Crazy Rich

Crazy Rich
Rubah Dan Beruang


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 39


Oleh Sept


Sepanjang perjalanan antara Gadhi dan sekretaris Jo keduanya sama-sama fokus pada pikiran masing-masing. Sekretaris Jo pikirannya terpusat pada jalanan di depannya, sedangkan Gadhi tiba-tiba bayangan semalam kembali mencuat dalam kepalanya. Sebuah senyum sekilas tampak pada wajahnya yang tampan.


Drett Drett ...


Gadhi menatap layar ponselnya. Sebuah pesan chat masuk.


[Sepertinya kamu masih marah ... aku semalam menunggu. Kau sama, tetap memikirkan apa yang ingin kau pikirkan!]


Gadhi mengengam benda pipih itu. Sorot matanya menajam, ingat Tafli hanya membuat Gadhi sakit hati.


Drett ...


Sebuah pesan chat kembali masuk.


[Kau bahkan sudah membaca pesanku, tapi tidak kau balas. Aku punya perasaan Gad! Dan lagi ... ini bukan salahku. Semua salah kakekmu. Dia dalang semua ini. Kau tidak tahu apa yang dilakukan kakek di belakangmu]


Kening Gadhi langsung mengeryit. Ia kembali membaca pesan itu. Ingin mendapat penjelasan, ia pun meminta Jonathan putar arah.


"Hentikan mobilnya, kita ke apartment Tafli!" titah Gadhi dengan wajah dingin.


'Apa? Aduh! Tuan besar bisa murka!'


"Tapi, Tuan!"


"Kau bisa turun dan naik taksi!"


"Tidak ... tidak ... akan saya antar!"


Akhirnya sekretaris Jo putar arah. Pria itu kini mengemudi menuju apartment Tafli, mantan pacar Gadhi.


***


Di sebuah apartment mewah, tempat para orang kaya kadang membelinya untuk sekedar investasi. Sekarang Gadhi berjalan menuju salah satu pemilik apartment mewah tersebut. Diikuti oleh sekretaris Jo yang semula diliputi rasa kantuk, kini langsung terjaga sempurna karena mode bahaya.


'Gawat kalau Tuan besar tahu! Kalau aku membiarkan mereka berdua lama-lama di sini, sudah pasti tuan besar akan memecatku!' Sekretaris Jo ketar-ketir, takut sesuatu yang tidak diiginkan terjadi.


Tok tok tok


Saat pintu apartment miliknya diketuk, Tafli langsung sumringah.


"Kena kau!" gumam Tafli.


Gadis itu kemudian berlari menuju lemari pakaian yang dipenuhi pernak-pernik lampu yang terlihat begitu cantik dan glamour.


"Sepertinya aku harus memberikan hadiah pada Gadhi malam ini. Toh pernikahan mereka hanya di atas kertas. Gadhi pasti masih mengharap padaku!" ucapnya sambil tersenyum pada cermin.


Tafli pun buru-buru memakai pakaian kurang bahan. Sana-sini penuh lubang, tinggal menunggu besoknya masuk angin. Dengan percaya diri yang sangat tinggi, ia memutar di depan cermin.


"Perfect! Kamu paling cantik!" pujinya.


Ia kemudian membetulkan belahan miliknya, agar terlihat jelas gundukan yang disenangi kaum Adam tersebut.


"Dia pasti nggak bisa nolak! Selama ini dia begitu jaim, terlalu muna! Aku yakin, kali ini akan berhasil. Kata tante Geny ... setelah putus denganku, Gadhi jarang berhubungan serius dengan wanita. Pasti dia masih menungguku!" ucapnya yakin.

__ADS_1


Puas dengan dandanan yang minimalist dan menggoda Amin serta Iman, Tafli pun berjalan melengak-lengok layaknya seekor kucing yang berjalan di atas catwalk.


KLEK


Sebuah senyum ia lempar tepat ke arah Gadhi saat pria itu berdiri di depan pintu.


"Masuklah!" Tafli membuka pintu lebar-lebar.


"Apa kau juga ingin masuk, Jonathan?" tanya Tafli yang seperti mengusir secara halus.


"Tuan, saya tunggu di mobil."


Gadhi mengangguk.


***


Sudah satu jam berlalu, sekretaris Jo terlihat gelisah duduk di dalam mobil.


"Harusnya aku tidak meninggalkan mereka!" rutuknya.


Merasa tidak enak, Jonathan kemudian kembali naik ke lantai atas. Ia menunju apartment Tafli, di mana di sana bosnya belum keluar padahal sudah hampir satu jam.


Tok tok tok


"Siallll!" umpatt Tafli ketika pintunya diketuk.


KLEK


"Kau belum pulang?" Tafli basa-basi.


"Tuan Muda di mana?"


'Ini tidak beres!'


Sekretaris Jo langsung saja berjalan melewati Tafli meskipun gadis itu berniat menghalangi.


"Jonathan! Hei!"


...


...


"Astaga!"


Sekretaris Jo menoleh, ia menatap tajam pada Tafli. Jonathan kemudian membopong tubuh Gadhi yang sudah hampir pingsan, pria itu sudah tidak mengenakan jas, bahkan kancing bajunya hampir terlepas sempurna. Untung Jonathan tiba sebelum Gadhi diterkam ular betina yang berbisa tersebut.


"Jonathan! Apa yang kau lakukan! Tinggalkan Gadhi di sini!" sentak Tafli marah.


Sekretaris Jo hanya menatap sebal, kemudian kembali membawa Gadhi yang setengah mabuk itu keluar dari sarang penyamun.


***


Ballumax Luxury Hotel


Di salah satu kamar, presidential suite Gadhi sudah terbaring. Pria itu pingsan karena banyak minum. Bau minuman terlalu menyengat membuat mereka menduga pasti Tafli sengaja membuat Gadhi mabukk.


Sekretaris Jo kemudian membangunkan madam Li yang pasti sudah tertidur. Saat ia ketuk, yang membuka malah Hanum.

__ADS_1


"Nona belum tidur?"


"Aku baru bangun, seharian ini tidur terus," kata Hanum sambil menutup mulut karena menguap.


"Ada apa?"


Sekretaris Jo kemudian meminta bantuan pada Hanum untuk mengurus Gadhi. Karena mereka suami istri.


"Tuan Muda jatuh pingsan karena mabukk!"


"Ish ... orang itu."


"Apa Nona tidak kembali ke kamar Nona?"


"Tidak, aku tidur dengan madam saja!" Hanum mau berbalik, tapi tiba-tiba terdengar benda pecah.


PYARRR


Sekretaris Jo langsung masuk kamar Gadhi yang memang bersebelahan dengan kamar madam maupun kamar Jonathan.


"Tuannn!"


Mendengar sekretaris Jo berteriak, Hanum pun penasaran. Ia ikut masuk ke dalam sana. Baru juga menginjakkan kaki di ambang pintu, Gadhi langsung menunjuk ke arahnya dengan jari.


"Kau rubah! Mengapa menyalakan kakekku!!!"


'Aku rubah? Rubah apa?' batin Hanum.


Gadhi kemudian mendekati Hanum. Ia berdiri meskipun kakinya berdarah karena menginjak serpihan gelas pecah yang ia jatuhkan dari atas nakas barusan.


Pandangan Gadhi yang semula buram, tiba-tiba kembali jelas. Wajah Hanum terlihat bersinar seperti bola lampu.


"Kau bukan rubah ... bukan ... kau beruang!"


Gadhi malah terkekeh seperti orang gila.


Hanum dan sekretaris Jo saling menatap, tapi Jonathan merasa cemas saat melihat jejak darah yang ditingalkan oleh kaki Gadhi.


"Kau beruang liarku!" ucap Gadhi sambil menunjuk Hanum lagi.


'Siallll! Apa kau bilang?' umpat Hanum dalam hati.


"Maaf Nona, tuan sedang mabukk berat!" sela Jonathan.


"Heiii!! Apa kau bilang! Siapa yang mabukkkk ... hah??? Siapaaaa?"


Gadhi tertawa-tawa tidak jelas, kemudian berjalan lagi menuju Hanum. Saat sudah tinggal beberapa langkah, pria itu malah oleng. Reflek tangan Hanum menangkap tubuh suaminya.


"Jangan sentuh aku ... kau rubah!" sentak Gadhi yang sudah oleng kembali.


"Kau bilang rubah .. lalu beruang! Hei Gadhi ... aku bukan keduanya!" tukas Hanum kesal.


Suara teriakan Hanum yang melengking, membuat Gadhi menatapnya. Ia menatap mata Hanum intens.


"Beruang liar," gumam Gadhi dan langsung saja menciumm Hanum di depannya sekretaris Jo.


'Sialll!' Sekretaris Jo berpaling, dan berusaha untuk menghindar moment ini. Apalagi saat ia sempat melirik Gadhi dengan lahap menyesap bibir Nona muda.

__ADS_1


Jomblo harus sabar. BERSAMBUNG


'Gadhiiii!'


__ADS_2