Crazy Rich

Crazy Rich
Telat


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 81


Oleh Sept


Penjara


"Sewa pengacara paling mahal! Kamu mau Mama mati membusuk dalam penjara? Hah?" pungkas Suha dengan amarah yang mengebu-ngebu.


Pasalnya dia sudah lelah tiga tahun hidup di penjara. Fasilitas mewah yang selama ini ia dapat, berbanding terbalik di dalam jeruji besi. Belum lagi hampir setiap saat dia harus berkelahi dengan tahanan lain. Bahkan kuku-kuku yang selama ini tidak pernah absen untuk manicure and pedicure, harus absen selama tahun. Bayangkan, betapa menderitanya seorang Suha karena tidak bisa ke salon mahal untuk memanjakan diri.


"Mama sabar, Gradi juga mengusahakan yang terbaik buat Mama."


"Omong kosong! Kamu sepertinya sangat senang melihat Mama ada di dalam sini menderita!" tuduh Suha penuh sorot mata tajam.


"Dan mana pria stroke itu? Mama sama sekali tidak melihatnya!"


Gradi langsung membisu.


"Ada. Ada di rumah," jawabnya bohong agar sang mama tidak tambah frustasi. Jika mamanya tahu saat ini Akas dan Geni meninggalkan Indonesia dan membuang semua masa lalu mereka, bisa-bisa Suha yang akan stroke di dalam penjara.


Akhirnya Gradi pun memilih menyembunyikan fakta tersebut. Demi ibunya yang terlihat akhir-akhir tensinya naik karena kelamaan mendekam di dalam sell.


"Pokoknya hubungi semua teman-teman Mama. Minta bantuan mereka."


"Hemm!"


"Pokoknya minggu depan Mama mau kamu ke sini dengan pengacara yang baru, yang kompeten. Jangan seperti yang sudah-sudah."


"Hemm, iya."


"Satu lagi. Tinggalkan Mama uang."


"Lagi? Baru minggu kemarin Gradi kasih 50 juta. Untuk apa? Kenapa cepat habis? Di sana tidak ada mall atau salon. Mama pakai apa yang itu?"


BRUAKKK


Suha mengedor meja, membuat para penjaga langsung menatap ke arahnya. Seketika Suha langsung diam.

__ADS_1


"Berikan saja! Jual villa Kita yang ada di Bali. Mama mau uang."


Gradi hanya menghela napas dalam-dalam. Sebenarnya uang untuk apa di dalam sana? Dasar Gradi, ya untuk lain-lain.


"Oke, itu aset Mama yang tersisa. Kita sudah tidak punya apa-apa lagi."


"Cih! Tahu apa kamu! Jual juga rumah lima lantai yang ada di lebak bulus. Terus apartment di Mediterranian. Jual tapi jangan masukkan rekening Mama. Itu ... pacarmu. Nah, masukkan ke rekening dia. Biar tua bangkaa tidak mengendusnya."


"Ma ... rumah, apartment semuanya sudah disita."


"What? Jangan bicara omong kosong!"


"Itu semua punya kakek, Ma!"


"Kata siapa! Itu punya Mama. Itu harta Mama! Mama yang beli!"


"Tapi ... itu semua uang kakek."


Nyonya Suha murka.


"Kata siapa? Itu punyaku! Aku yang melakukan perjanjian jual beli dengan agennya!! Aku! Semua atas namamu!"


"Gradi!!! Kau di pihak kakekmu?" tuduh Suha murka. Wajahnya merah seperti kepiting yang dimasak dalam air panas.


"Jam besuk habis!" ucap pria berseragam membuat kemarahan Suha pending.


Wanita itu masih ingin marah pada putranya. Tapi apa daya, penjaga kembali membawa dirinya masuk ke dalam sell.


"Jual semuanya!" teriak Suha sebelum hilang dari balik pintu. Ia menoleh, menatap Gradi penuh dengan ancaman.


Gradi hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar.


Ikut aturan sang mama, ia akan hancur. Jalan satu-satunya adalah menurut pada Kakek Mahindra. Jika masih mau hidup dengan kakek Mahindra, ia harus menuruti semua aturan pria tua itu.


***


Beberapa bulan kemudian.

__ADS_1


Kediaman Gadhiata Ratama Prakash


Shiv, Shiva dan Arjuna sedang bermain di halaman. Sebuah playground besar dengan prosotan tersedia di sana. Gadhi seolah menyulap halaman rumahnya yang luas menjadi taman bermain. Itu karena ia ingin anak-anaknya tetap bisa menikmati dunia bermain tapi dengan penjagaan yang aman.


"Nah ... siapa itu yang datang?" seru Hanum saat melihat Jonathan berjalan sambil menggandeng tangan munggil putrinya.


"Shiva ... Shiv ... Arjun ... ajak main Olive ... Olive! Sini sayang!" ucap Hanum sekalian lagi sambil datang menghampiri olive yang sudah lancar berjalan tersebut.


Olive yang pelit senyum, ketika Hanum merentangkan tangan, gadis kecil itu malah mundur dan menabrak kaki ibunya. Olive kecil kemudian memeluk ibunya yang selalu rapi dan modis tersebut.


"Madam ... mengapa genmu begitu kuat?" tanya Hanum kemudian menghampiri madam Li.


Sekretaris Jo hanya terkekeh saat mendengar celetukan nona mudanya.


"Dia sangat dominant!" celetuk Jo kemudian.


"Siapa yang dominant?" sela Gadhi yang keluar sambil membawa botol minuman.


"Bukan apa-apa, Tuan!" potong madam Li. Madam kemudian melirik tajam suaminya.


"Dia sangat dominant, tapi saya suka!"


CUP


Tanpa malu-malu, Jonathan langsung saja menempelkan bibirnya di pipi madam Li.


"Astaga Jo! Kau tidak malu pada anak-anak!" sindir Gadhi dengan senyum meledek.


Madam Li langsung menepuk lengan suaminya. Ia yang merasa malu, tapi Jonathan sangat cuek. Kalau tidak begitu, mana bisa ia mendapat hati madam yang seperti kulkas 7 pintu tersebut.


Melihat tingkat Jonathan yang tidak malu-malu pada madam, Hanum jadi ikut senang. Kemudian dia berbalik dan menghampiri Gadhi.


Hanum sedikit berjinjit, kemudian mendekat untuk berbisik. Gadhi kira akan di tium seperti apa yang Jonathan lakukan pada madam Li. Tapi tidak tahunya ia malah mendapat kejutan.


"Sayang ... Aku telat."


Bersambung

__ADS_1


IG Sept_September2020


__ADS_2