangkah. Kemudian ia menggeleng pelan.


"Bagus ... dia cucu kesayangan kakek. Tapi mulai sekarang, kakek akan lebih sayang padamu. Jadi bila Gadhi melukaimu ... adukan pada kekak. Biar kakek yang menghajarr anak itu!"


Hanum yang murung tiba-tiba tersenyum kembali. Sepertinya madam Li sudah melapor apa-apa yang sudah terjadi antara pengantin baru tersebut.


'Kau harus bisa menangani masalah ini, Hanum ... ini baru awal. Kelak, masalah di depanmu bersama Gadhi akan jauh lebih besar!' batin kakek Mahindra kemudian mengusap kepala Hanum.


"Kakek lelah, Ayo masuk."


Hanum pun mengangguk.


Malam harinya. Hanum tidur di salah satu kamar di rumah kakek Mahindra. Rumahnya sangat besar, bahkan kamar yang ditempati Hanum saat ini luasnya hampir sama seperti kamar hotel yang kemarin ia tempati bersama Gadhi.


Mungkin masih masa pemulihan setelah sempat sakit sedikit kemarin. Malam ini Hanum langsung tidur setelah minum beberapa obat dari Madam Li.


Pukul 2 dini hari.


Hanum kembali mimpi buruk, dahinya dipenuhi keringat. Sepertinya aksi Gadhi saat mabukkkk, cukup meninggalkan bekas trauma pada diri wanita itu.


Hanum yang basah karena mandi keringat, akhirnya turun dari ranjang. Ia ke kamar mandi, membasuh wajah untuk menyegarkan diri.


Saat ia kembali, matanya tertuju pada sebuah koper warna silver yang ada di kamarnya.


"Gadhi!" gumam Hanum.


Reflek kakinya melangkah mencari sosok pria itu, matanya memindai seluruh ruangan. Dilihatnya Gadhi sudah tidur sambil duduk di sofa.


"Brengsekkk!" BERSAMBUNG


Aduh babang ... bikin hati cekot-cekot. Hehehe

__ADS_1


IG Sept_September2020


Fb Sept September


__ADS_2