Crazy Rich

Crazy Rich
Burung Hering


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 33


Oleh Sept


Siapa yang masih lanjut tanpa terlewati kata demi kata? Belum ada KTP sebaiknya mundur teratur atau bisa dilewati dengan menekan tombol selanjutnya. Terima kasih bestie.


***


Kawasan Rawan Gempa


...


"Aku mohon! Hentikan!" pinta Hanum lirih sembari menekuk kedua kakinya. Tangannya mendorong kuat da da bidang yang ditumbuhi bulu-bulu lembut tersebut.


Gadhi kembali menangkap jari-jari Hanum, menggengam, kemudian meremassnya. Bagaimana ia bisa menghentikan semua ini? Tidak ada tuas yang mampu mengerem hasrath pria yang sudah di ujung tanduk itu.


'Aku tidak bisa menghentikan tubuhku ... aku hanya ingin melakukannya!'


Gadhi kembali melahap apa yang sejak tadi membuat wajahnya terasa hangat. Baru bertama kali ia melihat benda itu secara live. Biasanya hanya lewat gambar atau video iseng.


Meskipun tampan, kaya, dan lebih segalanya, Gadhi bukan tipe casanova seperti sepupunya itu. Ia punya prinsip, hanya akan melakukan hubungan itu dengan orang yang ia cintai setelah menikah. Mungkin kuno, tapi pria itu memang demikian.


Sepertinya hanya sekretaris Jo saja yang percaya bahwa Gadhi masih perjaka. Meskipun sejak remaja, keperjakaan yang sejati sudah direnggut paksa oleh tangannya sendiri.


Saat ini tidak peduli jika belum mencintai Hanum, mau bagaimana lagi? Burung pipit sudah mau terbang, sepertinya ingin segera cepat-cepat masuk sangkar. Jika bukan karena ulah mereka semau, Gadhi pasti sudah bisa menahan untuk tidak menyentuh Hanum.


"HENTIKAN!" sentak Hanum dengan suara berat dan serak. Ia kelimpungan ketika Gadhi mengigit sesuatu yang disukai anak bayi tersebut.


"Aku mohon!" Hanum mengeliat, akhirnya Gadhi pun melepaskan bibirnya. Tapi tidak untuk berhenti, pria yang sudah gelap mata, hilang kendali, tidak bisa mengontrol diri lagi, akhirnya melakukan apa yang harus ia lakukan.

__ADS_1


Hanum pun sama, bibirnya terus saja meminta Gadhi menghentikan semua aksinya. Tapi tangannya kini malah mencengkram punggung suaminya itu. Ia tinggalkan goresan kecil, membuat Gadhi tambah dikuasai api gejolak yang semakin terbakar.


Cupppp


Keduanya benar-benar tidak selaras, antara hati, ucapan, pikiran dan tubuh mereka. Seperti sudah tidak tertolong lagi, jalan satu-satunya hanya saling membuat masing-masing merasa puas.


Cup ...


Gadhi kembali menyesap leher Hanum yang jenjang, ia tinggalkan bekas merah ruam di semua permukaan. Tidak hanya satu kali, pria itu membuat Hanum layaknya cacing percobaan malam ini.


"Aku tidak tahan lagi ...!" ucap Gadhi serak. Matanya menatap Hanum, dan gadis itu hanya mengerjap. Dilihatnya tangan Hanum lagi-lagi meremass seprai, itu karena Gadhi sudah main-main di daerah terlarang. Jari-jarinya bahkan bergerak bebas menyusuri hutan dan mengusap sesuatu yang paling sensitive jika tersentuh.


"Ada apa dengan tubuhku?" Pandangan Hanum buram, ia merasa tidak bisa lagi menguasai diri.


Gadhi tahu, bagaimana Hanum sangat tersiska, sudah pasti gadis itu ingin segera dibebaskan, sama seperti dirinya saat ini. Akhirnya, dengan perlahan Gadhi menurunkan wajahnya. Ia menempelkan bibirnya, perlahan ia sesap.


'Rasanya aku ingin meledak!!' Gadhi.


'Aku hanya ingin miliknya sekarang!' Hanum.


Keduanya semakin larut, saling bertautan hingga sesapan itu semakin dalam dan menuntut.


Gadhi tersentak, ketika tangan Hanum berani menyentuh burung pipit. Seumur-umur baru kali ini ada gadis yang menyentuh miliknya. Reflek Gadhi menarik diri, wajahnya semakin panas.


Sedangkan Hanum, gadis itu terlihat mengantur napasnya yang semakin memburu, sepertinya dosis Hanum lebih besar, sehingga Hanum jauh lebih aggressive saat ini.


Padahal Gadhi sudah mundur, tapi Hanum malah merapat. Ya keduanya sudah dalam posisi duduk di atas ranjang.


"Kau menyukainya?" tanya Gadhi dengan wajah pengen. Jakunnya sudah naik turun.

__ADS_1


"Aku pikir aku sudah gila!" ujar Hanum jujur kemudian langsung duduk di atas tubuh suaminya.


'Akulah yang sudah gila!' batin Gadhi.


Happpl ...


Ia langsung melahap sesuatu yang menggantung dan membuatnya gelisah. Sedangkan tangannya, sibuk memainkan yang lain. Satu ia lahap, satu ia mainkan.


Hanum mendesis, membuat Gadhi makin semangat menyesapnya.


"Aduhhhhhhh!" jerit Hanum ketika gigi-gigi Gadhi mulai mengigit lagi.


Gadhi yang sudah mengila, malah melempar senyum.


'Gila! Dia tersenyum?' rutuk Hanum.


"Aku suka aromanya ...!"


Hampppp ...


Seperti bayi kecil, Gadhi benar-benar kurang waras.


Karena merasa geli, tidak tahan dan ingin digaruk, Hanum langsung saja mendorong tubuh suaminya. Ia lalu merebahkan tubuhnya, tangannya memeluk tubuh bagian atas, menyembunyikan sesuatu dari pandangan Gadhi.


Gadhi pun beranjak, pria itu kemudian merentangkan kaki Hanum. Dengan percaya diri yang sangat tinggi, ia tunjukkan burung pipit yang kini sudah berubah menjadi burung Hering. Ya, burung itu nantinya akan siap mencabikkk Hanum sampai dedel duwel.


Wkwkwkwkw


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2