Crazy Rich

Crazy Rich
Dendam Burung Emprit


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 45


Oleh Sept


Ia duduk di taman seorang diri, sesaat lalu pegawai kakek Mahindra datang menjemput pria tersebut. Menyisahkan Hanum dengan rasa penasaran akan siapa dirinya yang sebenarnya. Tapi ia harus menahan rasa ingin tahunya itu. Sebab kakek sudah janji akan cerita, jika waktunya sudah tepat.


Meskipun sangat penasaran, Hanum tidak bisa memaksa. Karena kakek Mahindra kelihatan sangat sibuk. Kini ia pun hanya bisa duduk melamun sambil menatap rerumputan yang bergoyang karena terpaan angin yang mendera.


"Jika kakek tidak mau cerita sekarang, sepertinya madam Li tahu. Dia adalah orang kepercayaan kakek selama ini. Pasti madam Li tahu siapa sebenarnya orang tuaku."


Hanum beranjak, ia menatap sekeliling. Rumah yang besar itu terlihat sangat sepi. Megah, tinggi tapi sunyi. Sudah mirip sebuau museum.


"Ke mana madam Li?" Hanum bicara sambil terus melihat sekeliling.


Tidak ada madam di sana, para pelayan ada. Tapi mereka melakukan tugasnya masing-masing. Dari memotong rumput, membersihkan furniture dan mengelap banyak perabot.


Semua orang tidak bisa ia tanyai, sebab saat ia lewat. Semua asisten di sana malah mengangguk menaruh hormat padanya. Sedikit miris, Hanum seperti melihat dirinya di masa lalu. Yang selalu menurunkan wajahnya ketika berhadapan dengan orang-orang.


***


Global Tourshine Groups.


Gadhi sedang duduk di ruang meeting, seorang wanita muda dengan kemeja press body serta rok di atas lutut, sedang melakukan presentasi.


Sepanjang meeting berlangsung, Gadhi sama sekali tidak memperhatikan. Bahkan ketika salah satu di antara mereka bertanya, Gadhi malah tidak merespon. Membuat sekretaris Jo mendekat dan berbisik.


"Tuan!"


Gadhi mengangkat dagunya, memperlihatkan rahangnya yang tegas. Kemudian pria tersebut berdiri dan merapikan jasnya yang sedikit kusut. Matanya menyapu seluruh peserta meeting.


"Meeting kita tunda!" ucap pria itu dengan ekspresi dingin.


Hampir seluruh orang di dalam sana mengerutkan dahi. Merasa heran atas apa yang terjadi. Tidak biasanya pria tersebut melakukan hal yang seperti ini, pergi begitu saja dan menunda meeting. Gadhi benar-benar tidak professional.


Tap tap tap


Sekretaris Jo berjalan mengejar langkah Gadhi yang terbilang cepat itu.


"Tuan ..."


"Jangan mengikutiku!"


Sekretaris Jo langsung berhenti, bukan karena perintah Gadhi. Tapi karena di depan mereka berdiri sosok wanita yang terlihat cantik dan memakai baju minimalist. Dia adalah Tafli, gadis itu sangat mampu membeli kain ribuan meter bahkan jutaan meter. Tapi ia selalu lebih suka memakai baju yang kurang bahan. Seperti sekarang ini, seperti kemben tipis dengan rok mini.


Cantik sih, sek sih juga. Tapi terlalu terbuka. Hampir semua mata bisa melihat lekuk tubuh Tafli. Bukannya terkesan elegant, tapi malah terlihat murah.


"Untuk apa kau ke sini?" Tanya Gadhi sinis. Ia sudah mendengar cerita lengkap dari Jonathan kejadian tempo hari.


"Gad!" panggil Tafli kemudian mencoba meraih lengan pria itu untuk dipeluk. Sayang, pria itu menepis dan melangkah mundur.


"Jaga sikapmu, Taf!" cetus Gadhi kasar.


'Sial!! Kenapa dia menjadi sangat dingin padaku? Apa dia lupa, bagaimana Kita dulu pernah mencintai?' batin Tafli kesal.

__ADS_1


"Ayolah, Gad! Jangan pura-pura lagi ... aku tahu kamu gak cinta sama gadis itu. Tante Geny sudah menjelaskan semuanya. So ... kamu gak usah acting hanya karena kita ada di perusahaan. Aku bisa ngerti ... Dan untuk salah paham di masa lalu, aku bisa jelasin."


"Kita sudah selesai beberapa tahun lalu, dan satu lagi, jangan muncul di depanku. Kamu tahu, Taf? Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku!"


Gadhi langsung berbalik meninggalkan Tafli yang wajahnya merah karena menahan marah.


"Gaddd! Gadhi!"


Tafli mengepalkan tangan, ia menendang apa yang ada di sampingnya. Menimbulkan suara berisik dan membuat sekretaris Jo menoleh sekilas.


"Aku kira dia sudah stress!" gumam Jonathan.


Sedangkan Gadhi, ia kemudian masuk ke dalam lift. Gadhi sedang bad mood, ditambah kemunculan Tafli. Membuat mood pria itu tambah memburuk. Sengaja ia tidak mau membahas ia yang dibuat mabuk Tafli karena menghindar dari masalah. Tapi masalah itu malah datang padanya.


"Jo! Ancam dia dengan rekaman CCTV. Jika perlu, tekan dia!" titah Gadhi setelah keduanya berada dalam satu lift.


"Baik, Tuan."


***


Di sisi lain, kediaman keluarga Mahindra Prakash. Hanum sedang mengorek informasi pada madam Li. Ia memancing agar madam Li mau cerita tentang apa yang diketahui wanita kepercayaan kakek Mahindra tersebut. Tapi sayang, madam Li malah bungkam. Bukannya menjawab rasa ingin tahunya, ia malah kembali diajak melakukan kegiatan ini dan itu.


"Yoga akan bagus untuk tubuh Nona agar rileks," ucap madam di atas matras hitam.


"Aku kira kita libur ... Madam, badanku masih sakit semua," ucap Hanum pura-pura tidak bertenaga.


"Tapi saya lihat Nona baik-baik saja."


Huffff


"Madam! Aku bahkan sudah lulus kuliah!" gumam Hanum yang diberikan banyak pelajaran baru. Meskipun sebagian Hanum sudah memahami itu semua.


"Saya hanya melakukan perintah tuan besar, Nona."


Lagi-lagi Hanum menghela napas panjang.


Tiga jam kemudian, akhirnya kelas private itu selesai juga. Waktunya makan siang, Hanum makan sangat sedikit, karena harus diet. Meskipun kakek memintanya banyak makan, tapi dokter kesehatan yang menangani laporan kesehatan dan gizi Hanum, meminta Hanum membatasi makanya.


Selesai makan, Hanum istirahat satu jam. Setelah itu datang lagi guru baru. Kali ini pria bule, ada dua orang. Satu bule India satu bule Jerman.


"Madam!!! Apa aku harus bisa bahasa keduanya?" protes Hanum. Tidak kah bahasa inggris sudah cukup?


'Mereka seperti memaksaku sekolah lagi!'


"Setidaknya Nona menguasai 5 bahasa. Tuan mudah sudah 7 bahasa yang dikuasai," ujar madam Li membanggakan tuan mudanya.


'Untuk apa pintar banyak bahasa? Sedangkan dia tidak bisa menghargai orang lain?'


Bibir Hanum mengerucut, wajahnya jadi masam. Terpaksa ia pun kembali belajar. Cukup sulit, apalagi bahasa India. Hanum hanya bisa mengatakan namaste dan sukriya. Astaga, kenapa harus bahasa India?


"Madam? Mengapa harus bahasa ini?" bisik Hanum sembari matanya menatap bule India yang cukup tampan itu.


"Karena kakek buyut tuan muda berasal dari sana, Nona. Dan setiap tahun, biasanya tuan besar ke negara itu bersama Tuan muda."

__ADS_1


Hanum hanya nyengir seperti unta Arab. Sambil matanya menatap rangkaian huruf India yang membuat Hanum merasa pusing.


***


Malam hari.


Baru pukul delapan, Hanum sudah tidur di dalam kamarnya. Kakek juga sudah kembali ke kamar. Sedangkan Gadhi, pria itu belum pulang.


"Tuan ... apa Tuan tidak pulang?"


Gadhi melotot seperti biasa. "Kau mengusirku?"


Sekretaris Jo langsung menggeleng keras.


"Bukan ... bukan seperti itu. Tuan bebas menginap di apartmentku yang kecil ini!" ucap sekretaris Jo merendah. Padahal apartment miliknya cukup luas.


"Malam ini aku akan tidur di sini!" pungkas Gadhi kemudian.


"Kalau tuan besar mencari?"


"Katakan Kita lembur!"


Jonathan pun mengangguk mengerti. Dan benar saja, beberapa waktu kemudian ponsel sekretaris Jo berdering.


"Baik ... baik, Tuan!" ucap sekretaris Jo di telpon.


Tut tut tut


Telpon terputus.


"Siapa? Kakek?" tebak Gadhi.


"Tuan besar meminta Kita pulang, tidak peduli apa alasannya!"


Gadhi memejamkan mata dalam-dalam.


"Siapkan mobil!"


"Baik, Tuan."


Akhirnya Gadhi pun pulang ke rumah kakek malam itu, dengan terpaksa karena kakek kembali memaksa.


***


Kediaman kakek Mahindra Prakash.


Gadhi sudah masuk kamar dengan kunci cadangan.


"Dasar beruang ... kau sudah tidur rupanya!" celetuknya melihat ke arah ranjang.


Gadhi kemudian memegangi bibirnya, bekas gigitan Hanum tadi pagi. Tiba-tiba bibirnya yang terluka itu merekah. Ada senyum jahat yang mencuat.


"Kini giliranmu!"

__ADS_1


Gadhi melongarkan dasi, melepas jas, melepas sabuk, dan melepas kancing kemejanya satu persatu. Dengan gerakan perlahan pria itu naik ke atas ranjang. Bersambung.


IG Sept_September2020


__ADS_2