Crazy Rich

Crazy Rich
BERUANG


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 37


Oleh Sept


Setelah Gadhi terjatuh dari atas ranjang karena ulah Hanum yang spontan itu, sekarang mereka berdua kedatangan seorang dokter professional di bidangnya. Pagi itu juga sekretaris Jo menghubungi ahli bedah ortopedi. Dan sekarang Gadhi sedang berbaring di atas sofa sambil melakukan sesi konsultasi.


'Sebenarnya gaya apa saja yang kalian lakukan tadi malam sampai pagi? Mengapa sampai Tuan muda sakit pinggang? Astaga! Tidak ku sangka, kau cukup liar, Tuan!' gerutu sekretaris Jo. Ia menatap geli pada bosnya itu. Oh, Gadhi rupanya terlalu mengebu-ngebu. Apa Karena obat yang ia berikan terlalu over? Bibir sekretaris Jo malah menggembang, laki-laki itu justru tersenyum tipis.


Ia tadi kaget ketika Gadhi berteriak, ia pikir Hanum kenapa-kenapa. Tidak tahunya Gadhi mengeluh sakit. Dan saat berdiri mengaduh kesakitan seperti anak kecil yang merajuk.


'Pasti dia berakting, agar aku tidak marah karena kejadian semalam!' batin Hanum dengan wajah jutek. Ia melipat tangan, berdiri di samping dokter.


"Apa perlu rontgen, Dok?" tanya Gadhi sambil memegangi punggung serta pinggang. Terasa ada syaraf yang terjepit.


Reflek sekretaris Jo menahan senyum, sejak kapan habis malam pertama sakit pinggang langsung dirontgen?


'Tuan ... sepertinya bukan syaraf di pinggang yang terjepit, tapi syaraf yang lain!' batin sekretaris Jo meledek sang atasan.


"Saya resepkan obat anti nyeri dulu, nanti kita check ulang di rumah sakit!" jawab dokter dengan muka serius penuh wibawa.


Dahi Hanum mengeryit, 'Kalian orang kaya! Omong kosong macam apa ini? Sedikit-sedikit rumah sakit!' gerutu Hanum.


Hanum dan sekretaris Jo sangat kompak dalam memberikan komentar julid pada pria bernama Gadhiata Ratama Prakas tersebut. Mereka seolah tidak percaya pada rasa sakit yang dialami Gadhi saat ini.


"Ini resepnya, dan nanti saya tunggu di rumah sakit!" dokter itu mengulurkan selembar kertas dengan tulisan seperti artefak karena bahasanya sulit dimengerti. Tapi kalau dibawa ke apotik, 100 persen para apoteker akan langsung tahu dan paham apa itu hanya dalam sekali lirikan.


"Terima kasih!" ujar Sekretaris Jo sambil keluar mengantar dokter tersebut.


Di luar kamar hotel.


Sekretaris Jo penasaran, ia pun bicara secara pribadi pada sang dokter. Karena merasa sangat janggal.


"Dok! Apa hubungan suami istri bisa sampai kecelakaan tulang belakang? Sebenarnya apa penyebab itu semua?" tanya sekretaris Jo yang super kepo.


Dokter berhenti melangkah, kemudian menatap sekretaris Jo.


"Hubungan yang bagaimana maksudnya?"


Sekretaris Jo mengaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Kemudian menggeleng kepala sambil tersenyum kecut.


"Nggak, Dok. Tidak jadi!"


Dahi sang dokter langsung mengerut.


Sementara itu, di dalam kamar. Gadhi menatap sinis pada Hanum.


"Kau tahu? Dua hari lagi aku ada pertemuan penting Washington DC, kau membuat schedule-ku berantakan!" desisnya kesal.


Gadhi lupa, bagaimana semalam ia sudah merayu Hanum. Kini pria itu kembali ke setelan semula. Sombong, menyebalkan, dan lidah tanpa tulang.


Hanum yang dimarahi karena Gadhi yang cidera, entah cidera benaran atau hanya pura-pura. Ia lantas berkacak pinggang di depan suaminya yang masih berbaring di sofa.


"Tuan Muda! Ini salahmu! Kenapa harus peluk-peluk saat aku tidur! Kau sengaja mau mengambilkan keuntungan dariku?" tuduh Hanum jengkel.


"Aku? Keuntungan darimu? Astaga!!! Apa yang bisa aku ambil darimu?" tanya Gadhi dengan tatapan remeh.


Kesal, jengkel, campur marah membuat Hanum langsung berbalik, dan ...

__ADS_1


BUGH ...


"Aduh!!" Gadhi mengadu kesakitan. Ketika bantal terbang dan langsung mengenai tubuhnya.


"HANUMMMMMM!!"


"Kenapa? Gak terima!! Jangan pikir karena kamu berkuasa, kamu bisa melakukan apa yang kamu mau! Ingat, kamu sudah melangar hukum. Kamu sudah melangar pasal 7. Aku bisa tuntut!" cerocos Hanum seperti wanita yang lagi M.


Gadhi tersenyum remeh.


"Silahkan, lakukan apa maumu. Dan yang melangar pasal tersebut tidak hanya aku!" celetuk Gadhi santai.


Hidung Hanum langsung kembang kempis menahan kesal.


'Gadhiii! Awas kau!' rutuknya marah dalam hati.


KLEK


Pertengkaran mereka berhenti, ruangan yang tadi gaduh, riuh, penuh makian, kini berubah tenang saat madam Li datang.


"Dari mana saja Madam? Baru datang?" tanya Hanum masih dengan menahan napas karena kesal.


Madam hanya mengangguk pelan, kemudian menatap ranjang. Kain sprainya sudah ganti motif. Tidak seperti kemarin malam, polos warna putih bersih.


"Maaf Nona, seprai yang terpasang semalam Kira-kira di mana?"


Hanum langsung melirik Gadhi. Sedangkan pria itu langsung membuang muka.


"Apa pegawai hotel sudah menggantinya?" tanya madam lagi.


Hanum menahan napas dalam-dalam, kemudian menarik lengan madam Li.


Madam mendongak.


"Jangan! Harus didokumentasikan dulu Nona!!!"


Madam langsung mencari ke sana ke mari, matanya memindai seluruh ruangan.


"Apa itu?" Madam Li buru-buru mendekat padan paper bag besar dengan kain putih yang menyembul.


Wanita itu langsung saja membuka kain tersebut, membuat Hanum dan Gadhi langsung canggung.


'Pliss Madam! Kau mau membuatku malu?' batin Hanum memejamkan mata sesaat.


Sedangkan Gadhi, ia hanya menelan ludah. Kemudian pura-pura tidak lihat.


Sementara itu, madam Li merogoh ponselnya. Wanita itu mengambil foto dengan ponselnya.


"Sudah! Nanti kalau ada pegawai hotel, ini bisa dibuang!" ucap madam Li santai.


Hanum langsung duduk lemas, sambil mengomel aksi madam Li.


"Oh ya, jika Nona dan Tuan butuh apa-apa langsung hubungi saya. Sekarang saya permisi."


"Madam mau ke mana? Madam ... Madam!"


Hanum sepertinya ingin ikut dengan wanita yang selama ini mendidik dirinya ala militer tersebut.

__ADS_1


"Saya ada di kamar sebelah, silahkan Nona dan Tuan Muda menikmati moment berdua. Kami tidak akan menganggu, untuk 2 hari ke depan, jadwal Nona kosong. Permisi ..." Madam Li pergi dengan senyum curang.


'Madam!' Hanum rasanya ingin menarik wanita tersebut.


Ketika Hanum ingin ikut dan mengekori Madam, Gadhi langsung memanggil.


"Hanum!"


Hanum menghela napas panjang.


"Apa?"


"Ambilkan aku minum!"


Hanum melotot, minuman sudah ada di atas meja di depan suaminya. Tapi minta diambilkan.


KLEK


Madam sudah pergi sekarang hanya ada mereka berdua.


"Kau bahkan punya dua tangan. Ambil sendiri!"


Gadhi menatap dingin.


"Punggungku sakit karenamu!"


Huffff


Hanum mendekat, ia mengulurkan gelas pada Gadhi dengan tidak ikhlas. Wajahnya sangat tidak ramah. Benar-benar setengah hati.


"Kupaskan aku apel!" titah Gadhi lagi.


"Kupas sendiri!"


"Aku begini karena siapa? Hem?"


Hanum dengan jengkel duduk di sebelah kaki Gadhi. Dengan sengaja ia duduki sedikit kaki pria itu, membuat Gadhi teriak.


"Kau sengaja?"


"Sorry!" ucap Hanum dengan muka meledek.


"Ish!"


Sesaat kemudian


"Ini! Sudah jangan perintah-perintah lagi, aku bukan pembantumu!" protes Hanum.


Gadhi tidak peduli, ia kemudian makan potongan buah apel yang manis dan segar, yang kecut hanya wajah masam Hanum.


Lama-lama ia menyukai permainan ini. Seru juga membuat Hanum jengkel. Dia seperti beruang kalau makan dan marah-marah, tapi ...


Gadhi tersadar, ia mengutuk diri sendiri saat isi kepalanya mengatakan Hanum imut seperti bayi beruang kalau tidur. Apalagi seperti semalam, beruang liar itu seketika jadi mengemaskan jika sudah jinak.


'Gadhi! Kau sudah gila!' batinnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Tanpa sadar, sudah ada hati yang mulai sedikit terusik.


__ADS_2