Crazy Rich

Crazy Rich
RSJ


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 84


Oleh Sept


Bandara


Geni yang menyesali atas semua tindakan di masa lalu, kini hanya mampu meratapi kesedihan. Rasanya ingin sekali saja Gadhi menatapnya seperti dulu, tapi percuma. Anak itu sepertinya tidak bisa memaafkan mereka berdua.


Saat hati sudah di batas putus asa, ketika hanya air mata yang hanya bisa mewakili segalanya, tiba-tiba sebuah kejaiban muncul di saat terakhir, saat Geni mulai pasrah dan rela, bila selamanya tidak termaafkan.


"Omaaaa!"


Suara anak-anak yang sangat asing, tapi ia merasa panggilan itu untuknya. Masih dengan da da yang sakit karena menahan sesak, ia pun berbalik. Perlahan ia pindai pemandangan di depannya. Shiva Loresza Mahindra, anak empat tahun itu tiba-tiba berjalan mendekat ke arahnya.


Diikuti oleh Shiv Loreno Mahindra dan Arjuna Trinadaru Mahindra yang baru saja turun dari gendongan sang ayah. Jarak Geni dengan cucunya semakin dekat, begitu juga dengan Gadhi serta Hanum yang ada di belakang putra putri mereka semua.


Saat jarak mereka hanya beberapa meter, Geni menatap putranya sendu. Setelah itu menatap cucunya yang belum pernah ia sentuh. Wanita itu seolah meminta ijin lewat tatapan matanya yang penuh harap, tentang bolehkan ia memeluk mereka? Memeluk cucunya?


Gadhi mengangguk pelan menatap mata sembab sang mama. Pria itu seolah menyelami perasaan apa yang dirasakan sang mama saat ini.


'Itu cucu mama,' batin Gadhi ketika melihat Geni mulai memeluk anaknya.


"Maafkan Oma," Geni terisak sembari memeluk cucu-cucunya.


Akas melihat di belakang, belum berani mendekat.


Mereka semua hanya bisa menyaksikan Geni yang menangis dalam penyesalan yang dalam selama ini.


***


Di sebuah salah satu kafe di dalam Bandara.


Mata Geni tidak pernah beralih dari cucu-cucunya. Mungkin ia baru sadar, bahwa kebahagian itu sangat sederhana. Yaitu melihat keluarga dari dekat, bisa bersama seperti ini rasanya hatinya yang sempat kosong dan hampa menjadi kembali penuh akan rasa bahagia.

__ADS_1


"Maafin Mama, Hanum."


Geni kemudian menatap menantunya, menantu yang selama ini ia buang. Sosok yang tidak pernah ia akui sebelumnya.


Hanum mengangguk pelan, seolah sudah meaafkan sejak lama. Bagi Hanum paling sulit adalah mendamaikan hati suaminya. Butuh extra sabar dan harus telaten saat membujuk Gadhi agar mau menepis egonya.


Sebelum suaminya menyesal, sebab Kita tidak tahu sisa umur manusia. Setelah dari pemakaman kakek, Hanum mengibaratkan, bagaimana jika nanti mama sudah pergi. Hanya ada penyesalan yang sia-sia. Sebab tidak ada yang bahagia jika menyimpan dendam dan rasa marah dalam hatinya.


Anak-anak juga butuh kasih sayang dari kakek neneknya. Terlepas dari masa lalu yang mungkin sangat buruk sekalipun, tapi tidak bisa menyembunyikan fakta, bahwa ada darah mengalir yang sama di dalam tubuh mereka.


***


Kediaman Gadhiata Ratama Prakash


Sopir masuk sambil membawa koper besar, kemudian membawa barang-barang itu ke sebuah kamar luas di kediaman Gadhi.


Di rumah tengah, Gadhi duduk bersama ayah biologisnya. Ayah yang sebelumnya adalah omnya sendiri. Ada rasa canggung, tapi ya sudahlah. Mereka nanti lama-lama akan terbiasa.


"Mereka bahkan sangat menerima kehadiran Mama. Terima kasih Hanum ... terima kasih sudah mendidik mereka begitu sangat baik," ucap Geni ketika melihat anak-anak itu sama sekali tidak menolak kehadirannya.


"Karena Mama adalah oma mereka. Jadi sangat wajar kalau mereka juga sayang Mama."


Ucapan Hanum membuat mata Geni perih. Wanita itu kemudian memalingkan wajah mengusap matanya.


"Jangan menangis, Ma. Lihat senyum anak-anak itu. Mari kita lupakan semuanya. Mama juga punya kesempatan untuk bahagia."


Geni makin merasa bersalah, mengapa dia sia-siakan orang baik seperti Hanum.


Tap tap tap


Arjuna mendekat, diikuti oleh baby sitter di belakangnya. Anak itu minta digendong Hanum. Kemudian Geni mencoba mengulurkan tangan. Tidak tahunya Arjuna langsung nemplok sama omanya. Membuat Geni merasakan perasaan yang tidak bisa ia lukis dengan kata-kata.


'Oh inikah kebahagian yang lama aku cari? Meskipun sekian lama aku pergi bersama orang yang aku cintai, ternyata ada banyak hati lain yang aku rindui. Yang membuat jiwa ku tetap terasa kosong. Dia adalah putraku, cucu-cucuku ... Maafkan Oma. Oma janji, Oma hanya akan jadi orang baik untuk kalian. Oma akan mencurahkan semua cinta Oma untuk kalian. Kalian adalah harta Oma yang sebenarnya,' suara hati Oma Geni ketika memeluk cucunya. Geni sadar bahwa harta yang sebenarnya adalah keluarga.

__ADS_1


***


Rutan


Sudah sebulan tidak ada yang berkunjung, membuat Suha merasa frustasi.


"Keluarkan saya!" teriaknya pagi-pagi memancing keributan.


"Tutup mulut kau! Diam dan makanlah!" ucap teman satu tahanan.


"Makan makanan sampah itu sendiri!" sentak Suha dengan kesombongan yang hakiki.


Tahanan lain hanya terkekeh, melihat Suha yang sombongnya tidak pernah berkurang. Malah semakin hari semakin naik.


Sudah beberapa hari ini Suha demo tidak makan, ia protes. Mau minta pindah kamar. Dia punya uang banyak, dan dia adalah menantu orang paling kaya. Tidak mau satu kamar dengan tahanan lain yang baginya sangat rendahan.


"Hei! Jangan berisik! Makan seperti yang lain!" teriak petugas ketika Suha terus saja berulah setiap saat.


Suha yang kesal karena disuruh makan menu itu-itu saja. Yang biasanya ia bisa habiskan jutaan untuk sekali makan, tapi kali ini hanya menu tempe dan tahu rebus, serta kuah sayur yang rasanya hambar, belum lagi nasinya yang sangat-sangat tidak cocok di lidahnya, Suha pun memilih menendang piring tersebut.


Tanpa sengaja mengenai tahana lain, alhasil keributan kembali terjadi. Semua bermula dari sikap arogansi Suha, wanita itu tidak pernah menunjukkan rasa penyesalan sedikit pun. Membuatnya semakin menderita oleh ulahnya sendiri.


"Berani kau menyentuhku! Kau akan mati!" ancam Suha yang tangannya sudah berhasil menjambak tahana lain.


Wajah keduanya sudah babak belur, dan karena keributan itu, akhirnya Suha kena sangsi. Ia harus dikurung di tempat helap seorang diri selama beberapa hari.


Semakin frustasi, semakin hari sudah seperti orang gila. Ia tersenyum, teriak, dan tiba-tiba mengamuk tidak jelas. Karena dirasa membahayakan nyawa tahanan lain, akhirnya Suha diperiksa kembali kejiwaanya.


Tidak kuat mental karena kehilangan kebebasan, harta, suami, anak, akhirnya Suha kehilangan kewarasan. Ya, Suha pun dibawa ke RSJ. BERSAMBUNG.


Apakah ada kasus gila harta seperti Suha dalam hidup nyata? Ada. Bahkan Kita setiap hari disuguhi dalam layar kaca. Tentang perebutan harta anak yatim piatu yang viral misalnya, tentang seorang yang begitu cinta dengan uang.


IG Sept_September2020

__ADS_1


__ADS_2