
Crazy Rich Bagian 91
Oleh Sept
"Terima kasih!" ucap wanita cantik yang merupakan executive muda tersebut setelah Gadhi membantunya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Gadhi basa-basi.
"It's okay. Thank you."
Wanita itu mengucap terima kasih kemudian tersenyum penuh arti seperti penggoda. Gadhi seolah mengerti, ia kemudian permisi setelah membantu wanita itu duduk di salah satu bangku yang ada di dekat sana.
"Tunggu!" seru wanita tersebut.
Gadhi berbalik, kemudian menunjukkan tangannya. Memperlihatkan dengan jelas ada cincin yang melingkar di jari manisnya. Seolah mengatakan dengan halu. Sorry gue udah nikah!
Wajah wanita itu langsung masam, tersenyum tipis lalu mengangguk.
"Ok, I know!"
Gadhi pun pergi bersama sekretaris Jo yang sejak tadi hanya berdiri memperhatikan keduanya. Sambil jalan, setelah jauh dari wanita yang sempat satu penerbangan dengannya. Gadhi mulai protes pada Jonathan.
"Kenapa kau hanya diam saja?" cetus Gadhi.
"Saya tidak bisa membantu, Tuan. Dan lihatlah ... begitu saya datang dengan barang-barang ini ... dia langsung merangsek Tuan."
"Astaga! Hanum! Aku tadi sedang telpon dengannya."
Setelah mendengar ucapan Jonathan, Gadhi pun berhenti dan kembali melakukan panggilan video. Sekali di reject, dua kali malah tidak tersambung.
"Jo!" panggilnya pada pria yang menarik dua koper sekaligus.
"Telpon madam, Li!"
"Apa batre Tuan habis?"
"Jangan banyak bertanya, telpon istrimu sekarang juga."
Jonathan tersenyum simpul, kemudian meletakkan dua koper di sebelah bangku yang ada di dekatnya. Ia pun menghubungi madam Li.
"Hallo, iya ... apa sudah sampai?" tanya madam Li di telpon begitu suaminya menelpon.
__ADS_1
"Sudah, baru beberapa saat yang lalu. Nona ada? Tuan muda mau bicara."
Madam Li yang ada di rumah Hanum, seketika menatap wanita yang juga melotot padanya. Hanum menggeleng keras. Yakin itu pasti ada hubungannya dengan Gadhi.
"Nona sedang repot. Tidak bisa bicara sekarang ini," jawab madam Li mencari alasan.
"Hallo, Madam! Aku tahu dia di depanmu. Berikan ponselmu kepadanya!" suara Jonathan berubah jadi suara Gadhi. Ya, pria itu mengambil alih ponsel Jonathan.
Tidak menunggu lama, madam Li langsung memberikan ponsel di tangannya untuk Hanum. Sayang, Hanum malah beranjak dan pergi.
"Hanum! Aku tahu kau di situ ... hallo?"
"Maaf Tuan, nona sedang repot."
Bukan suara Hanum, malah suara madam yang terdengar. Kesal, Gadhi langsung memberikan ponselnya pada Jonathan.
***
Tiba di hotel, Gadhi menghubungi telpon rumah. Hanya pelayan yang bicara, begitu minta dipanggilkan Hanum, ada saja alasannya.
"Ya ampun Hanum! Ini Keterlaluan ... kamu seperti tidak tahu aku!"
Brukkk
...
Hari pertama di luar negeri untuk urusan bisnis, semua berjalan lancar. Tapi setelah kembali lagi ke hotel, Jonathan harus menerima kemarahan tak jelas Gadhi. Kesal karena Hanum tidak mau bicara, yang kena amukan malah Jonathan, sang sekretaris.
Malam kedua di LN.
"Vcall madam Li. Di sana sudah pagi!" pinta Gadhi pada Jonathan.
Sekretaris Jo langsung menurut, ia kemudian melakukan panggilan video.
"Sayang!" sapa Jonathan begitu panggilan tersambung.
"Ya," jawab madam Li dengan ekspresi kaku seperti kanebo.
"Pasti sedang di rumah bersama nona Hanum, boleh kah arahkan kamera padanya?"
"Jangan ikut campur masalah suami istri. Sudah dulu ... aku matikan. Aku sangat sibuk."
__ADS_1
"Sayang! Eh ... Sayang!"
Tut tut tut
Jonathan hanya bisa mengaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Ia jadi ikut imbasnya dikacangi oleh madam Li. Sementara itu, Gadhi yang semula kesal. Ia sedikit tersenyum karena merasa ada temennya.
***
Tidak terasa empat hari sudah berlalu, Gadhi hanya bisa bicara dengan anak-anak lewat panggilan video. Tapi sama sekali tidak bisa melihat wajah istrinya. Hanum yang manis di matanya itu, sedang merajuk. Ngambek cukup lama. Membuat Gadhi ingin cepat pulang. Sayang, ia harus bekerja professional. Tunggu saja nanti kalau sudah di rumah. Ia yang akan membalik keadaan. Mana boleh Hanum cuek padanya sampai tidak mau menjawab vcall darinya. Malah anak-anak yang antusias, Hanum sama sekali tak menampakkan diri. Sibuk menyembunyikan diri. Hemm ... awas kalau pulang.
Bandara
Jonathan kelihatan masih dikuasai rasa kantuk, harusnya mereka pulang besok. Karena Gadhi memaksa segera pesan ticket, akhirnya mereka buru-buru. Ya, keduanya pulang sehari lebih awal. Gadhi mau memberikan pelajaran pada Hanum yang menghindar empat hari ini darinya.
"Jangan bilang istrimu kalau kita sudah tiba," pesan Gadhi saat mereka keluar dari Bandara.
"Baik, Tuan."
Sepanjang jalan, Gadhi sudah tidak sabar. Tapi setelah pagar rumahnya tampak jadi jendela mobil. Dia langsung meminta sopir berhenti.
"Stop! Turunkan saya di sini. Dan antar Jonathan pulang!"
"Baik, Tuan."
Mobil itu pergi sebelum memasuki pagar rumah sang Milyader. Sengaja, biar Hanum tidak menyadari kedatangan dirinya. Gadhi mau mengejutkan istrinya dan membuat pembalasan.
...
Tap tap tap
Ia berjalan sangat pelan, agar Hanum tidak menyadari kedatangannya. Begitu masuk, ia memindai seluruh ruangan. Mencari Hanum orang pertama yang ingin ia temui.
Gadhi memeriksa kamar anak-anak. Semua masih tidur, karena ia tiba pagi-pagi sekali, bahkan matahari saja belum menampakkan sinarnya.
Yakin, Hanum pasti di kamar. Dengan kunci miliknya, ia buka kamar utama. Benar saja, Hanum masih tidur. Meski cahaya remang-remang, ia yakin itu istrinya. Gadhi yang semula ingin marah, melihat Hanum yang terlelap, langsung melepaskan jas dan naik ke atas ranjang.
Mana tahan suami marah lama-lama? Sambung tipis-tipis besok lagi ya. Hehe
__ADS_1