Crazy Rich

Crazy Rich
IKUT


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 49


Oleh Sept


Suasana terasa hening, canggung dan kaku. Gadhi sudah duduk di dekat Hanum, mereka sedang sarapan bersama kekak Mahindra. Kakek akan ke New Delhi sore nanti, sangat mendadak memang. Karena kakek juga baru mendapat kabar itu beberapa saat yang lalu. Ada kerabat jauh kakek yang meninggal karena sakit kronis.


"Lain kali Kakek ingin mengajakmu ke sana, Hanum," ucap kakek sambil menyesap teh herbal yang masih mengepul asapnya.


Hanum hanya mengangguk pelan. Sementara itu, Gadhi hanya berdehem. Sejak kejadian semalam, dua orang itu tidak lagi seperti kucing dan tikus. Ya, setelah mereka bangun tadi pagi, baik Hanum maupun Gadhi sama-sama gengsi untuk saling menyapa duluan.


Padahal bangun tidur tadi pagi, keduanya bangun dalam satu selimut yang sama. Setelah malam panjang semalam, mereka pun terlelap. Begitu bangun, tahu-tahu sudah pagi dan saling memeluk sama lain.


"Oh, iya ... Kakek sudah siapkan bulan madu untuk kalian. Madam ... mana paper bag untuk Hanum," panggil kakek sambil menoleh ke samping.


Madam Li buru-buru meraih paper bag warna coklat tua. Kemudian memberikan benda itu pada tuan besarnya.


"Ini, Tuan."


Kakek pun mengambil paper bag dan memberikan pada Hanum.


"Terima ini ... buat kalian berdua."


Hanum melirik ke dalam kantung kertas yang tebal tersebut. Kemudian tangannya masuk dan mengambil empat lembar kertas warna gold. Persis sebuah ticket ekslusif.


"Apa ini, Kek?"


Kakek memasang wajahnya yang ramah, membuat Gadhi memperhatikan ekspresi sang kakek. Sejak ada Hanum, sang kakek jadi sering tersenyum.


"Berlayar 10 hari, dan kakek rasa itu cukup. Karena Gadhi pasti tidak bisa meninggalkan pekerjaan lama-lama. Iya, kan?" tanya kakek sembari menatap cucunya itu.


"Hemm!" response Gadhi terlihat biasa saja. Padahal dalam hati ia sumringah.


'Kakek memang terbaik!' gumamnya lirih.


"Kalian bisa pergi bersama asisten kalian. Sebab kakek tidak bisa melepas kalian begitu saja," ucap kakek kemudian dan terdengar sendu. Sepertinya ada trauma padanya di masa lalu.


"Tapi ... Kek." Hanum mencoba menolak, tapi ia tidak berani menatap Gadhi. Lebih tepatnya malu. Malu karena apa yang sudah terjadi tadi malam.


"Terima kasih, Kek!" sela Gadhi sebelum Hanum banyak berulah dan menolak hadiah kakek. Rejeki jangan ditolak, kebetulan 10 hari. Ia bisa puas. Tanpa sadar, otaknya sudah traveling kelilingi Eropa.


***


Bandara International SH

__ADS_1


"Hanum, jaga diri baik-baik. Pulang dari bulan madu, Kakek janji ... Kakek akan cerita semuanya."


Hanum yang kala itu mengantar kakek Mahindra ke Bandara, jadi semangat kembali. Setidaknya 10 hari lagi ia akan mendapat jawaban lengkap dan jelas, akan asal usul dirinya.


"Benarkah, Kek?"


"Hemm!" kakek mengangguk. Kemudian mengusap rambut Hanum.


"Kalian kembali, sebelum hari gelap. Kakek berangkat dulu!" pamit Kakek pada kedua cucunya.


"Hati-hati, Kek."


Gadhi memeluk sang kakek kemudian melepaskan kepergian kakek Mahindra ke New Delhi.


"Bye ... bye!"


"Hati-hati, Kek!" teriak Hanum saat melihat kakek menjauh. Pria itu berbalik, kemudian tersenyum ke arahnya dengan senyum yang terasa hangat.


Beberapa saat kemudian.


"Tuan, Kita akan ke mana sekarang?" tanya sekretaris Jo yang mengikuti Hanum dan Gadhi berjalan keluar Bandara.


"Ke rumah," jawab Gadhi singkat, dan masih sambil berjalan.


"Maaf, Tuan ... rumah yang mana?"


"Ke rumahku!"


"Baik, Tuan."


'Aduh ... ke rumahnya.' Hanum tiba-tiba merasa merinding.


***


Sepanjang perjalanan, baik Gadhi dan Hanum sama-sama irit bicara. Ada dinding transparan di antara mereka berdua. Padahal duduk berdampingan. Tapi seolah ada jarak panjang yang memisahkan.


Hingga sampai akhirnya tiba di kediaman Gadhi. Sebuah rumah besar dengan kolam renang luas di taman samping rumah.


Mereka bertiga masuk bersama-sama. Sedangkan madam Li, ia menyiapkan segala keperluan Hanum. Sehingga tidak bisa ikut, tapi ia akan menyusul. Apalagi besok mereka akan pergi bersama-sama naik kapal pesiar.


"Ma ...!" Gadhi memanggil Nyonya Geni.


"Mama kira masih mau berlama-lama di rumah kakekmu?" sindir Nyonya Geni.

__ADS_1


Anak dan menantu datang bukannya disambut, malah sikapnya acuh. Bahkan Nyonya Geni tidak menyapa Hanum.


"Besok kami akan pergi lagi, mungkin bermalam dulu untuk istirahat."


"Mau ke mana?"


Gadhi diam sejenak, kemudian menatap Hanum.


"Bulan madu."


"Apa? Jangan bicara omong kosong Gadhi!" sentak Nyonya Geni protes.


Nyonya Geni langsung menarik lengan Gadhi. Membawa pria itu menjauh.


"Untuk apa kalian bulan madu? Hah?" tanya Nyonya Geni penuh selidik.


"Itu rencana kakek, udah ... turutin saja!" jawab Gadhi malas. Malas debat dengan sang mama tentunya.


'Pria tua itu!!! Apa papa mau menjerat Gadhi dengan gadis udik itu? Meskipun aku akui Hanum sedikit berbeda dari sebelumnya, tetap saja dia asal usul tidak jelas!' batin Nyonya Geni menolak punya mantu Hanum. Apalagi pakai acara honeymoon. Bisa-bisa ia akan segera mendapat cucu. Keturunan yang dikandung wanita tidak jelas. Oh, no! Harga diri sebagai orang kaya sejak lahir, membuatnya terusik.


"Pokoknya kamu jangan macan-macam!" ucap Nyonya Geni kemudian kembali keluar menemui Hanum.


Belum tahu saja Nyonya Geni kelakuan sang putra. Gadhi memang tidak macan-macam, tapi sudah bermacam-macam. Macan-macam gaya yang ia terapkan pada isti barunya itu.


"Bikk ... Bibik."


Tap tap tap


Wanita paruh baya keluar dari dalam.


"Iya, Nyonya."


"Bawa koper dan tas ini ke kamar tamu!" serunya pada asisten rumah tangga di rumah itu.


'Kenapa dibawa ke kamar tamu barang-barang Hanum?' dahi Gadhi langsung mengerut.


Sedangkan Hanum tidak ambil pusing, mau di kamar tamu mau di kamar presidential suite, sama saja. Yang pasti ia hanya butuh tempat untuk rebahan. Baru beberapa hari menikah dengan Gadhi, badannya sudah sakit semua. Capek dibolak-balik.


"Kamu bisa istirahat, kalau butuh apa-apa. Panggil ART!" ujar Nyonya Geni agak ketus pada Hanum.


Hanum hanya mengangguk sekenanya. Kemudian berjalan mengikuti ART.


"Gad!!! Kamu mau ke mana?" teriak Nyonya Geni ketika melihat Gadhi berjalan di belakang Hanum yang akan ke kamar tamu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


IG Sept_September2020


__ADS_2