
Crazy Rich Bagian 55
Oleh Sept
Hanum dan Gadhi, keduanya sempat menjadi pusat perhatian bagi turis asing yang juga berada di dekat sana. Tanpa malu-malu, Gadhi meminta salah satu turis dari Australia untuk memotret mereka berdua.
"Thank you!" seru Gadhi saat turis pria itu mau mengambil gambar mereka.
"Pose di sana! Aku ingin momotretmu!" pinta Gadhi setelah menurunkan tubuh Hanum dari punggungnya.
"Gak usah."
"Ayolah! Sebelah sana! Agar terlihat piramidanya dari jauh."
Karena Gadhi terus memaksa, akhirnya Hanum pun melakukan apa yang diserukan suaminya itu. Hanum pose layaknya model ternama, entah mengapa jaim-nya sedikit berkurang. Hanum seolah lepas, ini adalah liburannya. Ya, dia ingin menikmati masa-masa seperti ini yang akan jarang ia temui.
"Pose yang sek sih, ya!" goda Gadhi sambil melihat Hanum lewat sorot lensanya.
"Gantian! Sini kameranya!" Hanum mendengus kesal. Tidak mau disuruh pose sek sih!
Gadhi lalu terkekeh, 'Ya ... kamu hanya boleh sek sih di depanku saja!' batin Gadhi yang tersenyum jahil kemudian.
Selesai berpanas-panasan dan menjelajah kemana-mana. Karena lelah dan sudah lepek mereka pun kembali ke hotel. Kali ini hotel yang tidak ecek-ecekk!
Sebuah presidential suite sudah Gadhi siapkan untuk bulan madu mereka. Ya, crazy Rich itu menyewa hotel paling mahal di sana. Ia ingin menghujani Hanum dengan kemewahan. Sebab tidak jadi berlayar dengan kapal pesiar.
Luxury Hotel
Benar-benar bulan madu impian. Mereka akan menghabiskan beberapa hari di hotel ini. Melukis kenangan indah, menulis sejarah yang tidak mudah dilupakan. Dan satu hal yang paling penting, mendasar dan tidak boleh terlewati. Ya, tujuan bulan madu ini adalah mencetak anak.
***
New Delhi
Wajah kakek Mahindra sumringah, ia tersenyum puas melihat potrer bulan madu kedua cucunya. Sengaja Gadhi mengirim semua foto-foto selama mereka bulan madu. Kakek Mahindra sendiri belum pulang, ia masih betah di India.
Sedangkan sang cucu, masih betah di tempatnya, mencicipi madu paling manis di dunia.
Luxury Hotel, presidential suite.
__ADS_1
"Hanum ..."
"Hemm! Apa?"
"Tidak ... aku hanya ingin memastikan kamu masih terjaga!" ucap Gadhi. Ia kemudian mengusap rambut Hanum yang tidur di lengannya.
"Sudah malam, ayo tidur." Hanum melingkar lengannya semakin rapat.
"Aku belum bisa tidur."
"Kenapa?" tanya Hanum datar.
"Kalau dekat-dekat begini mana bisa aku tidur dengan mudah," keluh Gadhi yang merasakan Hering bangkit dari kubur.
Hanum langsung beringsut.
"Tadi kan udah!"
Hanum protes, karena sejam yang lalu mereka baru mencetak generasi masa depan.
"Tahu ni ... bawaanya tegang terus kalau dekat-dekat!" ucap Gadhi jujur tanpa malu. Membuat mata Hanum langsung terbelalak.
'Aku sudah menikahi pria paling mesyumm! Ya ampun!'
"Aku mau tidur, Gad. Besok penerbangan pagi ke Paris. Aku mau istirahat malam ini."
"Sekali lagi ya ...!"
"Gaddd!"
Hanum tidak berkutik karena Gadhi langsung membuang guling dan langsung masuk ke dalam selimut yang sama.
"Ya ampun ... GADHI!"
"Jangan berisik!"
Cup cup cup kembang kuncup, pilih mana yang dicup. Hihihi
Tubuh Hanum rasanya remuk redam. Rasa perih campur enak jadi satu. Gadhi yang tubuhnya tinggi, tegap, besar, membuat Hanum kuwalaham. Apalagi suaminya itu ternyata tidak pernah puas. Membuat Hanum harus meringis menahan sakit karena terlalu banyak.
__ADS_1
***
Esok harinya, mereka sudah rapi. Habis mandi satu bathtub. Sekarang keduanya pakai baju warna senada.
"Kenapa jalannya begitu?" ledek Gadhi.
Hanum menatap dengan sewot, memasang muka galak.
"Kamu pasti lapar, wajahmu jadi serem!" canda Gadhi.
Keduanya pun sarapan di salah satu tempat makan terbaik di sana. Karena masih ada waktu, mereka pun main ke taman sebentar.
"Gaddd! Lucu ... bulunya banyak!"
Hanum langsung berjongkok, ia berhenti untuk menyentuh seekor guk-guk.
"Coba pegang ... lembut banget bulunya."
Gadhi menggeleng pelan, "Aku allergy!"
"Apa sih, lucu banget ini."
Hanum lalu ijin pada pemiliknya, ia mau foto bertiga. Sebelum balik dan menuju Paris. Ia ingin menyimpan kenangan yang banyak di kota itu.
Dengan ramah sang pemilik guk-guk memberikan hewan peliharaan miliknya.
"Thank you!"
Hanum langsung duduk di bangku taman, meminta Gadhi duduk juga. Dan si guk-guk ada di tengah-tengah mereka.
"Sayang ... lucu banget!"
'Apa? Sayang? Apa aku tidak salah dengar?' Gadhi langsung sumringah. Seketika alerginya hilang. Ia sentuh bulu-bulu lembut itu dengan mata berbinar-binar. Padahal yang dimaksud sayang oleh Hanum adalah hewan yang di tengah-tengah mereka tersebut. BERSAMBUNG
Sayang? Palalo peyang. Prett!
Selanjutnya Paris, kota paling romantis sedang menanti keduanya.
__ADS_1
IG Sept_September2020
Fb Sept September