
Crazy Rich Bagian 60
Oleh Sept
"Ehem ... Mama pikir kamu masih betah di luar negeri!" sindir Nyonya Geni sinis.
Ia melirik Hanum seperti melihat musuh.
'Awas saja kalau dia hamil, aku nggak akan diam!' batin Geni dengan tatapan seperti mak lampir. Tajam dan penuh dendam.
"Mama kenapa lagi? Gadhi kira semua sudah berakhir."
"Bicara apa kamu? Jangan dengarkan nenek peot itu! Mama sama om Akas hanya sedang membicarakan perusahaan. Dasar dia saja yang emosional dan terbakar cemburu!" tukas Nyonya Geni marah.
"Untuk apa bicara tentang perusahaan di kamar? MAA! Gadhi bukan anak kecil. Gadhi diam selama ini karena tidak mau Mama malu. Tidak hanya sekali! Gadhi tahu semuanya sejak papa masih hidup!"
JLEB
Nyonya Geni mulai gelisah. 'Apa benar dia tahu? Tidak mungkin!'
"Omong kosong apa lagi ini, sudah ... sudah. Kamu membuat Mama tambah sakit. Sana! Kalian keluar dari sini!" usir wanita paruh baya yang masih terlihat cantik tersebut.
Gadhi menghela napas yang sangat panjang, kemudian menarik tangan Hanum.
"Ayo pergi!"
"Tapi! Buah ini ...!" Hanum menatap keranjang buah yang masih ia pegang. Itu sudah disiapkan madam Li sebelumnya di dalam mobil sebelum ke rumah sakit.
"Bawa itu! Saya gak butuh!" cetus Nyonya Geni dengan sombong.
'Oh ... kesombongan Gadhi rupanya menurun dari Gen ibunya,' batin Hanum.
"Ma!"
"Sudah, kalian jangan menganggu ketenangan Mama." Lagi-lagi keduanya malah diusir.
Gadhi jadi tambah kesal. Ia langsung saja menarik lengan Hanum kembali.
"Ayo pulang!"
***
Sepanjang perjalanan mereka semua hanya diam. Gadhi sedang bad mood. Wajahnya mengeras sejak dari rumah sakit. Karena ia sedang mengenang kejadian buruk di masa lalu. Di mana ia sering mengetahui Akas yang merupakan pamannya, keluar masuk kamar sang mama ketika papanya keluar kota.
Semua ia pendam dalam-dalam, tidak pernah ia katakan pada siapa pun. Sebab ia tidak mau orang tuanya bertengkar dan ia akan ikut salah satu dari mereka. Gadhi kecil tidak mau itu terjadi. Sampai dia remaja, sang mama masih menjalin affair. Tapi kali ini bukan hanya dengan Akas. Ia sampai ragu, sebenarnya dia anak siapa?
"Tuan ... Tuan!" panggil sekretaris Jo.
"Ya!"
"Di luar masih ada beberapa pencari berita, apa Tuan akan tetap masuk?"
Gadhi baru sadar, kemudian menatap beberapa wartawan yang sedang menunggu di sekitar rumahnya.
"Putar arah! Kita ke apartment lama."
"Baik, Tuan."
__ADS_1
'Apartment?' batin Hanum.
***
Apartment L'Vndar
Mobil sport warna hitam itu berhenti, sekretaris Jo menoleh ke belakang.
"Tuan ... Nona. Kita sudah sampai."
Gadhi pun turun terlebih dahulu, mungkin pikirannya sedang kacau, ia lupa membuka pintu untuk istrinya.
'Baru juga pulang sehari ke Indonesia. Tuh .. sudah berubah. Cih ... dasar pria?' Hanum merutuk karena yang buka pintu malah sekretaris Jo.
Suaminya sibuk menghubungi seseorang, hingga berjalan lebih cepat di depannya.
"Sewa pengacara terbaik, harus diusahan damai. Jangan sampai media mengambil gambar tanpa ijin. Blokir semua situs yang berani memberitakan masalah ini. Aku mau, besok sudah beres!" titah Gadhi di telpon.
Tap tap tap
Hanum menyusul suaminya, karena kaki Gadhi yang panjang itu, membuat Hanum ketinggalan jauh.
"Dia bahkan tidak peduli aku ketingalan! GADHI! Awas kau!"
Hanum berjalan dengan muka masam.
KLEK
Gadhi masuk, kemudian berganti pakaian. Dan langsung mau pergi kembali.
"Ada yang perlu aku urus. Sebentar lagi madam Li ke sini. Aku akan keluar."
Hanum tiba-tiba merasa kesal.
"Aku pergi dulu ... Ayo Jo!"
KLEK
Pria itu pergi begitu saja, tanpa penjelasan yang sejelas-jelasnya.
Hanum yang mulai galau, ia pun memilih rebahan. Sambil menunggu madam Li datang.
***
Kediaman Akas.
Gadhi duduk di ruang tamu di kediaman pamannya.
"Kenapa kau ke sini?"
Gradi sang sepupu menatapnya marah.
"Di mana paman?"
"Kenapa kau mencarinya? Kau sama seperti wanita itu ... tidak punya harga diri!"
Gadhi mencoba menahan kesal sembari mengepalkan tangan. Ia paling tidak suka orang lain menjelelkan ibunya. Meski kelakuan sang mama tidak patut dibela.
__ADS_1
"Kenapa diam? Kalian menjijikan! Yang satu berselingkuh dengan ipar sendiri. Yang satu menikah hanya demi warisan. Lucu! Kalian sangat lucu!"
BUGH ...
Tidak ada yang lucu ketika Gadhi tidak tahan dan langsung menghajar sepupunya.
'Pukul saja! Lebih keras lebih baik! Biar kakek tahu, dan semakin mudah kau masuk penjara!'
"Kenapa kau marah sekali? Tidak kah kau curiga? Darah siapa yang mengalir dalam tubuhmu?"
BUGH ... BUGH ... BUGH ...
"Tutup mulutmu!"
Meski bibirnya berdarahh, Gradi putra Akas malah terkekeh. Ia tersenyum menghina.
Dan buntut dari penyerangan ini, Gadhi kini ada di kantor polisi. Sedangkan Gradi, ia tersenyum penuh kemenangan.
***
Apartment L'Vndar
"Madam ... sekretaris Jo menghubungi madam tidak? Aku telpon Gadhi kenapa tidak dijawab?"
Madam Li yang sudah tahu Gadhi ada di kantor polisi. Ia mencoba berbohong.
"Mereka masih mengurus sesuatu. Ada masalah penting."
"Tentang perusahaan atau keluarga?"
"Dua-duanya."
"Apa kakek sudah pulang?"
"Mungkin besok. Sekarang Nona istirahat saja."
"Hemm ... iya, Madam!"
Terlanjur terbiasa tidur diganggu Gadhi, sekarang tidur sendirian membuat Hanum tidak bisa tidur. Sedangkan di kantor polisi, kakek Mahindra baru saja tiba dan langsung menemui Gadhi.
Begitu mendengar kabar Gadhi terlibat kasus penyerangan, kakek langsung terbang dengan jet pribadi. Sekarang, ia sedang menatap cucunya lekat-lekat.
"Bagaimana rasanya memukul orang? Kau membuat tanganmu kotor dengan tanganmu sendiri! Kamu bahkan memukul keluargamu sendiri. Kakek rasa, darah ibumu lebih kental!" ucap kakek pelan tapi penuh nada kecewa.
Gadhi hanya menurunkan wajahnya.
"Kakek pikir Hanum bisa merubahmu sedikit saja! Ternyata, sifat kalian memang tidak akan pernah bisa berubah. Kakek sudah sangat kecewa terhadap Geni! Sekarang kau malah ikut-ikutan! Gadhi! Kemurahan hati Kakek juga terbatas. Kau mencoreng wajah kakek bersama ibumu! Siap-siap saja Kakek akan mencoreng nama kalian semua dari ahli waris!"
Gadhi tidak menjawab perkataan sang Kakek. Ia hanya diam dan mengepalkan tangan.
"Bukan karena ini, bukan? Kakek memang tidak pernah ingin memberikan itu padaku ... apa karena aku bukan cucu Kakek?"
Jleb ...
Kali ini kakek Mahindra yang diam seribu bahasa. BERSAMBUNG.
IG Sept_September2020
__ADS_1