Crazy Rich

Crazy Rich
GENGSI


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 20


Oleh Sept


Sedikit demi sedikit kain tirai putih itu pun perlahan terbuka. Madam Li sengaja menarik tirai itu dengan pelan, karena ia ingin memperlihatkan hasil karyanya selama tiga minggu ini.


Meskipun tadi yang make over bukan madam 100 persen, madam Li hanya memberikan pengarahan seperti biasanya. Dan kali ini madam Li akan memperlihatkan pada dunia, bagaimana ia membentuk Hanum selama ini.


Meski singkat, tapi itu pasti sangat menyiksa gadi tersebut. Dengan menu makanan yang super pelit, olahraga pol-polan. Diet ketat, latihan fisik secara teratur, renang, berkuda, golf, yoga, jogging, dan banyak hal lain lagi yang harus rutin Hanum lakukan begitu membuka mata.


Ia harus merasakan kelaparan, karena bukan tidak ada makanan, tapi karena tuntutan madam Li. Sampai entah berapa helai koyo yang ia habiskan hanya untuk meredam rasa nyeri selama pelatihan itu. Hanum merasa seperti akan mengikuti ajang miss universe yang harus dikarantina terlebih dahulu.


21 hari bukan waktu yang sebentar bagi Hanum, sebab waktu-waktu itu adalah penuh perjuangan. Perutnya yang dulu agak tidak terbentuk, kini ramping merata seperti biola. Ia juga heran, bagian bamper belakangnya kini terlihat aduhai. Entah efek olahraga atau beberapa obat yang ia konsusmi dari madam Li. Yang jelas, Hanum terlihat beda dengan biasanya yang sangat sederhana itu.


Apalagi beberapa hari, ia harus merasakan kesakitan karena harus mencabut bulu-bulu pada kakinya. Ternyata menjadi cantik itu sangat menyiksa, itulah yang Hanum rasakan sekarang.


Tapi sepertinya semua tidak sia-sia, Hanum yang mendapat didikan madam Li kurang dari sebulan itu, yang biasanya berjalan sambil menunduk seperti mencari uang jatuh, kini harus mengangkat dagunya tinggi. Madam Li tidak akan segan-segan marah jika melihatnya menundukkan wajah.


[Nona adalah wajah kedua global Tourshine Groups setelah tuan muda. Jangan perlihatkan kelemahan Nona pada dunia, tunjukkan pada mereka di luar sana, anda pantas berdampingan dengan Tuan Gadhiata]


Itulah adalah nasehat madam Li, ketika Hanum mulai lesu dan tidak bersemangat menjalani pelatihan.


***


Kini, madam Li mulai membuka tabir yang menjadi penutup yang menghalangi pandangan Gadhi dan Hanum.


SREKKKK ...


Ketika tirai mulai tersibak sempurna, maka dengan jelas terlihat sosok gadis dengan gaun pengantin putih yang indah. Gaunya mengembang seperti bunga yang mekar, desainnya pun sangat elegant. Dan sepertinya sangat mahal, terlihat dari banyaknya taburan swarovski yang pasti tidak murah harganya.


Belum lagi tiara yang dipakai di atas rambut Hanum, itu adalah rancangan ekslusif oleh desainer ternama. Harganya mungkin setara dengan sebuah mobil keluaran terbatas.


Ini baru fitting gaun pengantin, tapi Hanum sepertinya malah sudah siap untuk hari-H. Semuanya terlihat sempurna, seperti mau acara yang sesungguhnya.


'Lumayan!' ucap Gadhi dalam hati.


"Bagaimana, Tuan? Cantik bukan Nona Hanum?" tanya madam Li sembari membetulkan gaun pengantin biar terlihat lebih menjuntai indah.


Gadhi yang kala itu sedang duduk menatap calon istrinya, hanya memasang muka biasa. Sebab ia sudah terbiasa melihat gadis cantik. Sudah tidak kaget, ia kan masih dendam dengan Hanum lantaran tragedy segitiga biru. Jadi, meskipun Hanum sekarang sangat cantik, ia pasti akan mengatakan B saja. Ya, biasa saja.


Kendati demikian, hati kecilnya mengakui. Hanum memang terlihat lebih cantik, hanya sedikit. Karena gadis itu masih sangat menyebalkan di matanya.


"Mari Nona ...!" Madam Li kemudian meminta Hanum berjalan keluar dari dalam ruang ganti tersebut.


"Apa sudah selesai? Aku masih punya acara penting yang lain!" ujar Gadhi yang tidak mau lama-lama di sana.


Madam mengeryitkan dahi.


"Tuan bahkan belum mencoba jas pengantin baru Tuan Muda?"


Gadhi baru ingat, kemudian ia hanya bisa menelan ludah. Melihat Hanum seperti ini, ia sampai tidak bisa berpikir jernih. Tanpa ia sadari, sebenarnya ia sudah terpengaruh. Tapi pikirannya menolak keras.

__ADS_1


Sedangkan Hanum, ia terlihat sangat santai. Meskipun lelah karena gaunnya ternyata cukup berat.


"Madam Li, bolehkan aku duduk?" tanya Hanum ketika Gadhi pergi ke ruang ganti.


"Sebentar, aku siapakan. Nanti gaunnya kusut."


Madam Li kemudian membantu Hanum duduk di sofa yang ada di sana. Ia membetulkan gaun Hanum agar tidak terinjak dan rusak. Masalahnya, gaun itu sangat mahal, setara dengan gaji madam Li 5 tahun. Jadi, ia harus hati-hati sekali.


Sementara itu, Hanum malah sangat cuek. Mau keinjek juga dia sama sekali tidak peduli. Toh semua itu bukan miliknya. Hanum pikir itu nanti juga akan dikembalikan pada mereka lagi. Padahal, ini semua adalah hadiah pernikahan dari kakek Mahindra. Semua yang Hanum miliki sekarang adalah miliknya sepenuhnya. Hanya saja gadis itu mana tahu.


Sesaat kemudian


Gadhi muncul dengan setelan jas warna senada dengan gaun yang Hanum pakai, rambutnya kini ditata oleh hair styles sehingga jadi tampak lebih rapi lagi.


Gadhi yang memang sudah tampan sejak lahir, makin terlihat menawan ketika pria itu dirias layaknya pengantin pria. Seharusnya yang melihatnya sekarang pasti langsung jatuh hati, tapi tidak dengan Hanum.


Saat ia melihat Gadhi, isi kepala gadis itu seketika teringat dengan segitiga biru.


'Astaga! Apa yang kau pikirkan Hanum!' batin Hanum merutuki diri sendiri.


"Coba kalian berdiri sejajar, saya ingin mengirimkan fotonya pada tuan besar," pinta madam Li.


Gadhi terlihat malas, tapi karena hasilnya akan dikirim ke kakek Mahindra, alhasil ia melakukannya terpaksa. Begitu juga dengan Hanum, berdiri di dekat pria sombong seperti Gadhi, baginya sangat tidak nyaman.


Kedua calon pengantin itu mencoba mengeluarkan senyum palsu terbaik mereka.


"Bagaimana? Apa kau senang akan menjadi bagian dari keluarga kami?" sindir Gadhi dengan pelan, agar madam Li yang sedang memotret mereka tidak dengar.


"Aku kira kamu yang akan senang, karena tujuanmu akan tercapai!" serang Hanum balik.


'Apa mereka sedang bertengkar? Ini tidak bagus!' batin Madam Li.


'Apa karena mereka tidak bertemu selama 3 minggu? Hubungan mereka jadi kembali dingin?' tebak madam Li dalam benaknya.


"Maaf Tuan Muda, bisa menatap ke sini?" pinta madam Li kemudian.


Gadhi pun menatap ke depan kembali, tapi mulutnya masih komat-kamit.


"Aku belum selesai, setelah ini sepertinya kita harus bicara! Agar kau tahu posisimu di mana!" bisik Gadhi ketus.


***


Benar saja, setelah keduanya ganti pakaian. Gadhi mengajak Hanum bicara empat mata di dalam mobilnya sebelum gadis itu dibawa madam Li lagi ke D'Rose House.


Karena katanya mau bicara hal penting, madam Li pun tidak curiga. Barangkali calon pengantin itu mau temu kangen, madam Li mencoba positive thinking.


Masih di dalam mobil, Gadhi kemudian meraih tas miliknya. Ia mengeluarkan surat perjanjian pra nikah.


"Tandatangi berkas ini!" pinta Gadhi dengan muka serius.


'Apalagi ini?' batin Hanum. Dulu kakek yang menyodorkan perjanjian padanya, sekarang sang cucu. Astaga, keluarga ini sepertinya suka sekali melakukan perjanjian tertulis. Dasar orang kaya.

__ADS_1


"Apa ini?"


"Baca dan tandatangi!" ujar Gadhi tegas tidak ada halus-halusnya.


Hanum lantas mulai membuka berkas itu satu per satu. Bibirnya kemudian tersenyum getir, ternyata semua orang kaya sama saja. Tidak ada yang mau rugi.


"Aku mau poin nomor 7 dihapus." Hanum kemudian memberikan berkas yang semula ia pegang.


Gadhi yang tidak ingat akan poin tujuh, ia pun mengambil berkas dari tangan Hanum, kemudian membacanya kembali.


"Siapa yang menulis ini?" tanya Gadhi pada Hanum. Membuat Hanum menatapnya sebal.


"Ini milikmu, mana aku tahu."


"Joooo!" desis Gadhi kesal.


Pria itu langsung mengambil bullpen, kemudian mencoret pasal tujuh.


[Pihak pertama bebas melakukan apa saja kepada pihak kedua]


Pihak pertama merujuk pada Gadhi, dan pihak kedua pada Hanum.


"Dan lagi ... aku mau pasal baru!"


Gadhi melirik sinis.


"Katakan!" serunya dengan dingin.


"Tidak ada sentuhan fisik! Tidak boleh saling menggoda! Sangat dilarang!"


Gadhi langsung terkekeh, baru pertama kali Hanum melihat gigi-gigi putih itu saat tertawa lepas.


"Hanum ... kau bukan tipeku. Jangan pikir hanya karena kau sedikit dipoles aku akan terkesima. Bagiku ... kamu tetap sama seperti pertama kali aku melihatmu. Jadi, jangan berharap banyak aku akan menyentuhmu nantinya."


"Bagus! Aku tidak perlu khawatir lagi!" timpal Hanum dengan memasang muka biasa, meskipun hatinya dongkol.


Setelah mengatakan itu, Hanum lantas menandatangani berkas perjanjian pra nikah tersebut. Dengan pasal tambahan yang ia tulis dengan tangannya sendiri. Biar kelihatan lebih otentik.


"Ini!" Hanum menyodorkan berkas yang sudah ada tanda tangan miliknya.


"Oke! Keluarlah sekarang!" ujarnya mengusir Hanum dari mobil yang mereka tumpangi. Pria itu kemudian memasukkan berkas ke dalam tas kembali.


Dengan muka masam, Hanum pun keluar. Di depan sana sudah ada madam Li yang menanti.


Gadhi menatap punggung Hanum yang menjauh, sambil berguman pelan.


"Dia terlalu percaya diri hingga membuat pasal baru yang sangat konyol, jika hanya tersisa satu wanita ... dan itu adalah Hanum, aku pastikan tidak akan menyentuhnya. Apa-apaan gadis itu, cantik sedikit sudah kelewat percaya diri!"


Tanpa sadar Gadhi sudah mengakui kalau Hanum memanglah cantik, tapi gengsinya terlalu membumbung tinggi. Bersambung.


G E N G S I

__ADS_1


IG Sept_September2020


Fb Sept September


__ADS_2