Crazy Rich

Crazy Rich
MAAF


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 83


Oleh Sept


San Diego hills


Angin berhembus kencang di sebuah pemakaman paling mahal di kota itu. Di antara rerumputan hijau yang terawat, salah satu batu nisan terukir nama kakek Mahindra Prakash. Ya, pria tua renta itu sudah tutup usia di waktu senjanya.


Pemakaman kakek Mahindra dihadiri banyak pelayat yang selama ini menjadi rekan bisnis, kolega, kerabat jauh dan orang-orang yang mengenal kakek dengan baik.


Bahkan Akas dan Geni juga hadir. Akas sudah tidak duduk di atas kursi roda. Meksipun begitu, ia masih butuh alat bantu untuk berjalan. Pria itu kini memakai tongkat khusus untuk menompa tubuhnya.


Geni selalu di sisi pria tersebut, beberapa tahun lalu keduanya bahkan sudah resmi menikah di luar negri. Dan saat mendengar berita kematian kakek dari media asing, mereka memutuskan untuk pulang. Bukan untuk kembali, tapi hanya untuk mengantar kepergian kakek Mahindra. Setidaknya pria itu pernah baik pada Akas dan Geni.


Gradi juga berdiri si sana, tapi ia menatap benci pada Akas. Bisa-bisanya ayahnya menceraikan ibunya dan menikah lagi. Ada dendam yang tidak mungkin bisa hilang.


Sedangkan Hanum, matanya terlihat sembab. Dari kemarin dia hanya menangis. Untuk ada Gadhi yang mencoba untuk menguatkan Hanum. Bahwa Hanum sekarang sedang hamil. Tidak boleh larut dalam kesedihan. Meskipun begitu, Hanum tidak bisa membendung air matanya. Dan Gadhi pun hanya bisa memberikan pelukan untuk menenangkan istrinya tersebut.


***


Pulang dari pemakaman yang terbilang paling mahal itu, Akas dan Geni langsung pergi. Tanpa menjengkuk cucu-cucu mereka. Mungkin karena malu, dan tidak percaya diri. Apalagi Gadhi sama sekali tidak mengajak bicara keduanya. Bertahun-tahun belum cukup untuk Gadhi menerima scandal orang tua kandungnya. Gadhi memilih menghindar dari keduanya.


Hotel Merion


"Aku ingin menemui mereka, sekali saja sebelum Kita kembali," ucap Geni yang sepertinya sudah sedikit melupakan ambisinya.


Hidup jauh dari anak satu-satunya, dan tidak bisa merangkul cucu-cucunya, cukup membuatnya tersiksa.


"Aku tidak ingin melihatmu terluka karena penolakan Gadhi. Lebih baik Kita kembali. Jika dia bersedia bertemu, dia pasti akan menghubungimu," ucap Akas yang kini bicaranya sudah semakin lancar.


"Kapan itu? Kenapa dia tidak bisa memaafkan ibunya sendiri?" Geni mengusap pipinya.

__ADS_1


Bertahun-tahun ia menyesali semuanya, tapi sepertinya hati Gadhi begitu keras.


"Nanti ... pasti ada hari di mana Gadhi memaafkan Kita."


Akas menyentuh pundak Geni yang kini sudah sah menjadi istrinya. Sedangkan jauh di dalam penjara, Suha sedang menikmati hukuman demi hukuman.


Belum pernah rasanya ia menyapu rumah. Kini ia harus memegang sapu dan mencabut rumput di halaman Rutan.


***


Rutan X


"Ibu Suha! Ada yang membesuk."


Suha langsung bergegas, penampilan wanita itu jauh lebih tua dari pada sebelumnya. Mungkin karena jarang pakai skincare, membuatnya jadi keriput.


"Kenapa lama sekali? Mana uangnya?"


"Ini yang terakhir, bulan depan Gradi akan menikah."


"Menikah? Bagus! Dengan pacarmu itu?" tebak Suha santai. Matanya tertuju pada amplop coklat di depan Gradi.


Gradi menggeleng. "Bukan, mungkin setelah menikah Gradi akan jarang menjengkuk Mama."


"Anak surhaka!" cetus Nyonya Suha marah.


"Aku akan ke Venezuela untuk memulai bisnis di sana."


"Heiii! Kau gila! Kau mau membiarkan Mama membusuk sendirian di sini?"


Gradi memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Maaf, Ma. Tapi Gradi juga ingin memulai hidup baru."


"DURHAKA!!" sentak Suha geram.


"Ini keputusan Gradi. Maaf ... Ma."


"Anak sialannn! Kau sama brengsekkk seperti papamu!" teriak Suha frustasi.


Karena Suha sangat berisik, akhirnya penjaga datang. Dan membawa wanita itu masuk ke dalam.


"Awas kau Gradi!" teriak Suha sekali lagi sebelum benar-benar menghilang dibawa penjaga Rutan.


Sepertinya Suha akan semakin tersiksa lebih dalam karena ulahnya sendiri.


***


Esok harinya, di sebuah Bandara International.


Geni berkali-kali menoleh ke belakang, berharap ada bayang-bayang Gadhi yang bisa ia tatap.


"Kau melihat apa? Mereka pasti tidak datang."


Geni mengusap pipinya.


"Ya, aku rasa kesalahan Kita tidak termaafkan."


Sambil menyusut hidungnya yang basah, Geni pun kembali melangkah. Ketika larut dalam lamunan dan rasa bersalah yang dalam, tiba-tiba sebuah suara membuatnya tidak bisa melangkah. Wanita itu seketika berhenti dengan tubuh bergetar. Tangisnya langsung pecah.


"Omaaaa!"


BERSAMBUNG

__ADS_1


IG Sept_September2020


__ADS_2