Crazy Rich

Crazy Rich
Ular Berbisa


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 70


Oleh Sept


Ruang rawat inap VIP


"Madam, mereka imut-imut sekali," puji sekretaris Jo. Ia mengamati box bayi jumbo yang berisi bayi-bayi kaya raya calon sultan selanjutnya.


"Ya, cantik dan ganteng."


Jonathan tersenyum tipis. Kemudian mencoba menyentuh lembut pipi baby twins. Tapi tangan madam Li langsung menepis tangan tersebut.


"Cuci tangan dulu, jangan asal menyentuh!" cetus madam Li yang over protective pada bayi-bayi Hanum dan Gadhi.


"Astaga, Madam! Aku bahkan sudah pakai hand sanitizer!" celetuk Jonathan kesal.


Bibir madam Li merekah mendengar jawaban sekretaris Jo. Ia tidak tahan untuk tidak tersenyum saat melihat bibir sekretaris Jo yang seketika mengerucut.


"Aku hanya bercanda sekretaris Jo. Kenapa kau jadi sensitive sekali akhir-akhir ini?" canda madam Li.


Tidak menjawab, seketika Jo hanya menyentuh pipi-pipi baby twins yang lembut dan kemerah-merahan tersebut.


"Madam ...!" panggil Jonathan yang masih memperhatikan baby twins.


"Hemm."


"Lihatlah bayi-bayi ini ... apa kau tidak ingin?"


Madam Li mengeryitkan dahi saat mendengar pertanyaan sekretaris Jo.


"Jangan bicara omong kosong!" ketus madam Li.


'Dia galak sekali!' batin sekretaris Jo.


"Lihat Madam, bayi-bayi ini sangat mengemaskan. Dan lihat juga usiamu."


Seketika madam langsung melotot.


"Sekretaris Jo, apa kau kau berkelahi?"


Jonathan langsung mengkerut. Ia tahu, dibalik sikap madam Li yang penuh wibawa, terkesan dingin dan disiplin. Wanita itu punya koleksi banyak sabuk dan piala. Ya, terlalu banyak prestasi yang diukir oleh madam. Kebanyakan dari cabang bela diri. Kalau sekretaris Jo macan-macam, ia bisa kehilangan semua tulang-tulangnya.


"Jika kau seperti ini, aku yakin. Kau akan melajang selamanya!" celetuk Jonathan sekali lagi.


"Astaga, aku rasa jauh dari tanah kelahiran membuatnya lupa daratan!" gerutu madam Li jengkel. Tidak mau darah tinggi karena memikirkan ucapan sekretaris Jo, madam memilih melangkah meninggalkan pria itu.


Lebih baik jadi obat nyamuk di antara Gadhi dan Hanum, dari pada kesel sendiri mendengarkan ocehan Jonathan.


"Nona mau saya kupaskan buah?"


"Tidak, terima kasih. Apa mereka masih tidur? ASI-ku kenceng Madam, sepertinya waktunya mereka minum.


"Baik, Nona. Akan saya bawa ke mari."

__ADS_1


Madam Li balik ke box, ia mengusir sekretaris Jo karena Hanum mau memberikan ASI.


Baby boy terlebih dahulu, karena ternyata ia yang baru bangun duluan. Dengan lembut madam menggendong baby tersebut. Kemudian meletakkan di pangkuan Hanum.


"Gak keluar?" Hanum menatap suaminya.


"Nggak, nggak papa. Kasih ASI saja. Aku gak ganggu." Gadhi tersenyum tanpa dosa.


Madam Li yang malu, ia kemudian memilih pamit. Tuan muda masih bucin parah, meski sudah memiliki baby.


KLEK


Madam Li keluar berkumpul bersama sekretaris Jo yang sedang berbincang dengan kakek Mahindra.


Sementara itu, di dalam kamarnya, Gadhi malah usil sekali pada baby boy. Dengan sengaja ia menarik ASI agar si baby menangis.


"Gad!!" desis Hanum.


"Lihat ... dia marah sambil nangis. Ya ampun, cenggeng sekali anak Papa!"


Hanum melirik tajam ke arah suaminya. Kemudian mencubit pinggang Gadhi yang six pack tersebut.


"Aduh!"


Oek ... oek ...


Baby girl mulai bangun dan menangis kencang sekali.


"Tuh ... bangun!"


Gadhi beranjak, kemudian menggendong baby girl. Karena Hanum masih memberikan ASI untuk putra mereka, maka Gadhi kebagian jagain baby girl. Ia kemudian meletakkan di ranjang yang lain, tidur di samping baby cantiknya itu.


"Tunggu ya, Sayang. Antri!" ucapnya sambil mengusap sayang putri kecilnya.


"Hanum ... mengapa dia cantik sekali?"



Hanum hanya melempar senyum.


"Aku takut banyak pria yang akan jatuh hati padanya jika dia besar nanti," ucap Gadhi lebay.


Hanum semakin terkekeh, melihat Gadhi makin lama semakin berubah. Gadhi yang dulu benar-benar beda. Sangat beda malahan. Hanum merasa seperti ratu, Gadhi memperlakukan dirinya sangat baik. Membuatnya sangat bersyukur, coba kalau dulu. Gadhi sangat kasar, kejam, sombong dan arrogant.


Kini semua sudah berbanding terbalik, tidak ada pria sombong, yang ada hanya pria tulus yang sayang padanya. Bahkan ia sampai meminta kakek untuk tidak mengatakan statusnya yang sebenarnya. Biarlah ia kubur dalam-dalam. Biar seperti ini saja.


***


Tok tok tok


Kakek Mahindra masuk, Hanum juga sudah selesai memberikan ASI untuk bayi-bayi kembarnya.


"Kek."

__ADS_1


Kakek Mahindra duduk dan memperhatikan cicitnya yang digendong Gadhi.


"Kakek mau mengatakan sesuatu, sepertinya kakek harus segera pulang. Karena perusahaan butuh Kakek."


Gadhi terlihat menyesal.


"Maaf, Kek. Gadhi belum bisa kembali ke perusahaan."


"Tidak apa, kalian di sini dulu. Nanti jika mereka sudah sedikit besar. Kalian harus pulang."


Hanum terlihat sedih. Apalagi saat kakek mendekat dan memeluknya hangat.


"Jaga diri kalian."


"Kakek juga!"


"Kakek pasti akan merindukan kalian semua."


Gadhi giliran memeluk kakeknya, tumben sang kakek mellow. Biasanya juga mereka pisah negara tapi tidak sesedih ini.


***


Minggu pagi, Indonesia.


Kakek Mahindra sedang di rumah Akas. Suha menghubungi, katanya kondisi akan menurun drastis. Bagaimana tidak, Suha terlampau kejam. Ia menaikkan dosis obat pada Akas. Membuat Akas semakin tidak bisa mengerakkan seluruh tubuhnya.


Bahkan untuk bicara saja pria itu malah mengigit lidahnya. Suha benar-benar sadis. Ia membalas dendam dengan menyiksa Akas secara perlahan, ia ingin pria itu mati perlahan karena menderita.


"Mengapa dia semakin parah? Coba bawa ke Jerman!"


Suha akting menangis.


"Aku sudah mendatangkan dokter terbaik, tapi sepertinya pengobatan sia-sia, Pa."


Kakek Mahindra menghela napas panjang, ia merasa iba melihat putranya seperti itu.


"Baiklah! Biar aku saja yang urus!" cetus Kakek Mahindra.


"Biar Suha saja, Pa. Apa Papa gak percaya pada Suha?"


Wajah kakek Mahindra berubah dingin.


"Aku tahu dokter yang terbaik."


"Papa pikir dokterku dokter tidak kompeten?" Nada suara Suha mulai naik.


Tap tap tap


Sesaat kemudian datang pelayan membawa minuman.


"Maaf, Pa. Suha terlampau emosional. Ini karena Suha stress sakitnya Akas yang semakin parah!" ucap Suha kemudian melirik gelas minuman yang dibawa pelayan.


"Silahkan Papa minum, sekali lagi Suha minta maaf karena sedikit emosi," tambah Suha dengan suara lembut.

__ADS_1


Suha meperlihatkan wajah penyesalan, kemudian mengusap wajah. Ia juga mengusap sudut matanya. Padahal kering, tidak basah sama sekali. Mungkin air mata buayanya sudah habis.


Kakek Mahindra hanya melirik, kemudian mengambil minuman yang sudah dibawa oleh pelayan. Dan Bersambung.


__ADS_2