Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
card lock


__ADS_3

Sesuai rencana, keesokan sorenya kami berangkat menuju kota Hilir. Kami berangkat naik mobil yang dikemudikan oleh pak Agus, sopir pribadi tuan Bagas. Selain kami bertiga, ternyata dokter Ridwan juga ikut bersama kami.


Mengikuti apa yang mereka bicarakan, aku menyimpulkan, kalau Dokter Ridwan adalah salah seorang peserta seminar kedokteran yang akan digelar itu. Sementara dokter yang dari Singapura itu, yang mereka panggil dokter Tony, merupakan teman dokter Ridwan. Seniornya malah, kalau enggak salah.


Dokter Ridwan merekomendasikan koleganya itu untuk menangani proses penyembuhan kaki tuan Bagas. Menurutnya, keahlian serta jam terbang dokter Tony sudah sangat terpercaya hingga bisa diandalkan untuk membantu proses penyembuhan tuan.


Kami juga sengaja pergi sore hari, agar tidak kemalaman sampai di kota. Jarak tempuh kota itu dari tempat kami sekarang memakan waktu sekitar lima jam. Enggak kebayang kalau tuan memutuskan untuk berangkat mendadak besok pagi... Harus berangkat jam berapa coba? Yang pasti aku yang bakal kerepotan. Bisa-bisa aku enggak berani tidur karena takut bangun kesiangan. Atau bisa saja, kalaupun aku tidur, aku akan terbangun dengan gegap-gempita karena sibuk mengingat barang apa saja yang musti dibawa...


Dengan pertimbangan kalau aku akan lebih mudah melayani tuan selama perjalanan, aku duduk di baris kedua bersama tuan. Dokter Ridwan duduk di depan di samping pak Agus.


Di samping kakiku, ada sebuah kotak perbekalan besar yang telah nyonya Santi perintahkan untuk disiapkan. Ada termos air panas lengkap dengan kopi sachetan serta teh dan gulanya. Ada juga camilan kue basah serta makanan ringan. Hanya untuk makanan berat tuan bersikeras menolak.


"Bu, kami ini mau pergi ke kota... bukan ke pelosok hutan. Di jalan pasti ada yang jualan, lagi pula sopir juga butuh istirahat, kami bisa beristirahat di rest area... Masa masuk rest area bawa bontot (\=bekal) ... " Ujar tuan Bagas setengah ngedumel.


Aku sedikit geli juga memperhatikan interaksi ibu dan anak itu. Kebayang dong... tuan Bagas itu laki-laki dewasa, sudah menikah pula... tapi nyonya Santi membekali anaknya bepergian sedemikian lengkap, seakan takut anaknya itu kelaparan di jalan.


"Ya, kalau kamu enggak mau ya enggak apa-apa... tapi kasihan Nurul, kalau tiba-tiba dia merasa lapar di tengah jalan, sedangkan untuk ngasih tahu ke kamu dia malu..." Nyonya Santi beralasan. Seketika tuan Bagas menoleh padaku. Aku balik menatap keduanya bergantian dengan bingung.


Loh?! kok aku yang dijadikan **a**lasan?!


"Nyonya, bekal makanan ini sudah banyak, tidak akan habis untuk kami berempat...." Akhirnya aku beranikan diri bersuara.


"Iya... iya... sudah enggak apa-apa enggak usah bawa nasi. Tapi lauknya tetap kamu bawa, Nur. Kalau sampai sana nanti bisa kamu angetin... bisa buat sarapan..." Ucap nyonya Santi akhirnya.


Percayalah, melihat contoh kejadian ini, membuat pernyataan kalau berapapun usia seorang anak, dimata seorang ibu dia akan selalu menjadi anak kecil kesayangannya, adalah nyata.


Tuan Bagas menghela nafas seakan dengan demikian dia mau berucap "terserah deh".


Aku sendiri... apa lagi yang bisa aku lakukan selain manut. Dan sekarang lauk yang dimasukkan kedalam sebuah kotak plastik itu sudah berada aman di bagasi... 😅


Perjalanan berjalan lancar. Ya, ada sedikit rasa bosan sih... tapi ya mau gimana lagi. Tuan masih bisa bertukar cerita dengan dokter Ridwan, kadang sesekali pak Agus menyahut dan bercanda. Menceritakan sesuatu berdasarkan pengalaman mereka. Aku cuma bisa mendengarkan, sesekali berkomentar (kalau diminta).


Akhirnya, setelah dua kali berhenti untuk beristirahat, sekalian memberi kesempatan untuk pak Agus merokok. Sekitar jam sembilan, kami sampai di kota Hilir.


Mobil langsung menuju hotel yang telah di reservasi oleh sekretaris tuan Bagas tadi siang.

__ADS_1


"Kita menginap di hotel tuan?" Tanyaku saat mobil berbelok memasuki halaman hotel.


"He em. Malam ini kita menginap di hotel dulu sambil menunggu hasil pemeriksaan besok..." Sahut tuan. Aku mengangguk paham.


Kami turun di depan pintu utama hotel. Pak Agus membantu menurunkan koper kami dan koper dokter Ridwan. Setelah itu, pak Agus membawa mobil untuk diparkirkan di basement hotel.


Saat kami berbalik menghadap pintu untuk masuk, nampak seorang greater sedang melangkah mendekat untuk menyambut kami, lengkap dengan senyum diwajahnya yang cantik.


"Selamat malam, tuan-tuan... dan.. nona..." Kelihatannya greater itu sedikit ragu untuk menyapaku. Mungkin dia bingung mau menyebutku nona atau nyonya... 😅


"Pesanan kamar atas nama Bagas... " Ucap tuan langsung memotong basa-basi. Aku sih, setuju-setuju saja, karena nyatanya badanku rasanya capek sekali walaupun cuma duduk anteng dalam mobil selama perjalanan.


"Baik tuan, silahkan ke meja resepsionis untuk check in dan mengambil kunci... " Sahut dang greater masih dengan senyum manisnya.


Kami melangkah menuju meja resepsionis. Dokter Ridwan membantuku membawakan koper kami. Sehingga aku hanya membawa sebuah tas tangan saja.


Greater itu membantu kami untuk check-in dan mendapatkan kunci.


Aku menerima sebuah card lock berwarna merah dengan logo hotel itu diatasnya. Aku baru mau mengajak tuan ke kamar, saat kulihat tuan mengeluarkan HP nya dan menelpon seseorang.


"Pak Agus, kunci kamar bapak masih di resepsionis, nanti ambil sendiri ya, kami masuk duluan... "


"Barang-barangnya bagaimana tuan?" Terdengar suara pak Agus bertanya.


"Bawa yang perlu saja dulu. Besok baru diatur lagi... " Begitu jawaban tuan. Setelah itu kami bertiga menuju kamar yang sudah dipersiapkan untuk kami.


Kamar dokter Ridwan bersebelahan dengan kamar kami. Enggak usah di kasih tahu kan, kalau aku tentu satu kamar dengan tuan. Kalau kamar pak Agus, aku kurang tahu dimana, soalnya berdasarkan nomor kamarnya tadi, nomornya berjarak agak jauh urutannya dengan kamar kami.


"Ini kopernya. Perlu dibantu untuk buka kunci?" Ucap dokter Ridwan menawarkan.


"Tidak perlu dokter, terima kasih..." Jawabku.


"Ya, sudah. Kalau begitu saya ke kamar saya dulu... Gas, nanti kalau ada perlu apa-apa kasih tahu ya... " Pamit dokter itu. Aku dan tuan Bagas mengangguk berterima kasih. Setelah itu, dokter Ridwan melangkah menuju ke kamarnya.


Aku menempelkan card lock pada sensor pintu. bip bip... terdengar suara sensor membaca card lock kami. lampu sensor berubah hijau. Aku lalu mendorong pintu itu yang sudah tidak terkunci.

__ADS_1


Pintu terbuka, menampakkan suasana ruangan yang gelap. Aku langsung mencari sensor penerangan di tembok samping pintu. Setelah ketemu, kumasukkan card lock di tempat sensor kelistrikan itu. Satu detik... dua detik... tiga detik....


Blar!


Penerangan menyala, begitu juga dengan AC ruangan.


"Silahkan, tuan..." Ucap ku pada tuan yang masih menunggu di depan pintu.


"Sepertinya kamu cukup paham dengan card lock itu..." Komentar tuan sambil mengarahkan kursi rodanya masuk.


"Euh?"


Secara logika memang agak enggak masuk akal ya, seorang pelayan di sebuah kota kecil, tapi tahu cara menggunakan card lock. Tapi aku sendiri juga enggak tahu, bagaimana aku bisa begitu familiar dengan sistem kunci seperti ini. Aku hanya mengikuti intuisi saja. Rasanya aku memang sudah terbiasa saja dengan model card lock begini.


Secara naluriah aku mencoba menggali ingatan, darimana aku tahu soal card lock ini. Tapi ya, begitu... belum berhasil mengingat, kepalaku rasanya berdenyut sakit.


Ya, mungkin aku dulu adalah seorang pelayan hotel...


Pikirku kemudian. Berusaha berpikir positif sajalah, supaya panjang umur... 😅


"Ayo masuk, ngapain masih bengong disana..." Seru tuan saat menyadari kalau aku masih berdiri di depan pintu.


"Iya, tuan..." Sahutku. Aku lalu menarik koper kami masuk dan menutup pintu.


...*...


...*...


...*bersambung*...


...*...


...*...


__ADS_1


__ADS_2