
Crazy Rich Bagian 48
Oleh Sept
Peringatan penting. Jangan abaikan bestie. Agar tetap aman, jiwa dan raga tetap terjaga. Mohon tekan selanjutnya saja. Untuk yang sudah berjiwa-jiwa mantap, sudah memiliki pasangan, silahkan selami. Semoga bisa menambah imun biar RT jadi lebih hangat. Semoga ...
***
Zona Bahaya
...
Tubuh Hanum sudah terpenjara lagi dalam kungkungan pria paling berkuasa atas dirinya tersebut. Sebab Gadhi adalah suaminya yang sah. Suka atau tidak, sepertinya Gadhi benar. Pria itu memiliki hak penuh atas diri Hanum Bramantya.
Hanum memejamkan mata rapat-rapat. Ia ingin lari, tapi Gadhi sudah mengunci ruang geraknya.
"Buka matamu ... Mari kita lakukan dengan sadar," bisik Gadhi kemudian menyesap leher jenjang yang putih dan halus itu. Dengan lembut ia menyergap Hanum tanpa ampun.
Ia meninggalkan banyak stempel kepemilikan di sana. Ya, meski belum ada kata cinta yang terucap dari bibirnya, nyatanya tubuhnya terus saja bereaksi pada wanita tersebut. Tanpa sadar, ia sudah kena candu. Hanum sudah mulai meracunii pikiran dan tubuhnya tanpa bisa ia tolak.
"Kau tahu? Kau menyakitiku ... aku sangat membenci pria sepertimu!" ujar Hanum, tapi masih dengan mata yang tertutup. Hanum tidak kuasa menatap Hering yang membuatnya bergidik. Apalagi ia sempat melirik sebentar. Hanum langsung merinding.
"Benarkah? Aku bahkan bisa merasakan desiran dalam tubuhmu ... jangan muna. Kau juga menikmati permainanku, bukan?"
Gadhi terus saja melakukan aksinya, ia ingin Hanum bertekuk lutut dan tidak bisa lagi menolak pesonanya. Dia adalah pria yang tidak mengenal kata penolakan.
"Gaddd!" Hanum memekik saat Gadhi bermain di bawah pusar.
Pria itu menyeringai seperti psikopat kawakan. Mengerjai Hanum sampai habis-habisan. Tanpa ampun, ia ingin membuat Hanum ikut terbawa arus yang sudah menguasai jiwanya. Enak saja hanya dirinya yang harus merasa tersika karena terbakar sendirian, Gadhi yang licikk, ia pun melakukan usaha maksimal. Agar Hanum yang akan meminta lebih dan lebih darinya.
"G-Gad!!!"
Seringai jahat kembali dipancarkan oleh pemilik wajah yang putih, tampan dan rahang tegas dengan bulu halus tersebut. Si pemilik hidung mancung seperti burung itu, dengan sengaja menyentuh pusar Hanum dengan ujung hidungnya yang melengkung. Sesekali ia tiup hingga tubuh itu mengeliat seperti kaki seribu yang tidak sengaja tersentuh.
__ADS_1
"Hentikan ...!" pinta Hanum mulai lirih. Tidak dengan intonasi yang tinggi seperti sebelumnya. Sepertinya Hanum mulai terpengaruh, terbukti dari wajahnya yang tadi galak kini terlihat resah.
Gadhi yang menyadari perubahan pita suara istrinya itu, sedikit mengukir senyum di wajahnya. Ia semakin bersemangat bermain-main di bawah sana.
"Kau bilang kau membenciku? Lihat ... bahkan tubuhmu saja enggan menolak!" gumam Gadhi kemudian melakukan serangan yang spontan membuat Hanum membalik badan menjadi miring ke samping. Hanum menarik kakinya kuat. Gadhi sungguh membuatnya geli sampai tidak tertahan.
"Kau mau lagi?"
Hanum sudah membuka mata, ia menggeleng keras.
"Aku mohon ... hentikan. Kau benar-benar menyiksaku dengan semua ini."
"Ini juga sangat menyiksaku, Hanum! Kau lihat ... dia selalu bangun saat dalam radius yang dekat denganmu!" ucap Gadhi seakan ia juga jengkel. Padahal, hati kecilnya sangat menikmati moment di mana dia menjamahh Hanum.
"Kau pria tidak punya hati! Bagaimana bisa kau melakukan hal seperti ini begitu mudahnya? Aku bukan tempat untuk melampiaskann nafsuhhmu di ranjang!! Aku juga punya hati! Tolong hentikan!"
Hanum mencoba beringsut, berusaha menjaga jarak agar kulit mereka tidak lagi bersentuhan.
"Ini salahmu! Jika kau tidak di kamar ini kau mungkin aman. Hanya pria bodohhh yang menolak hal semacam ini. Kau istriku ... sudah sepatutnya kau melayani aku. Jadi ... puaskann aku malam ini. Kau mau apa ... semua bisa aku berikan."
"Baiklah, aku akan tidur dengan madam!" ucap Hanum kemudian.
"Tidak semudah itu, Hanum!"
CUP
Gadhi meraih dagu Hanum. Mengangkupnya dengan kedua tangan, ia kecupp bibir itu lembut. Kemudian mencoba masuk. Kali ini dengan tenang dan perlahan. Ia ingin pergulatan saat mereka sedang dalam kondisi sadar.
Ya, dimulai dari kecupann pelan. Hingga ia mulai masuk. Meskipun mulanya Hanum mengunci rapat bibirnya. Tapi karena Gadhi yang begitu gigih, dengan segala macam sentuhan yang dilakukan jari-jarinya, Hanum jadi lemas.
"Jangan terus menolak ... Ikuti alurnya," bisik pria tersebut saat melepaskan Hanum untuk sejenak. Kemudian kembali lagi merampas bibir Hanum sampai membuat Hanum merasakan kebas.
Bagaimana tidak kebas, Gadhi yang semula sangat lembut, lama-lama ciuamann mereka semakin keras dan menuntut. Bagaimana mau menolak, begitu Gadhi menyesapnya berkali-kali, Hanum jadi ikut panas dingin.
__ADS_1
Lelah sudah ia menepis, karena Gadhi memang pria perkasa. Lihat saja Heringnya yang tidak ada loyonya itu. Masih berdiri tegak dengan kesombongan yang paripurna.
"Aku suka aromamu!" bisik Gadhi. Sembari menengelamkan kepalanya di ceruk leher wanita itu.
Gadhi sengaja memberikan tiupan pelan, ia ingin Hanum yang meminta untuk dipuaskan. Ia sedang memancing sisi liar beruangnya tersebut. Sebab ia tahu, Hanum sudah tidak tahan juga. Wajahnya gelisah, napasnya memburu. Hanum sedang di ubun-ubun sama seperti dirinya sekarang.
"Hentikan, Gad! Plisss!" Hanum tidak tahan, ia sudah larut dalam buaian. Tapi Gadhi sengaja tidak langsung membuat mereka bersatu seperti malam-malam sebelumnya. Pria itu kini malah jual mahal, hanya membuai sampai menyentuh langit, tapi tidak segera dituntaskan. Hanya membuat sesuatu berkedut saja.
'Rasakan kamu Hanum ... kamu harus memohon terlebih dulu.'
Gadhi berbaring di sisi Hanum, tapi tangannya begitu terampil. Membuat kepala Hanum nyut-nyutan.
"Cukup, Gad! Cukup!"
Hanum kemudian meringkuk, menahan gejolakk dalam tubuhnya.
"Kita baru memulai .. apanya yang cukup. Lain Kali jangan menolak, aku tahu kamu juga mau!" Gadhi menatap remeh. Tapi saat melihat Hanum mengigit bibir bawahnya, ia kok jadi tidak tahan.
Bisa lebaran monyet baru Hanum minta duluan, tidak peduli pada gensi. Hilang sudah arogansi seorang Gadhiata Ratama Prakash bila sudah dalam mode terdesak seperti ini. Dia juga sudah nyut-nyutan. Dan akhirnya Gadhi meraih tubuh Hanum. Ia rengkuh pinggang yang ramping tersebut, membuat Hering-nya menyentuh perut Hanum.
'Kau menang tuan muda Gadhi!' batin Hanum lirih. Tubuhnya memang ingin Hering segera menghujam. Gadhi sudah terlanjur membuatnya ikut merasakan gerah yang sama.
"Kau siap sekarang? Jangan bilang ini pelcehann."
Hanum diam, hanya matanya yang bicara.
'Cepat masukkan!'
Seettt ...
Blessss ...
Sudah kencang, bukan perkara sulit bagi Hering untuk memasuki hutan belantara yang rimbun dan lembab. Ya, seperti musim hujan, daerah di sekitar hutan sudah becek, mana tidak ada ojek. Wkwkwkwk
__ADS_1
Tetap sehat ya bestie. Jaga kesehatan jiwa-jiwa yang sudah oleng.
BERSAMBUNG.