Crazy Rich

Crazy Rich
Pergi


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 40


Oleh Sept


Sedikit himbauan, anjuran dan sebaiknya skip. Demi kesehatan jiwa-jiwa jomblo yang kesepian.


***


Gadhi mungkin tidak bisa menahan diri, apalagi dia sudah dikuasai oleh pengaruh al kohol. Alhasil pria itu melakukan semuanya, meski tangan Hanum mendorong da da bidangnya, pria itu malah semakin giat menyerang.


"Pria me sum!" Hanum berhasil mendorong wajah Gadhi sekali. Berikutnya pria itu langsung melahap bibirnya tanpa ampun.


Sekretaris Jo, yang merupakan pria jomblo, jelas tidak mau berlama-lama di dalam sana. Resah, gelisah sendiri akibat ulah bosnya tersebut. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar, membiarkan Gadhi memangsa Nona mudanya.


***


"Kau sudah gila!"


Hanum lari saat pria itu lengah, bibirnya kebas akibat ciuamann paksa dari pria yang kini berstatus suami sah tersebut.


KLEK KLEK


Hanum berusaha membuka pintu, tapi sepertinya dikunci dari luar. Ia semakin panik ketika menoleh ke belakang.


"Gad! Kau sungguh gilaaa!"


Hanum panik, Gadhi malah melepaskan sabuk dan menurunkan celana berbahan kain yang ia kenakan.


Tok tok tok


"Sekretaris Jo! Buka pintunya!"


Di luar sudah kosong, tidak ada orang. Sekretaris Jo sudah masuk kamarnya. Untuk apa ia menunggu di luar kamar pengantin? Hanya membuat jiwanya resah saat telinganya harus menangkap suara-suara yang lebih horor dari pada suara malam jum'at kliwon di tengah kuburan.


Krekkkk ...


Hanum melotot, matanya mau keluar ketika Gadhi menarik bajunya dengan paksa. Kain itu sampai robek akibat tarikan kuat dari pria mabukk tersebut.


BUGH ... BUGH ...


Hanum memukul dan mendorong tubuh bidang itu secara bersamaan, tapi sama sekali tidak terasa sakit, Gadhi malah semakin mendekat, merapat dan mengunci ruang gerak istrinya itu.


"Gadhi! Aku mohon sadarlahh!" suara Hanum langsung menghilang di tengah malam ketika bibir Gadhi sudah mulai melakukan aksinya dengan brutalll.


Gadhi terus saja melakukan serangan demi serangan, tidak peduli penolakan, pukulan dan tendangan yang diberikan Hanum, dia mabukk tapi masih kuat. Jiwanya sedang dikuasai arwah yang sedang mengebu-ngebu. Ingin makan Hanum sekarang juga.


"Gaddd!"

__ADS_1


Hanum tidak bisa lari, sebab Gadhi sudah mencengkram kedua lengannya. Pria itu mendesak sampai ia tersudut dan menempel pada dinding ruangan.


Mata Hanum terpejam, sungguh ia ingin menendang burung Hering yang mulai berani memperlihatkan taringnya tersebut. Tapi apa daya, kakinya terasa lemas, mendadak lututnya ngilu. Gara-gara serangan lidah Gadhi yang bertubi-tubi.


"Lepaskan," pinta Hanum dengan suara lemah, sebab Gadhi sedang bermain pada bagian paling sensitive.


Gadhi kemudian melepaskan cengkraman tangannya, lalu membawa hanum ke sofa. Hanum terus menolak, masih berusaha kabur. Tapi Gadhi yang sudah dikuasai arwah gentayangan, langsung memaksa. Ia tarik lengan Hanum sampai istrinya itu menurut.


Bukkk ...


Ia jatuhnya tubuh Hanum di atas sofa, kemudian duduk di atasnya. Sambil melepaskan kancing baju yang tersisa, lalu melempar ke sembarang arah.


Malam ini sangat berbeda dengan semalam, jika semalam keduanya sama-sama larut, sekarang Hanum merasa sedang diperkusi oleh suaminya sendiri.


Gadhi malam ini sangat kasar, memaksakan kehendak. Meskipun, Hanum tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi saat Gadhi tanpa permisi langsung memasukkan burung Hering.


Jelas Hanum meringis menahan sakit, sudut matanya mengeluarkan bulir bening. Bersamaan dengan naik turun Gadhi. Ya, pria itu menghajar Hanum dengan paksa malam ini.


Ketika Gadhi mulai menegang, Hanum ingin meloloskan diri kembali. Ia tidak mau menampung banyak-banyak benih crazy rich minim ahlak tersebut.


Sayang, pria itu mencengkram bahu Hanum sangat kuat saat akan melepaskan barisan kecebong-kecebong calon penerus Tourshine Groups itu.


Pun sama halnya dengan Hanum, meski dipaksa dan sangat sakit, gerakan berirama Gadhi cukup membuatnya gelisah. Apalagi Gadhi terus saja bermain-main dengan semua apa yang ada padanya. Membuat Hanum mati kaku dan tidak berdaya.


....


Bukkkkkk


Keduanya langsung lemas, karena lama-lama Hanum ikut terbawa suasana. Meski tangannya mencengkram sisa baju yang ia kenakan, Hanum tidak mampu berbuat apa-apa.


Ia bahkan bisa merasakan detak jantung Gadhi yang bergemuru. Berdegup sangat kencang, terasa begitu jelas saat kulit keduanya saling bersentuhan.


***


Pukul 5 pagi.


Gadhi terbangun, ia mengerjap. Sedikit tersentak saat baru membuka mata malah melihat rambut dalam pelukannya.


'Di mana ini?'


Gadhi merasa semalam ia ada di kamar Tafli sebelum mabukk. Panik, ia kemudian menyibak rambut yang menutupi wajah wanita yang ada dalam pelukannya.


Pelan-pelan ia singkirkan helai demi helai yang menutupi wajah perempuan itu. Setelah terlihat sedikit jelas, ada rasa lega.


Gadhi kemudian menoleh ke samping, ia malah hampir jatuh. Sebab keduanya saling berpelukan di atas sofa.


Sadar, lama-lama kepingan puzzle kejadian semalam muncul di pelupuk mata. Langsung ia menelan ludah dengan kasar. Pria itu kemudian memperhatikan dirinya, baru sadar kalau tidak pakai apapun. Begitu juga dengan wanita yang tidur dalam pelukannya.

__ADS_1


"Gadhi! Apa yang kau lakukan?" gumamnya lirih.


Karena hampir jatuh, ia pun perlahan mencoba menarik diri. Kemudian setelah berhasil turun dari sofa tanpa membuat Hanum bangun, ia langsung mengenalkan pakaian.


Gadhi mengambil selimut, ia tutupi tubuh Hanum yang tergeletak lemas. Ini pasti karena ulahnya semalam. Setelah itu, ia pergi ke kamar mandi.


Cukup lama ia membasahi tubuhnya di bawah derasnya air shower. Gadhi sembari mengingat hal apa saja yang sudah ia lakukan semalam. Ia kemudian mengusap wajahnya yang sudah basah karena air yang terus mengalir, mengusap wajahnya dengan berat.


Beberapa saat kemudian


Gadhi muncul dengan handuk yang melilit di pinggang. Sedangkan Hanum, istrinya itu masih tidur.


Pukul 6 pagi.


Madam Li mengetuk pintu.


"Tuan, apa Nona Hanum tidur di sini semalam?" tanya madam Li basa-basi. Padahal ia sudah mendengar cerita tersebut dari sekretaris Jo tadi pagi-pagi sekali.


"Hemm."


"Apa Nona sudah bangun?"


Gadhi kemudian membuka pintu sedikit banyak kemudian menutupnya lagi. Madam Li sempat melihat sosok berselimut di atas sofa. Wanita itu kemudian mengangguk mengerti.


"Baik, Tuan. Jika butuh sesuatu, Tuan bisa katakan."


"Pesankan makakan yang banyak," ujar Gadhi.


"Iya, baik Tuan."


KLEK


Gadhi kemudian menutup pintu kamarnya lagi. Kini ia berdiri sambil melipat tangan di depan Hanum yang terlelap. Matanya mengamati jengkal demi jengkal pemandangan yang tertutup kain selimut itu.


'Benar-benar beruang yang suka tidur!' batin Gadhiata Ratama Prakash.


Pria itu kemudian berjongkok di samping sofa, ia amati dari dekat, dengkuran halus yang berirama, dan da danya yang naik turun.


"Dan aku sudah terjebak oleh permainanku sendiri!" ucapnya kemudian berdiri meninggalkan Hanum. Gadhi yang sudah rapi, pagi itu pergi meninggalkan Hanum yang masih terlelap.


***


Di sebuah Bandara International.


Gadhi berjalan bersama dengan sekretaris Jo yang menarik koper.


"Tuan, kenapa jadwal Kita dimajukan?" tanya sekretaris Jo yang merasa aneh, karena tiba-tiba schedule mereka dipercepat. Padahal masih ada waktu sebelum mereka terbang ke Washington DC pagi ini.

__ADS_1


Dan seperti biasanya, Gadhi hanya menjawab lewat tatapan dingin. Artinya ia tidak mau menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.


BERSAMBUNG


__ADS_2