Crazy Rich

Crazy Rich
Pulang


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 38


Oleh Sept


Hanum merasa tidak nyaman lama-lama menghirup oksigen yang sama satu ruangan dengan Gadhi. Rasanya ia seperti menghirup karbon dioksida. Sesak dan membuatnya tidak tahan.


"Hei kau mau ke mana?" teriak Gadhi saat melihat Hanum membawa tas lalu berjalan ke arah pintu.


"Aku butuh udara segar!" jawab Hanum enteng. Ia kemudian memegang knop pintu, siap untuk membukanya.


"Siapa yang mengijinkanmu meninggalkan kamar ini?"


Huffff ....


Hanum menarik napas panjang, kemudinya berjalan mendekati Gadhi.


"Kenapa? Apa aku harus 24 jam di kamar ini?"


"Jika kau pergi lalu siapa yang akan aku suruh?"


Hidung Hanum langsung kembang kempis, Gadhi benar-benar menganggap dirinya seperti asisten.


"Sekretaris Jo! Masuklah!" teriak Hanum kencang. Membuat sang sekretaris yang sejak tadi ada di depan langsung masuk.


KLEK


Begitu pintu terbuka, wajah sekretaris Jo mencuat dari balik pintu dengan tatapan waspada. Takut dia melihat hal yang tidak sepatutnya.


"Apa Nona memanggil saya?"


Hanum melangkah, meskipun agak sakit ia berusaha berjalan dengan normal.


"Aku ingin pergi sebentar ke tempat madam Li, tolong sekretaris Jo tetap di sini."


"Baik, Nona."


Gadhi langsung melotot ke arah sekretaris Jo. Tapi sekretaris Jo tidak mengerti arti tatapan itu. Ia hanya menunduk saja.


***


"Madam! Madam Li ... buka pintunya. Ini aku!"


Di dalam kamarnya, madam sedang menikmati me time. Mumpung pasangan pengantin baru sedang menikmati waktu berduan. Tapi harapannya bisa libur 2 hari ke depan akhirnya sirna. Sepertinya misi mereka mengalami kendala setelah obat itu tidak bekerja.


'Kenapa Nona ke sini?' batin madam Li kemudian membuka pintu.


"Iya, Nona. Ada yang bisa saya bantu."


Hanum langsung masuk dan duduk di tepi ranjang.


"Madam ... boleh aku tidur di sini? Pria itu tidak membiarkan aku tidur semalaman ... aku masih ngantuk!"


Hanum malah curhat, mungkin tubuhnya memang sakit semua karena dibolak-balik oleh Gadhi semalaman. Sehingga ia butuh istirahat.


'Apa mereka melakukan sampai pagi? Astaga! Di mana sekretaris Jo mendapat obat tersebut? Sepertinya ampuh juga.' Madam Li malah berjibaku dengan pikirannya.

__ADS_1


"Baikkan, silahkan tidur Nona." Madam kemudian menurunkan suhu ruangan, agar Hanum bisa tidur dengan nyenyak.


Tidak butuh waktu lama, sepertinya Hanum benar-benar kelelahan. Istri dari Gadhiata Ratama Prakas itu langsung terpejam kurang dari dua puluh menit.


Madam sampai heran, apa Nona mudanya itu sebegitu kelelahan? Hingga mudah sekali tidur di dalam kamarnya.


***


Kamar sebelah.


"Loh ... Tuan bisa berdiri dengan tegap?" tanya sekretaris Jo heran.


Gadhi hanya menatap kesal, kemudian meminta Jonathan menyiapkan pakaian untuk keluar.


"Aku pikir Tuan cidera!" gumam sekretaris Jo.


"Kau menyumpahi aku celaka?"


Jonathan langsung menggeleng keras. "Bukan! Syukurlah Tuan tidak apa-apa."


Gadhi membuang napas kesal, kemudian meraih setelah jas yang sudah dipegang Jonathan.


Beberapa saat kemudian.


Gadhi sudah rapi, ganteng, wangi dan rupawan. Setelan jas yang ia kenakan, dengan ditambah kacamata hitam, membuat pria itu jadi sangat bersinar. Sangat good looking. Jika berdiri sejajar dengan model top Asia, mungkin tidak akan ada bedanya. Auranya keluar sempurna.


"Kita akan ke mana, Tuan?"


"Perusahaan."


"Ada sesuatu yang harus aku urus."


"Oh ... baiklah."


Keduanya pun berangkat dari hotel menuju perusahaan Global Tourshine Groups. Gedung Tourshine, terlihat paling tinggi di antara sekitarnya. Perusahaan yang sudah lama didirikan dengan banyak karyawan.


Ruang kerja Gadhi.


"Jo! Berkas yang kau berikan padaku kemarin di mana?"


"Berkas apa, Tuan?"


"Laporan keuangan beberapa tahun silam."


"Ada di brankas, kan Tuan?"


"Tidak ada."


"Sebentar, saya periksa."


Sekretaris Jo kemudian mencari di seluruh ruangan, tapi tidak ia temukan.


"Tuan meletakkan di mana?"


"Di mana lagi? Pasti aku taruh di sana!" Gadhi mulai naik darah.

__ADS_1


Keduanya terdiam, lalu Gadhi meminta semua rekaman per tanggal sebelum ia menikah.


"Periksa CCTV di ruangan ini."


"Baik, Tuan."


***


BRUAKKK


Gadhi melempar barang yang ada di meja.


"Bagaimana bisa rekaman CCTV tidak ada?" sentaknya marah.


Sekretaris Jo hanya menundukkan wajahnya. Pasalnya ia juga tidak tahu, ketika akan diperiksa, rekaman yang diminta malah tidak ada. Sepertinya ada yang melakukan sabotase.


"Aku mau salinannya, carikan semuanya."


"Maaf, Tuan ... semua yang Tuan minta sama sekali tidak ada."


"Jo!! Bekerjalah dengan professional! Aku tidak mau tahu! Kau harus dapat salinannya. Baik berkas itu atau rekaman CCTV di ruangan ini!"


Jonathan memejamkan mata, sepertinya ia harus kerja keras sampai malam.


***


Pukul delapan malam, sekretaris Jo masih di perusahaan. Dia menemui tim khusus untuk mengembalikan rekaman yang sudah sengaja dihilangkan. Ada staf ahli IT yang khusus membantu Jonathan, jika tidak selesai hari ini, maka dia tidak bisa pulang.


Sedangkan untuk berkas yang hilang, ia sedang mengumpulkan banyak karyawan untuk mencari salinan kembali laporan keuangan yang bersifat rahasia tersebut. Semua orang dibuat lembur oleh Gadhi.


Pukul 11 malam, akhirnya rekaman CCTV yang sudah dihapus bisa dikembalikan. Tapi sayang, yang tertangkap kamera tidak bisa dikenali. Karena sangat lihai sampai wajahnya tidak tertangkap oleh kamera pengawas.


"Siapa orang ini? Pasti ini ada kaitannya dengan pengelapan dana perusahaan."


Gadhi menatap laptop yang sedang memutar rekaman CCTV.


Gadhi kemudian menatap sekretaris Jo yang duduk di sofa. Dilihatnya Jonathan berkali-kali menguap. Ia pun menghela napas panjang, lalu bangkit. Melemaskan otot karena berjam-jam hanya duduk dalam ruangan.


"Kita lanjutkan besok! Ayo pulang!"


Sambil mengusap wajahnya untuk mengusir rasa kantuk, sekretaris Jo kemudian berdiri dan siap untuk pulang.


Di dalam mobil.


"Tuan ... Kita akan pulang ke mana?" tanya sekretaris Jo yang kini menghadapi persimpangan jalan.


"Rumah atau hotel?" tanya Jonathan yang benar-benar belum tahu arah tujuan pulang yang Gadhi maksud. Sebab tadi Gadhi hanya bilang pulang. Sementara itu, ia tidak tahu, pulang ke mana? Rumah atau hotel.


"Hotel!" suara Gadhi terdengar lirih.


Membuat sekretaris Jo tersenyum tipis mendengarnya.


"Baik, Tuan."


Mobil spots itu akhirnya melaju kencang menuju hotel di mana Gadhi semalam menginap. Hotel yang ranjang nya semalaman ia goyangg berkali-kali. Apa Gadhi ingin melakukan hal yang sama untuk malam ini?

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2