Crazy Rich

Crazy Rich
Swiss


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 58


Oleh Sept


Hanum seperti menggali kubur sendiri pagi itu, Gadhi yang sedang tidur malah ia bangunkan. Singa yang sedang istirahat malah ia usik. Alhasil ia langsung mendapat bayaran kontan. Lunas tanpa ada bunga dan cicilan.


"Eh! Aku sudah mandi! Jangan aneh-aneh!" desis Hanum.


Hanum langsung berjingkat, tapi terlambat. Dengan sigap lengan Gadhi langsung menangkap tubuh Hanum. Menjeratnya dalam pelukan yang rapat. Kena kau!


"Gaddd! Katanya mau jalan-jalan!" protes Hanum. Ia mencoba melepaskan diri sekali lagi.


Gadhi justru menggeleng. Kemudian merabaa bibir Hanum dengan ibu jarinya.


"Olah raga dulu," ucapnya sembari mengerlingkan mata.


"Aku habis mandi!" sela Hanum. Yang kini tengkurap tepat di atas tubuh bidang Gadhi. Dengan kedua lengan pria itu yang menjeratnya sangat erat, hingga Gadhi dapat merasakan detak jantung wanitanya. Terasa degupan itu cukup keras, hingga bisa dirasakan.


"Lain kali jangan berani menyentuhnya, jika kamu tidak punya nyali!" bisik Gadhi kemudian mendekatkan wajahnya. Hingga jarak mereka begitu sangat dekat. Hembusan napas keduanya pun sama-sama terasa hangat di wajah masing-masing.


Kemudian sebuah kecupann singkat mendarat sempurna di bibir manis Hanum. Ganti ke pipi, kelopak mata lalu kening dan hidung. Pria itu mengabsen satu persatu, seakan tidak mau ada yang terlewati.


"Nanti keburu panas," Hanum kembali mencari alasan. Tentunya sambil menarik wajahnya agar menjauh dan menjaga jarak.


"Lima belas menit cukup!" bisik Gadhi dengan nada nackall.


Hanum melotot.


'Ish!'


Bukkk ... Bukkk ....


Lembar demi lembar pakaian melayang jatuh ke lantai, bahkan ada yang nyangkut di atas nakas. Karena Gadhi membuang dengan asal. Tidak peduli kamar mereka seperti kapal pecah. Pokoknya ia hanya ingin Hanum dan Hanum.


Pagi ini lumayan, bukan sarapan seafood, sandwich atau makanan western lainnya. Tapi Gadhi yang kebule-bulean itu sekarang sedang menyantap hidangan yang gurih dan empuk serta tiada duanya. Pria berdarah campuran Indonesia India itu sedang menikmati menu tradisional yang penuh kearifan lokal tersebut.


"Bagaimana? Jangan main-main ya sama yang satu ini. Bahaya banget, Sayang!" bisik Gadhi dengan wajah yang menyeringai.


...


Lima belas menit kemudian.


Hanum yang sudah lemas, hanya pasrah ketika Gadhi membopong tubuhnya menuju ke kamar mandi. Mau apa lagi kalau bukan untuk mandi setelah olahraga singkat mereka. Yang cukup menguras energy dan keringat.

__ADS_1


***


"Mau ke mana?" tanya Gadhi saat keduanya benar-benar sudah ready untuk jalan-jalan menikmati kota Paris di siang hari.


"Ke mana aja, tapi jangan di kamar terus."


"Hemm ... aku malah suka di ruangan tertutup seperti ini."


Hanum langsung mendongak menatap suaminya yang penuh ilmu modus sekarang.


"Oke ... oke. Kita jalan-jalan. Akan aku tunjukkan Paris padamu," ucap Gadhi sombong. Karena dia memang sering ke Paris. Setidaknya satu tahun bisa setiap bulan ia ke kota ini. Apalagi dulu, ketika masih kuliah. Kota ini sering ia kunjungi sekedar liburan bersama sang kekasih, Tafli. Tapi itu dulu, dulu sekali.


Saat keduanya berjalan kaki menikmati indahnya kota paling romantis tanpa pengawal dan asisten, Gadhi benar-benar merasa bebas. Bahkan ia sejenak melupakan urusan perusahaan.


Sama seperti Hanum, untuk sesaat ia mulai menikmati masa bulan madunya. Menepis pikiran buruk tentang Gadhi saat keduanya menghabiskan waktu di jalanan kota Paris. Mampir dari toko satu ke toko yang lain.


Mereka berdua belanja apa saja yang mereka mau, makan makanan yang mereka ingin makan. Melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah keduanya lakukan.



***


Hari ke 3 di Paris


"Kenapa tidak mau keluar jalan-jalan?"


"Nggak ... pengen santai aja," jawab Hanum yang kini bersandar pada da da bidang Gadhi yang sedang menyandarkan diri di sofa kamar yang menghadap ke pemandangan kota.


"Capek, ya?"


"Nggak capek, cuma pengen di kamar aja. Bosen juga lihat orang di mana-mana."


"Kalau aku? Bosen gak?" tanya Gadhi. Matanya menatap pemandangan di luar sana sembari menunggu jawaban dari bibir manis Hanum.


Hanum memandangi gelas yang ia pegang, "Mau jawaban jujur atau bualan?"


Wajah Gadhi langsung datar. "Jangan katakan apapun."



Dari pada moodnya menjadi buruk karena jawaban Hanum, Gadhi memilih biarkan suasana seperti ini. Sunyi, tenang dan sepi. Dan mereka memang butuh istirahat sejenak.


'Dasar pria pemarah, bagaimana bisa aku bosan padamu. Kamu menawarkan begitu banyak madu, membuatku merasa takut. Takut jika semua rasa manismu hanya semu!' batin Hanum.

__ADS_1


Mereka memang tidak jadi berlayar dengan kapal pesiar, tapi bagi Hanum bulan madu beberapa hari ini yang melintasi banyak negara, cukup membuatnya terkesan. Ini seperti mimpi, mimpi yang tidak pernah ia impikan sebelumnya.


***


Negara selanjutnya adalah Swiss. Ya, setelah dari Mexico, Paris, sekarang mereka berada di Swiss.


Pesona negara-negara di benua biru memang tak bisa ditampik lagi. Salah satunya adalah Swiss yang terkenal dengan lanskap pegunungan bersalju, hamparan bukit nan hijau, udara sejuk.


Kali ini Gadhi akan memperlihatkan pada Hanum, pemandangan indah, yang mungkin selama ini hanya Hanum lihat di gambar. Pria itu membawa Hanum ke dunia baru, di mana tidak pernah ia pijak sebelumnya.



"Kamu menyukainya?"


Hanum dan Gadhi sudah berdiri di tepi jalan yang sepi. Mereka menikmati pegunungan yang memanjakan mata tersebut.


"Ini indah banget," jawab Hanum tidak bisa berkata-kata.


"Nanti viewnya jauh lebih bagus dari kamar kita. Kamu pasti suka, Kita harus berterima kasih pada Jonathan serta madam Li. Mereka yang mengatur semuanya. Ya, meski tidak di sini secara langsung."


"Ya ... aku harus berterima kasih pada mereka. Ini indah banget."


"Hanya mereka? Tidak denganku?" goda Gadhi.


"Of Course!"


CUP


"Makasih ... ini indah banget, Gad!" Hanum meraih tangan Gadhi duluan ketika habis memberikan kecupann singkat di pipi pria tampan tersebut.


"Ini gak gratis, harus dibayar dengan anak yang banyak."


Hanum seketika melepas genggaman tangannya. Sedangkan Gadhi, pria itu terkekeh kemudian merengkuh pinggang Hanum.


'Setelah aku melahirkan anak untukmu ... dan kau mendapatkan apa yang kamu mau ... apakah sikapmu tidak akan berubah? Ketika tujuanmu tercapai, apa aku bisa percaya semua kata-katamu?' batin Hanum dalam pelukan hangat Gadhiata Ratama Prakash.


Wajar jika Hanum tidak percaya begitu saja, apalagi pria seperti Gadhi. Baginya pernikahan hanyalah sebagai bisnis. BERSAMBUNG.


Isnting wanita tajam, mungkin hati Hanum belum sepenuhnya luluh. Meksipun Gadhi sudah membolak-mbaliknya. Ia masih butuh waktu untuk percaya sepenuh hati, biar waktu yang menjawab ketulusan pria tersebut.


IG Sept_September2020


Fb Sept September

__ADS_1


__ADS_2