Crazy Rich

Crazy Rich
Beban Rindu


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 64


Oleh Sept


"Nona ... Nona kenapa?" tanya madam Li begitu ia perhatikan Hanum yang tidak seperti biasanya.


Madam Li mendekati Hanum yang tampak begitu cerah pagi ini. Matanya berbinar, senyum terus merekah memenuhi wajahnya sumringah. Apa jauh dari rumah membuat Hanum begitu bahagia? Tapi tunggu, pandangan madam kemudian terpusat pada tangan Hanum yang sejak tadi mengusap perut.


"Ya ampun? Apa Nona Hanum?" tanya madam Li setengah menjerit karena kaget dengan dugaannya sendiri.


Madam memperhatikan dengan jelas, ia amati perubahan tubuh Hanum. Ya, Hanum memang sedikit berisi sekarang. Padahal mereka olah raga rutin. Tidak mau mati penasaran, madam meraih tangan Hanum dan langsung menuntut jawab dari nona mudanya itu.


"Katakan, Nona! Apa Nona Hanum sedang hamil?"


Hanum menjawab dengan sebuah pelukan. Ia memeluk madam Li karena sangat senang.


"Nona katakan dulu!" Madam melepaskan pelukan. Ia sungguh penasaran.


Dengan senyum manis, Hanum lantas mengangguk pelan.


"Yes, Madam ... aku hamil."


"Astaga ... ya ampun ... kabar besar ... ya ampun ... tuan muda dan tuan besar harus tahu!" Madam Li terlihat begitu excited, ia gembira sekali sampai bingung harus bagaimana.


"Madam! Madam! Dengarkan aku ... jangan bilang pada siapa pun ... Tolong dengarkan aku."


Madam Li diam seketika, mengapa kabar bahagia ini malah disimpan? Jelas ia sangat heran.


"Nona, apa maksud Nona? Saya sama sekali tidak mengerti."


"Madam harus merahasiakan ini dari Kakek, terutama Gadhi. Tidak ada yang boleh tahu."


"Tapi, Nona."


Hanum memasang wajah memohon, kemudian memegangi tangan madam.


"Jangan Madam! Aku tidak mau sesuatu mengancam jiwanya. Aku ingin keselamatan bayiku."


"Tapi mereka wajib tahu, mereka keluarganya. Dan tuan besar pasti akan menjaga Nona sangat baik, terutama tuan muda Gadhi ... dia bahkan pasti senang dan menjaga Nona."


Hanum menggeleng keras.


"Tidak Madam, dua pria itu mungkin baik, tapi tidak dengan orang-orang di sekitar mereka. Madam dengar sendiri kan bagaimana ayahku meninggal?"


Madam Li menelan ludah, benar. Menjadi pewaris global Tourshine Groups, nyawa adalah taruhan dan bisa di ujung tanduk sewaktu-waktu.

__ADS_1


"Tapi setidaknya ayah bayi itu wajib tahu, Nona." Madam kemudian kepikiran Gadhi. Pasti pria itu kelimpungan mencari istrinya.


Hanum hanya melempar senyum sambil memegangi perutnya.


"Nanti Madam ... nanti pasti kami akan bertemu. Madam pokoknya harus janji. Tidak ada yang boleh tahu kalau aku hamil."


Wajah madam Li pucat, pasalnya selama ini ia dikontrol kakek Mahindra. Susah sekali menyembunyikan satu hal kecilpun dari pria penguasa itu. Jelas kakek Mahindra tahu apa yang ia tutupi. Tapi karena Hanum meminta, ia pun mengangguk saja. Urusan ketahuan, itu dipikir belakangan.


***


Jakarta


Brukkkkk ...


Sekretaris Jo meletakkan tubuh Gadhi ke atas ranjang. Pria itu mabukk sampai pingsan.


"Mabukk lagi? Seperti tidak ada gadis lain!" celetuk Nyonya Geni yang sekarang sudah di rumah kembali.


Kasus sudah ditutup damai, sebab kakek yang turun tangan. Tapi Nyonya Geni harus mendapat ancaman keras dari kakek. Jika masih terus menyebabkan masalah, maka seluruh aset Gadhi akan dibekukan dan nanti akan disumbangkan ke yayasan semuanya.


Hanya harta yang bisa membuat nyona Geni bungkam dan minta maaf yang tidak tulus pada Nyonya Suha. Sementara itu, Nyonya Suha langsung menerima saat tuan Akas ingin cerai jika masalah mereka tetap diperpanjang. Mana mau Nyonya Suha cerai? Biarlah hati Akas bukan untuknya, yang penting semua harta atas nama dirinya kelak. Kalau mau membalas suaminya, ia bisa bayar berondong jagung yang mahal. Ia bisa dapatkan pria-pria muda nan tampan dan beroto. Tidak tua bangkaa seperti Akas tapi sok gaya. Cih!


Kembali ke kediaman Gadhi, nyona Geni memandang putranya yang akhir-akhir ini tidak bersemangat karena hilangnya Hanum.


"Harusnya kamu bersyukur, wanita udik itu sudah pergi. Kamu bisa menikah lagi ... Mama yakin, banyak wanita di luar sana siap mengantri jadi istrimu!" ucap Nyonya Geni. padahal Gadhi sedang tidak sadar. Tapi tetap diajak bicara.


Setelah selesai, sekretaris Jo pun pamit pada Nyonya Geni. Dan hanya dibalas dengan angggukan tanpa suara.


***


Pagi hari, Jakarta.


"Mau sampai kapan kamu terus menyiksa diri seperti ini! Cepat kembali ke perusahaan!" cetus Nyonya Geni sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Gadhi.


Gadhi tidak peduli, ia yang semula terlentang malah langsung tengkurap. Mengambil bantal dan menutupi kepalanya.


"Astaga!"


Nyonya Geni hanya bisa geleng-geleng kepala.


...


Malam harinya.


"Mau ke mana? Mabukkkk lagi?" tanya nyona Geni saat melihat Gadhi sudah rapi dan keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Gadhi tidak menjawab, ia hanya berlalu begitu saja. Membuat mamanya teriak kesal.


"Gadhiiiii! Hanummmm kau benar-benar! Awas kalau sampai aku menemukanmu!" ancam Nyonya Geni marah. Ia merasa ini semua salah Hanum.


***


Kediaman kakek Mahindra.


Malam-malam rumah kakek sudah menjadi gaduh. Gadhi berulah di sana, ia menendang meja sampai pecah karena kakek tidak mau mengatakan di mana istrinya.


"Bunuhh Gadhi sekalian! Jangan siksa Gadhi seperti ini!!!! Meskipun Gadhi bukan cucu Kakek ... tapi Gadhi masih punya hati!"


Pria itu bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin dengan kondisi lantai yang berserakan. Semua hancur berantakan karena kemarah Gadhi yang tidak terkendali.


Ia hanya bisa menghancurkan barang-barang di rumah itu, karena tidak bisa menyentuh sang kakek. Pria itu hanya diam seribu bahasa.


"Pulanglah!"


Gadhi mencoba berdiri, tangannya tidak sengaja menyentuh serpihan kaca. Menimbulkan banyak bercak darah dilantai yang semrawut tersebut.


"Gadhi tidak akan pulang sebelum Kakek katakan di mana istri Gadhi sekarang?"


"Jonathan! Bawa dia pulang!" perintah kakek Mahindra tegas.


Brukkk


Jonathan tersungkur, pria itu jatuh karena didorong Gadhi dengan kuat.


"GADHI!" teriak kakek marah.


Tidak tahan, kakek pun berteriak kencang memanggil nama cucu yang selama ini ia banggakan. Dan rupanya Gadhi sepertinya sudah paham, kalau dia bukan anak Prakas. Tapi kakek tidak mau membahas masalah itu.


"Di mana Hanum .... Saya mohon kemurahan hati anda ... di mana istri saya?" Gadhi yang mulai berjalan mendekati kakek Mahindra, kemudian terduduk di depan pria tua itu. Ia bersimpuh meminta pada Kakek Mahindra untuk mengatakan di mana istrinya sekarang.


Tangan kakek mengepal, ada jutaan rasa yang berkecamuk. Antara memberi tahu atau tidak. Tapi jika melihat Gadhi satu bulan lebih seperti orang gila, ia jadi ragu. Gadhi tidak bisa melindungi cucunya nanti.


"Berdiri! Kakek bilang berdiri!" sentak kakek Mahindra.


Jonathan mencoba membatu Gadhi, tapi lagi-lagi ditepi oleh pria itu.


"Di mana istriku ..."


Kakek Mahindra menghela napas dalam-dalam.


"Bangunlah, akan aku katakan di mana Hanum."

__ADS_1


Gadhi langsung mendongak. lalu BERSAMBUNG.


__ADS_2