
Crazy Rich Bagian 65
Oleh Sept
Seperti menemukan titik temu, Gadhi mencoba berdiri dan mendengar penuturan sang kakek tentang keberadaan Hanum.
Ruang kerja kakek Mahindra Prakash.
Kakek membawa Gadhi ke ruang kerjanya, sambil pelayan mengobati luka di tangan Gadhi. Sedangkan pelayan yang lain harus kerja bakti karena harus membereskan kekacauan akibat ulah tuan muda mereka.
"Di mana Hanum?"
"Tenanglah! Bagaimana bisa aku mengatakan Hanum di mana sekarang jika kau saja tidak bisa mengendalikan diri."
Gadhi mendesis kesal. Ia merasa kakek masih memanipulasi dirinya sampai sekarang.
"Apa yang Kakek mau sebenarnya?"
"Perlindungan Hanum. Ya, kakek mau keselamatan Hanum."
"Kakek pikir aku akan melukai dan membahayakan nyawa Hanum?" Gadhi berdecak, ia ingin menarik tangannya yang sedang diobati.
"Tunggulah."
"Tunggu apa lagi? Berapa lama lagi kakek memisahkan Hanum dari Gadhi?"
Kakek tersenyum tipis.
"Bukan Kakek, tapi Hanum sendiri yang ingin pergi."
Gadhi mengangkat sedikit wajahnya, "Bohong!"
"Terserah kau percaya atau tidak. Tapi jika ingin bertemu Hanum ... jaga sikapmu. Jika kakek terus-terusan mendapat laporan kau mabukk dan tidak pergi ke perusahaan. Kakek pastikan, Hanum tidak akan pernah muncul di hadapanmu!" ancam kakek.
Gadhi menahan kesal, tangannya yang tidak terluka mengepal menahan marah. Sepertinya sang kakek sengaja mempermainkan dirinya.
"Baikan! Baik ... kalau Kakek memang tidak mau mengatakan Hanum di mana, saya bisa cari sendiri!" tantang Gadhi.
"Carilah, Kakek pastikan tidak akan ketemu!"
Gadhi semakin geram mendengar balasan sang kakek. Sambil beranjak dan menepis tangan pelayan yang sedang mengobati tangannya yang terluka, Gadhi mengebrak meja cukup keras. Membuat perban yang baru dipasang berubah jadi merah darah.
"Kakek mau apa sebenarnya?"
__ADS_1
"Datang ke perusahaan besok pagi!" ucap kakek kemudian pergi meninggalkan Gadhi.
"Ish!"
***
Beberapa minggu kemudian.
Gadhi perlahan mengikuti kemauan dari kakek, demi bertemu Hanum. Ia kembali masuk kantor, meninggalkan minum-minum tidak jelas. Sama sekali tidak lagi menyentuhnya.
Nyonya Geni terlihat begitu senang, ia pikir Gadhi yang dulu sudah kembali. Gadhi sudah berhasil move on. Sekarang waktunya untuk memanggil Tafli. Agar bisa mengisi hati Gadhi yang sudah kosong.
Padahal Gadhi sedang mencoba menjadi pria yang baik dan pantas untuk Hanum. Yang bisa diandalkan dan bisa melindungi istrinya itu. Pria itu berangkat pagi, pulang malam. Bukan karena lembur, tapi menghindar dari sang mama.
Ia lelah dipaksa ketemu dengan Tafli. Sekedar makan malam bersama atau menemani nonton. Ia sangat membenci dua hal itu. Gadhi sekarang benar-benar mencoba mengontrol emosinya, agar tidak mudah emosional.
Hanya dengan cara itu sang kakek mau mengatakan di mana istrinya. Semakin dia bisa mengendalikan diri, semakin bisa ia dipercaya oleh Kakek. Lagian mau cari informasi di mana Hanum berada, ia sama sekali tidak bisa menemukan. Hanum seperti ditutup tabir yang tebal dan tidak bisa ia tembus dengan kekuatannya sendiri. Ia yakin, kakek benar-benar sudah menyembunyikan Hanum di tempat paling aman. Ia sebenarnya sedikit lega. Setidaknya ia tahu, Hanum baik-baik.
***
Atlanta, Georgia.
"Nona ... Nona mau makan apa? Mau makanan Indonesia lagi?"
"Madam, sepertinya dia akan mirip papanya. Sekarang aku mau nasi briyani, butter chicken, idli, gulab jamun, kathi roll, papri chaat, Pani puri, jalebi dan ladu ... tiba-tiba kepalaku penuh dengan makanan itu, Madam."
Madam langsung lemas.
"Tunggu-tunggu sebentar, aku catat dulu."
Madam Li mengambil ponselnya, menulis apa saja yang Hanum inginkan.
"Nona mau yang mana yang ingin di makan sekarang?"
"Itu tadi Madam."
"Itu semua?"
Hanum tersenyum, memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang rapi. Ia nyengir ke madam Li tanpa dosa.
'Ya ampun, makanan seperti itu akan sangat sulit ditemukan di Georgia. Astaga ... masih di dalam perut, dia sudah mirip sekali dengan tuan muda.'
__ADS_1
Madam hanya bisa menahan napas pasrah.
Setelah madam Li pergi, Hanum pun kini seorang diri. Bosan, ia lantas membuka laptop. Hanum sedang melihat-lihat gambar saat dia bulan madu beberapa bulan lalu.
Dilihatnya saat mereka pergi ke Mexico. Saat mereka ke Swiss, ke Paris, dan banyak tempat yang indah lainnya. Mendadak ia jadi mellow. Ditatapnya wajah Gadhi dengan dalam.
"I miss you," ucapnya lirih.
Ada kerinduan yang sengaja Hanum tahan.
***
Esok harinya, Hanum yang sudah kenyang karena madam yang sangat pengertian. Memberikan apa saja yang ia ingin makan, tapi olah raga tetap jalan terus. Kali ini madam mengantar Hanum ke tempat khusus.
"Madam balik saja, aku baik-baik saja."
"Benarkah? Satu jam lagi aku akan ke sini."
"Iya, gak apa-apa. Hpku selalu on. Madam tidak usah khawatir."
Madam pun mengangguk, kemudian pergi untuk mengurus sesuatu. Madam hanya meninggalkan Hanum satu jam saja. Setelah madam Li pergi, Hanum pun melakukan olah raga dengan instructor terbaik di kota itu.
Karena olah raga harus ringan, Hanum pun banyak waktu luangnya. Iseng dia berdiri dan menatap pantulan perutnya yang sudah besar. Ia pun ingin mengabadikan moment ini, untuk kenang-kenangan.
"Sehat selalu ya, Sayang," gumam Hanum.
Berkali-kali ia memotret perutnya yang membesar. Dan ia mendadak teringat ibunya.
"Ibu ... apa begini rasanya hamil tanpa ayah?" bibirnya yang tadi sumringah mendadak terkunci rapat.
Tidak mau sedih dan berakhir buruk bagi janin yang ia kandung. Hanum mencoba positive thinking, mencoba tersenyum meski dunia kadang terasa pahit. Ia pun mencoba menguatkan hati, meskipun sudah rindu berat dengan Gadhi.
"Nanti ... nanti ya, Sayang. Papa pasti senang jika bertemu denganmu. Pas ... ti!"
PYARRR ...
Ponselnya terjatuh berkeping-keping di lantai, ketika sebuah lengan yang dipenuhi bulu dan otot langsung melingkar di atas perutnya yang buncit tersebut. BERSAMBUNG
__ADS_1
Aku bilang juga apa, rindu itu berat bestie.