
Sungguh... Kenikmatan mana lagi yang bisa kau dustakan... Disaat kau lapar, tersedia untukmu makanan lezat nan nikmat. Mantap betul dah!
Aku makan sampai piringku bersih tandas. Kututup mulutku saat sendawa melengkapi kelegaan ku. Aku malah masih sempat menjilati bumbu yang melekat di jariku, lupa kalau ada seorang priyayi di sekitarku yang memperhatikan semua gerak gerik ku. Dan kala kusadari hal itu... sudah terlambat untuk menutupinya.
"Eng... maaf..." kata ku lirih saat aku mendapati tuan Bagas sedang menatapku. Aku pun segera menurunkan jari tangan yang baru saja selesai ku jilat.
"Sudah kenyang? Kalau mau, kamu boleh menghabiskan makanan itu..." Ucap tuan sambil menunjuk dengan dagunya kearah makanan yang masih tersisa di atas nampan.
"Boleh tuan?" Tanyaku memastikan sambil menatapnya. Aku takut tuan Bagas cuma basa-basi saja.
"Boleh... kamu belum kenyang?" Tuan Bagas balik bertanya, sambil menatap balik padaku. Seketika aku kembali menurunkan pandanganku. Aku pikir, mungkin dia enggak yakin kalau aku yang badannya kecil begini, kalau makan porsinya besar... π
"Eh... sudah kenyang sih, tuan... tapi tumisan ini sayang sekali kalau dibuang, kalau boleh saya akan habiskan nanti..." Ucapku meminta.
Ya, biasanya... kalau ada lauk sisa dari meja makan ataupun kamar para juragan, kami para pelayan akan dengan rela menghabiskannya, tapi kalau sejenis tumisan begini, biasanya langsung masuk tong sampah, atau kalau enggak lupa, diberikan pada ayam-ayam peliharaan di halaman belakang. Kamu pikir dirumah sebesar ini masih ada ayam? Eh, jangan ditanya...
Di bagian belakang rumah, masih ada ruang untuk memelihara ayam, sejenis ayam kampung gitu... Ada juga kolam ikan untuk dikonsumsi sendiri... Dan kamu tahu..? Juragan sampai menggaji orang untuk memeliharanya!
Para pegawai itu terpisah dengan pegawai yang kerja di peternakan ayam potong milik juragan, yang lokasinya sekitar seratus meter dari batas halaman belakang rumah.
Ayam-ayam itu selain dijual dalam keadaan hidup, juragan juga membuat pabrik makanan siap santap beku berbahan dasar ayam. Juga makanan olahan seperti sosis dan nugget ayam. Bahkan juragan juga punya RPA sendiri.
RPA... kamu tahu apa itu RPA?
RPA itu singkatan dari Rumah Potong Ayam... Keren ya, aku bisa tahu singkatan itu...π Kan aku sudah dikasih tahu sama Rara... π Dan kenapa aku bahas itu? Karena sekarang aku sedang memeriksa detil laporan dari pabrik dan RPA milik juragan. Mungkin tuan Bagas mau cross chek, antara laporan dari kandang, pabrik dan RPA, juga laporan penjualan ayam hidupnya.
Wes, ngomongin masalah kerjaan ditunda dulu, balik lagi ke soal tumisan ini... tuan Bagas cuma bilang...
"Terserah... "
Jadi waktu Yudi datang untuk mengambil nampan lagi, aku minta Yudi untuk meninggalkan piring tumisan nya.
"Nanti aku habiskan, Yud... " Kata ku.
"Oke." Jawab Yudi singkat.
__ADS_1
"Makasih ya... makasih juga untuk jus nya ya..." Imbuh ku. Dia tadi memilihkan aku jus melon dicampur lemon... wuih... mantap pokoknya.
"Sama-sama... " Sahut Yudi. "Saya permisi tuan... " Kata Yudi kemudian sambil menghadap tuan Bagas.
"Hem..." Kembali Yudi mendapat hem, membuatnya segera angkat kaki dari ruangan itu.
Kami baru akan memulai lagi pekerjaan kami, saat HP tuan Bagas terdengar berdering. Tuan Bagas mengangkat wajah dari kertas yang sedang dia baca, memasang telinga untuk mengetahui, dimana sumber suara itu. Sepertinya dia benar-benar lupa dimana dia menaruh HP nya tadi. Dan setelah mengetahuinya...
"Tolong ambilkan... " Perintahnya padaku saat melihat posisiku lebih dekat ke nakas daripadanya. Aku bergerak meraih ponsel itu. Sepintas aku melihat profil si penelepon. "Murni lagi..." Batinku.
"Silahkan tuan... " Ujarku sambil menyerahkan ponsel itu.
Tanpa bicara apapun, tuan menerimanya dan langsung menggeser tombol hijau...
"Ya, halo... " Katanya.
π±"... "
"Iya.... ya." Kata tuan lagi tegas, lalu langsung menutup sambungan teleponnya. Setelah itu, dia menekan beberapa tombol lagi di HP nya.
"Sam..." Panggilnya tanpa basa-basi saat telepon mereka tersambung. "...siapkan mobil, kita pergi sebentar lagi..." Katanya pada orang yang di seberang, lalu tanpa basa-basi pula dia langsung memutus sambungan itu. Aku memperhatikan kesibukan tuan dengan bertanya-tanya. "Ada apa, sih?" Tapi tentu saja itu hanya pertanyaan dalam hati tanpa keberanian untuk bertanya langsung.
"Baik tuan..." Sahut ku, padahal dalam hati masih bingung. Bantu ngapain? Tapi saat kursi tuan mengarah ke kamar mandi aku segera membuntuti. Dan peristiwa tadi padi pun terulang lagi. Aku sport jantung, saat tuan mulai melucuti pakaiannya.
"Ambilkan handuk..." perintahnya.
Aku mengambil handuk. Tuan menerima dan menyelimutkan handuk itu di pangkuannya, baru setelah itu dia menyuruhku menarik ujung celana panjangnya.
"Sekarang tolong siapkan pakaian ku..." Katanya, sekaligus mengusir aku dari kamar mandi.
"Baik, tuan." Sahut ku lega.
Aku segera melangkah keluar dari kamar mandi dan menutup pintu dibelakangku. Sesaat kemudian aku dengar suara air shower mengalir, sebelum aku menjauh menuju lemari.
Kubuka pintu lemari, dan kembali kuperhatikan tumpukan pakaian itu. Sekarang aku punya gambaran, style apa yang harus aku siapkan untuk tuan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Walaupun sudah bisa menduga kalau itu pasti tuan yang baru keluar dari kamar mandi, tapi reflex ku bekerja diluar kontrol. Aku menoleh dan... tara...! Pemandangan yang bisa merusak iman itu kembali terpampang di depan mata. Masih seperti tadi pagi... dengan bertelanjang dada dan handuk yang terhampar di pangkuannya, tuan mengarahkan kursi rodanya mendekat.
Aku segera mengalihkan pandangan.
"Yang ini pakaian ku...?" Tanyanya sambil mengamati pakaian yang aku taruh di atas pembaringan.
"Iya tuan... apa ada yang kurang?" Aku balik bertanya tanpa berani mengangkat wajah.
"Sudah cukup..." Katanya.
"Kalau begitu saya permisi dulu..." Kataku sambil melangkah ke arah pintu untuk keluar kamar.
"Kamu mau kemana?" Tanya tuan.
"Saya akan menunggu tuan berpakaian di luar..." Ucapku sambil berhenti berjalan sedikit berbalik menghadap tuan, tapi dengan wajah tetap menunduk.
"Tidak usah keluar... cukup berbalik dan tidak usah mengintip..." Ucap tuan. "Kecuali kalau memang itu niatmu... " Lanjut tuan mengejutkan ku. Serta merta aku mendongak menatap tuan gusar ...
HEY...! Kalau niat mau melihat buat apa aku keluar.. Enak saja bicara seperti itu... tapi kegusaran itu cuma bisa kutelan sendiri. Begitu mataku bertemu dengan mata tuan, sedetik itu juga aku langsung menunduk.
Aku lalu berbalik lagi. tidak jadi keluar kamar, kini aku beralih ke meja kerja. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku dengan posisi membelakangi tuan.
"Aku akan keluar, kau lanjutkan saja pekerjaan ini sampai selesai. kalau sudah waktunya makan, kau pergilah makan, lalu lanjutkan pekerjaanmu... Pekerjaan yang lain juga..." Ucap tuan memberi instruksi. Aku mengangguk.
"Baik tuan..." Ucapku pelan.
Aku masih enggak enak hati dengan ucapan tuan tadi. Tapi sebagai pelayan aku enggak bisa mengabaikan ucapan juragan tanpa respon kan...
Sepertinya tuan merasakan perubahan mood ku. Tapi dia enggak komentar apa-apa. Aku juga enggak mood untuk berbaik-baik sekarang. Ku pandangi tuan yang meluncur keluar kamar tanpa basa-basi apapun. Tuan juga tidak bicara apa-apa lagi.
Ya, pergilah... aku akan lebih tenang bekerja tanpa dia di sekitarku...
.... ...
.... ...
__ADS_1
...πbersambungπ...
.