Crazy Rich

Crazy Rich
Benih Premium


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 34


Oleh Sept


Masih mode siaga empat, tolong sekali untuk yang belum memiliki pasangan yang sah, atau masih belum memiliki KTP, mohon untuk klik selanjutnya. Sungguh, buku pelajaran lebih berfaedah dari pada crazy Rich ini. Terima kasih bestie.


***


Daerah Rawan Bencana


...


Hanum yang semula mengunakan tangan untuk menutupi tubuhnya bagian atas, kini gadis tersebut membekap mulutnya sendiri. Ia memejamkan mata dengan rapat.


"Ish!"


'Kenapa dia tidak mau menatapnya? Bukannya tadi dia bahkan membelai dan mengusap lembut?' batin Gadhi yang menatap Hanum malah memejamkan mata.


"Buka matamu ... aku sudah tidak tahan!" ucapnya serak.


Gadhi kemudian mengunci tubuh Hanum, menjadikan Hanum sepenuhnya dalam kuasanya. Karena tangan Hanum sibuk menutup mulut, alhasil pemandangan yang sempat disembunyikan Hanum kini terlihat menantang. Bahkan ujungnya pun berdiri tegap, kecil cabe rawit. Sepertinya mau digigit lagi.


Benar saja, detik berikutnya Gadhi langsung melahap benda seperti kismis tersebut. Lagi-lagi pria yang sudah dewasa itu seperti bayi kecil yang menyesap ibunya.


Hingga Hanum berusaha mendorong, tapi ia malah terkejut saat di bawah perutnya merasakan sesuatu yang hangat dan lumanyun keras.


Hanum mengeliat, berusaha menghindar. Ia mencoba tetap waras. Tapi obat yang dicampur pada makanannya sepertinya terlalu banyak, membuat Hanum susah menolak pesona dan buaian dari pemilik burung Hering tersebut.


Apalagi bibir Gadhi sudah kembali turun ke bawah, tidak lagi bermain di bagian paling atas.


"Gad!!!! Jangan! Aku mohon!" rintihh Hanum sambil merapatkan kaki. Tapi dengan lembut tangan pria itu membuka kaki Hanum. Mengambil cela untuk burung Hering.


CUP


"Terlambat! Aku gak tahan!" bisik Gadhi kemudian mencoba memaksa masuk.


Jelas saja Hanum langsung kembali menutup kakinya, membuat burung Hering terjepit.


'Kenapa dia terus menolak?'


Gadhi kemudian membetulkan posisi, pria itu sekarang berbaring di sebelah Hanum.


"Mari keluar dari rasa yang menyiksa ini!" ucapnya lagi. Kemudian kembali memainkan benda yang bukan mainan tersebut.


Ia usap, ia pelintirrr, kemudian kembali digigit. Mungkin kelewat gemas dan sudah mengila karena obat dari kopi yang ia minum. Ketika Hanum meronta dengan lemas karena sesungguhnya Hanum juga tidak tahan, akhirnya Gadhi mencoba membuat Hanum rileks.


Ia belai pipi mulus Hanum, ya pipi itu kini mulus sekali. Entah dibawa madam Li ke mana saja, Hanum sekarang jadi sangat cantik. Tidak hanya itu, usai menbelai Hanum, ia juga mengecupp lagi bibir Hanum yang merah merekah yang ingin ia gigit dan gigit lagi.

__ADS_1


Sembari berciumann lagi, jari Gadhi mulai berkelana. Membuat Hanum beringsut tapi ia tahan dengan tubuhnya dengan kuat. Hingga Hanum tidak bisa berkutik, hanya menuruti apa maunya.


"Jangan menghindar ... siksaannya akan semakin lama," ucap Gadhi jujur.


Hanum menggeleng pelan, tapi matanya kemudian menutup.


'Gadhiiii!!! Kau!!!" pekik Hanum dalam hati ketika jari Gadhi sudah membuatnya berhasil me remang.


"Jangan!" Hanum menggeleng, tapi Gadhi terus saja memainkan tangannya, membuat Hanum kesulitan bernapas.


Ya, napasnya memburu, ini benar-benar siksaan yang berat. Ketika hati dan tubuh tidak sejalan.


"Hentikan!" Hanum menarik tangan suaminya agar tidak bermain-main di bawah sana.


Gadhi menyeringai dengan kepala yang masih pusing karena nyut-nyutan sejak tadi. Yakin Hanum sudah siap, akhirnya Gadhi pun menyerahkan semua pada burung Hering.


...


...


...


"Gad ...!" Hanum memekik, ia menjambak rambut cucu dari orang paling kaya raya tersebut. Seumur-umur tidak pernah ada yang berani menyentuh rambut pria tersebut. Ini malah Hanum langsung menjambak rambut Gadhiata Ratama Prakas, si pewaris global Tourshine Groups.


Bukannya marah, Gadhi malah melanjutkan aksinya.


"Gad!"


Hanum kembali memanggil, kali ini tanpa menjambak, tapi langsung mencakar Gadhi. Meninggalkan banyak goresan kuku pada punggung Gadhi yang lebar itu.


"Tahan! Sebentar lagi kita akan keluar dari masalah ini!" kata Gadhi sembari meremass rambut Hanum.


".... Ish ... Hanum! Aku mau keluar!" Gadhi tiba-tiba menjadi tegang.


Hanum yang tidak bisa berpikir lagi, hanya mencengkram punggung suaminya. Membuat gerakan Gadhi semakin cepat.


...


...


...


'Kakek! Sepertinya kakek yang menang!' batin Gadhi. Saat tidak bisa menahan sesuatu lagi, ia lepaskan benih-benih kehidupan dalam rahim seorang wanita. Seorang gadis pilihan kakek. Hanum Bramantya, kini dalam rahim wanita tersebut sudah basah karena semburan burung Hering. Benih Premium dari keluarga konglomerat yang terpandang.


Dan bukkkk ...


Gadhi menjatuhkan tubuhnya, hingga menindihh Hanum. Tapi hanya sekejap, karena berikutnya dia langsung tergeletak lemas di sisi Hanum.

__ADS_1


Sambil mengatur napas, keduanya menatap langit-langit kamar. Untuk sesaat mereka merasa puas, lega dan seperti ada yang plong lepas dari pundak, karena berhasil melakukan pelepasan bersama dengan cukup dramatis.


Beberapa menit kemudian.


Keduanya sudah lebih tenang, tidak bergejolak dan terbakar seperti sebelumnya. Kini yang tersisa malah rasa perih pada pusat Hanum.


'Bagaimana dengan pasal 7?' batin Hanum tersadar. Ia kemudian buru-buru menarik selimut. Untuk menutupi tubuhnya, baru sadar kalau dirinya tidak pakai apa-apa.


Sedangkan Gadhi, pria itu juga sebenarnya tidak enak. Tapi bagaimana lagi, sudah terlanjur. Akhirnya Gadhi malah memasang muka biasa. Dengan santai pria itu bangun dan kembali memakai bathrobe miliknya.


"Pakai ini!" Ia kemudian mengulurkan handuk kimono milik Hanum.


Setelah itu, Gadhi berbalik. Pria tersebut ke kamar mandi dan membasahi seluruh tubuhnya.


"Gadhi! Apa yang sudah kau lakukan?"


Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Sedangkan Hanum, ia mengacak-ngacak rambutnya hingga berantakan.


"Hanum!! Kau sudah tidak warassss!!!" Hanum memarahi dirinya sendiri.


Dua orang itu berjibaku dengan pikirannya masing-masing.


Di dalam kamar mandi


Gadhi keluar masih memakai bathrobe yang sama seperti tadi. Setelah membasahi seluruh tubuhnya agar bisa berpikir jernih, ia pun keluar kamar mandi dan menemui Hanum.


"Mandilah ... bersihkan tubuhmu!" ucapnya pada Hanum.


Hanum yang belum memakai bathrobe yang diberikan Gadhi tadi, hanya mengenakan selimut untuk menutupi tubuhnya. Ketika kakinya akan turun, mendadak ia merasa nyeri.


Wajahnya meringis menahan sakit, dan Gadhi tahu hal itu.


"Aku bantu!" ujarnya dingin.


Pria itu kemudian membopong tubuh Hanum.


"Sudah! Turunkan aku!" ucap Hanum.


"Aku turunkan di dalam!"


Benar saja, Gadhi langsung meletakkan Hanum dalam bathtub. Dan saat ia menerima selimut dari Hanum agar tidak basah, mata Gadhi malah tertuju pada buah kismis.


'Sial!'


Burung Hering pun kembali menyembul dari balik bathrobe yang ia kenakan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2