
Crazy Rich Bagian 8
Oleh Sept
Global Tourshine Groups
Masih dengan muka dingin dan masam, Gadhi berjalan dengan tegap, dagunya terangkat dan saat banyak karyawan mengucap salam, ia hanya berlalu begitu saja.
Sedangkan sekretaris Jo, pria itu tetap setia berjalan di belakang Gadhi sambil membawa tas milik bosnya tersebut. Saat berpapasan dengan karyawan lain, sekretaris Jo mengangguk pelan. Kemudian fokus mengikuti Gadhi ke ruang kerjanya.
Gadhi yang sudah sangat kesal, kembali harus menahan diri. Di ruang kerjanya sudah duduk Gradi. Meski lebih muda, tapi Gradi kurang sopan. Ia bersikap cuek pada sepupunya itu.
"Kenapa kau ke sini?"
"Ini perusahaan kakek, terserah aku."
"Turunkan kakimu!" sentak Gadhi yang melihat sepupunya itu mengangkat kaki di atas meja.
"Oke ... aku juga tidak tertarik dengan semua ini. Aku hanya mau bilang selamat ... Katanya kau mau menikah."
"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, silahkan keluar. Kau tahu kan mana pintu keluarnya?"
Mendapat perlakuan dingin dari Gadhiata, Gradi pun hanya tersenyum mengejek.
"Oh iya ... aku dengan dia wanita dari kalangan bawah. Mengelikan jika kau tetap melakukan pernikahan ini. Hanya karena warisan dari Kakek, kau melakukan sesuatu yang menyedihkan. Lain kali, aku kenalkan gadis yang lebih bagus. Jika kau kesulitan mencari pendamping yang sepadan," ledek Gradi. Ya Gradi memang lebih muda dari pada dirinya. Tapi pengalaman Gradi lebih banyak.
Gradi merupakan mahluk club, kekasihnya banyak dan suka ganti-ganti pacar. Orang-orang menjulukinya sebagai Casanova dari Tourshine. Tampan, kaya, tapi playboy.
"Jonathan ... tolong antar dia keluar!" titah Gadhi yang merasa jenggah dengan ulah sepupunya. Terlalu banyak omong, membuatnya semakin muakk.
Dengan cepat Jonathan berjalan menuju pintu. Ia buka pintu ruang itu lebar-lebar.
"Maaf, Tuan." Sekretaris Jo merasa tidak enak karena harus mengusir putra dari tuan Akas tersebut.
Sedangkan yang diusir, ia hanya tersenyum mengejek. Kemudian keluar sambil mengibas pakaiannya.
'Kasian sekali! Hanya dijadikan boneka!' batin Gradi kemudian pergi menghilang di ujung lorong panjang.
***
"Jo! Kosongkan semua jadwal. Hari ini aku tidak mau diganggu!" ujar Gadhi sembari mengusap wajahnya dengan kesal.
"Baik, Tuan."
Sang sekretaris pun kembali keluar, meninggalkan Gadhi seorang diri di dalam sana. Baru saja memberikan warning pada sekretarisnya. Malah datang lagi tamu tidak diundang.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa menahan mereka. Karena ini perintah dari Nyonya besar."
"Astaga!"
Gadhi menghela napas panjang kemudian duduk dengan dongkol. Apalagi orang itu menyodorkan kartu nama. Mereka mengaku dari boutique langanan sang mama.
"Kalian datang lagi nanti, akan saya hubungi. Sekarang saya sedang sibuk!"
Selang beberapa saat, seorang wanita masuk dengan langkah yang angun.
__ADS_1
"Selamat pagi Pak Gadhi, saya Rebecca. Nyonya Geni meminta saya untuk mengukur jas Tuan, untuk baju pengantin bulan depan."
Gadhi langsung menahan napas sebal. Suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja sekarang.
"Kita bertemu lain kali, saya sibuk."
Gadhi meninggalkan ruangan begitu saja. Membuat desainer dan dua anak buahnya saling menatap penuh tanya.
"Maaf, Tuan Gadhi sedang sibuk. Nanti akan saya berikan jadwal kapan kalian bisa bertemu." Sekretaris Jonathan kemudian meminta semua orang pergi.
***
Kediaman kakek Mahindra
Kakek sedang duduk bersama Nyonya Geni. Mereka sedang membahas persiapan pernikahan antara Gadhi dan Hanum.
"Geni sudah siapkan semuanya, Pa."
"Bagus."
"Tapi ... Pa. Boleh Geni menanyakan sesuatu?"
"Katakan!" titah kakek sambil mengusap patung sapi dari emas miliknya.
"Kenapa Hanum? Apa istimewanya gadis itu? Kalau hanya untuk menikah, Geni bisa cari wanita yang sepadan. Lulusan luar negri, keluarga terhormat dan yang pasti penampilan tidak seperti Hanum."
Mendengar ucapan Nyonya Geni, kakek Mahindra menghentikan aktifitasnya. Ia kemudian meletakkan patung sapi yang terbuat dari emas 24 karat itu di atas meja kembali.
"Aku lebih tahu, mana yang terbaik untuk cucuku."
"Jika tidak ada yang dibicarakan, kamu bisa pergi. Aku mau istirahat!" Kakek Mahindra berdiri, ia berjalan meninggalkan Nyonya Geni begitu saja.
'Kenapa jika ditanya selalu berbelit-belit. Dasar ... ya ampun. Kakek tua ini membuatku naik darah saja. Membuatku emosi. Lihat ... sepertinya aku harus melakukan perawatan lagi untuk menghilangkan keriput!' batin Nyonya Geni kesal.
***
Samudera group
Hanum sedang bekerja seperti biasa, sambil memeriksa laporan, ia sesekali menatap amplop coklat di atas mejanya. Sepertinya setelah menyelesaikan tugasnya kali ini, Hanum akan mengundurkan diri.
Tok tok tok
"Masuk!"
Hanum masuk sambil membawa berkas dan juga amplop coklat.
"Ini, Pak. Semuanya sudah saya periksa. Dan ini ... surat pengunduran diri saya."
Pak Bagas langsung mendongak.
"Hanum! Saya sudah minta maaf mengenai kemarin. Kenapa kamu tidak bisa melupakan? Dan lagi ... saya khilaf."
Hanum menggeleng.
"Bukan, ini bukan karena kemarin. Saya memang sudah mau berhenti sejak lama."
__ADS_1
"Apa?"
"Ini pengunduran diri saya, mohon diterima."
Hanum menundukkan kepalanya sedikit, kemudian berbalik pergi.
"Tunggu!"
Kakinya langsung berhenti melangkah saat Bagas bersuara agak keras. Selam ini atasannya itu memang cukup baik.
"Apa kamu masih marah karena kemarin? Oke ... Saya minta maaf. Saya punya masalah banyak saat itu. Jadi ... kamu tidak usah mengundurkan diri. Kamu karyawan terbaik di perusahaan ini."
"Maaf, Pak. Tapi keputusan saya sudah bulat."
"Astaga ... kau rupanya pendendam sekali, Hanum."
Hanum mundur ketika Pak Bagas mulai mendekati dirinya.
"Jangan macan-macam, kalau tidak ...!"
"Kalau tidak apa?"
Hanum menelan ludah, ia sangat takut pada bosnya saat ini.
"Sebentar lagi pengadilan akan memutuskan perceraianku. Sepertinya tidak masalah kalau kita terlibat dalam suatu hubungan."
Hanum gelisah, ia tidak tahu kalau sikap baik Pak Bagas selama ini padanya menyimpan modus tersembunyi. Mungkin karena istri bosnya itu kurang perhatian, dan kabar burung, istri Pak Bagas ketahuan selingkuh akhir-akhir ini.
Apa Pak Bagas mau balas dendam dengan bermain-main dengan siapa saja untuk melampiaskan kemarahan pada sang istri. Apes bagi Hanum, karena sepertinya dirinya yang jadi tumball pelampisaan kemarahan Pak Bagas.
Di lobby perusahaan Samudera group
Sekretaris Jo sedang bicara dengan salah satu pegawai di sana. Pria itu kemudian menghampiri Gadhi yang ada di sana. Gadhi yang sedang bad mood, sengaja mencari Hanum. Ia juga ingin memarahi gadis itu. Sekalian, Gadhi ingin bertanya secara langsung. Mengapa kakek ingin dia menikahi gadis tersebut. Apa alasannya sehingga membuat hidupnya harus diatur-atur oleh sang kakek.
"Mari Tuan, Nona Hanum ada di lantai 21."
Sekretaris Jo kemudian mempersilahkan Gadhi untuk masuk lift terlebih dahulu. Dengan malas, Gadhi akhirnya menginjak lantai lift, kemudian disusul oleh sekretaris yang selalu setia mengikuti.
Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka. Rekan kerja Hanum pun masuk satu persatu. Salah satunya ada Teri di sana.
'Ganteng banget!' batin Teri yang terpesona pada pandangan pertama.
Masih dengan muka dingin, ketika pintu kembali terbuka, Gadhi langsung keluar. Ia tidak tahan dengan tatapan wanita-wanita di dalam sana yang seolah memuja dirinya. Selain kaya raya dan memiliki paras yang tampan, Gadhi juga memiliki penyakit akut, PD tingkat provinsi.
Pria itu kemudian langsung mencari meja Hanum.
"Di mana gadis yang duduk di sini?" tanya Gadhi pada rekan kerja Hanum. Gadhi berdiri tepat di samping meja kerja Hanum.
BRUAKKK
Terdengar suara keras, seperti benda jatuh dari ruangan sebelah. Semua menatap ke sumber suara. Mereka semua kaget saat pintu terbuka.
BERSAMBUNG
IG Sept_September2020
__ADS_1
Like dan Komen. Jempolnya digoyang yaa ...