Crazy Rich

Crazy Rich
Miracle


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 78


Oleh Sept


Rumah Sakit


Gadhi tidak beranjak sama sekali, ia duduk di samping ranjang tempat Hanum terbaring. Banyak selang yang menempel pada tubuh istrinya. Malam ini, Hanum harus bisa melewati masa kritisnya, agar bisa kembali seperti sedia kala.


Sedangkan kakek Mahindra, ia duduk di sofa. Pria itu tidur sambil terduduk. Tubuhnya yang tidak lagi muda, membuatnya terlihat sangat kelelahan. Terbiasa tidur di ranjang paling empuk dan paling mahal, kini kakek Mahindra tidur di sofa rumah sakit yang pasti tidak nyaman.


Pukul lima pagi.


Gadhi yang tertidur beberapa menit lalu sambil memegang tangan Hanum, tiba-tiba kelopak matanya bergerak. Pria itu tidurnya terganggu karena Hanum mulai mengerakkan ujung jarinya.


'Di mana ini? Kenapa tubuhku sakit semua?'


Hanum mengerjap, mencoba membuka mata secara perlahan. Pandangan matanya buram, ia juga tidak bisa mendengar dengan jelas. Yang ada hanya bunyi tut tut alat monitor jantung.


"Janinku? Bagaimana dengan bayiku?"


Mata Hanum kemudian terbuka lebar, ia ingat dengan anaknya yang belum lahir. Kini fokusnya pada perut. Ia ingin tahu, apa bayinya baik-baik saja.


Dilihatnya kemudian kepala Gadhi, pria itu kelihatan masih tidur. Hanum pelan-pelan menatap sekeliling ruangan. Dilihatnya juga sang kakek yang duduk sampai tertidur. Hanum kembali memejamkan mata, membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

__ADS_1


Tubuhnya kemudian bergetar, menahan tangis tanpa suara. Ia takut, takut jika saat ia bertanya pada mereka semua, ia akan mendapat jawaban yang membuatnya terluka. Hanum hanya bisa menangis, dan sesaat kemudian Gadhi pun terbangun.


"Sayang ... Hanum!"


Gadhi menatap wajah Hanum lekat-lekat, dia kemudian menyentuh pipi Hanum dengan lembut.


"Akhirnya kamu bangun ... terima kasih, terima kasih karena sudah kembali pada kami."


Gadhi mengengam tangan istrinya lembut, kemudian mengecupp punggung tangan itu dengan perasaan lega. Akhirnya, Hanum bangun. Ia tahu, wanitanya itu sangat tangguh.


"Kenapa kau menangis?"


Gadhi mengusap sudut mata istrinya, Hanum tidak bicara tapi bibirnya bergetar menahan tangis. Hanum menangis dalam diam, hanya air mata yang mewakili perasaan wanita tersebut.


"Tenanglah, tenang Hanum."


Gadhi kemudian mencoba menenangkan istrinya.


"All is well!" bisiknya sambil mengusap wajah Hanum dengan lembut.


Pria itu mengangguk, dan sekali lagi mengatakan semua baik-baik saja, semuanya.


Hanum meggeleng pelan, dan tangisnya kembali pecah.

__ADS_1


"Jangan bohong!" ucapnya serak karena tenggorokan Hanum terasa sangat kering setelah siuman.


Wanita itu kemudian kembali menangis, dan kali ini memalingkan wajahnya. Tidak mau memperlihatkan tangisnya pada sang suami. Makin lama, tangisnya semakin menjadi. Rasa sesak seperti memenuhi da da Hanum saat ini.


"Hanum! Dengar aku ... semua akan baik-baik saja. Lihat aku! Hanum!"


Gadhi menangkup wajah sang istri agar menatapnya. Tapi wanita itu malah sesengukan, tidak bisa menahan perasaanya saat ini.


Beruntung sesaat kemudian seorang perawat masuk untuk memeriksa infus dan lainnya. Mengetahui Hanum sudah siuman, perawat tersebut kemudian memanggil dokter.


***


Beberapa jam kemudian, matahari sudah bersinar dengan terangnya. Pagi ini Hanum dibawa ke sebuah raungan yang berbeda. Hanum akan menjalani banyak pemeriksaan menyeluruh. Dan Gadhi sampai saat ini tetap setia menemani.


"Semua akan baik-baik saja!" bisik Gadhi ketika mengantar Hanum masuk ke ruang pemeriksaan.


Hanum hanya memalingkan wajahnya, tidak mau menatap Gadhi. Sejak bangun, Hanum menjadi sangat sensitive. Wanita itu hanya menangis.


Selesai dari ruang pemeriksaan yang satu, Hanum kembali dibawa ke ruang pemeriksaan yang lainnya. Kali ini tangisnya kembali pecah.


"Dokter tidak bohong?" tanya Hanum kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia tidak percaya, ia bener-bener tidak percaya. Setelah apa yang menimpa dirinya tadi malam, Hanum merasa ini seperti mimpi.


"Kenapa kamu tidak percaya ketika aku bilang semua baik-baik saja?" tanya Gadhi dengan wajah sendu. Pria itu menghela napas panjang, kemudian memeluk Hanum yang masih terbaring saat dilakukan cek USG ulang. Dan BERSAMBUNG.

__ADS_1


IG Sept_September2020


__ADS_2