
"Emmm, satu lagi... Ternyata itu mu kecil juga ya... " Ucap Bagas dengan senyuman aneh, sambil menunjuk dada Nurul.
Nurul menunduk mengikuti arah telunjuk Bagas. Seketika dia menyadari apa yang dimaksud Bagas, saat dia melihat tonjolan yang tercetak dibalik bajunya yang basah.
"TUAAAAN....! " Pekik Nurul malu bercampur kesal.
Mendengar pekikan itu, seketika Bagas tertawa terbahak-bahak.
Nurul berbalik badan sambil cemberut. Sungguh, malu banget rasanya. Malu karena diketawain, juga malu karena tanpa dia sadari, Bagas sudah bisa melihat dadanya dengan jelas, walaupun masih berbalut baju yang dia kenakan.
Bagas menarik tangan Nurul supaya berbalik kembali menghadap kearahnya.
"Enggak usah berbalik... aku sudah terlanjur melihatnya... " Ucap Bagas berusaha menguasai tawanya.
"Puas? Seneng ya, bisa ngejek saya...?" Tanya Nurul sambil berbalik masih memasang ekspresi cemberut. Bagas kembali tertawa, walaupun tidak sekencang tadi.
"He he he... iya... seneng banget. Tapi aku enggak ngejek kamu kok..." Elak Bagas.
"Lah, barusan ngetawain itu, bukan ngejek namanya...?"
"Aku emang ngetawain kamu, karena lihat ekspresi muka kamu. bukan karena ngejek itu mu... " Jawab Bagas. Kini dia sudah tidak tertawa, tapi ekspresi geli masih ada di wajahnya.
Nurul merengut.
"Tuan... tuan suka yang dadanya besar ya?" Tanya Nurul sambil menatap bagas dengan mata memicing.
"Enggak..." Jawab Bagas spontan.
"Beneran?"
"Ya, bener lah... "
"Untunglah, saya takut nanti, tuan suruh saya operasi implan lagi... "
" Ya janganlah... kamu udah cantik seperti itu... " Ucap Bagas seketika membuat Nurul terpana.
"Saya beneran cantik tuan...?" Tanyanya dengan mata berbinar menatap Bagas.
"Ya... kamu lebih cantik dari mbok Darmi... " Jawab Bagas asal. membuat Nurul seketika mencebik kesal.
"Kok mbok Darmi, sih... " Gerutunya lirih sambil membuang muka dan kembali merengut. Hilang sudah harapannya untuk dipuji majikannya itu.
Melihat itu Bagas kembali tertawa. Nurul jadi tambah kesal mendengarnya, tapi apa daya, Nurul enggak berani melawan Bagas selain cemberut untuk menunjukkan kekesalan hatinya.
"Sudahlah... saya mau mandi dulu ya tuan.. " Pamit Nurul akhirnya, berusaha mengalihkan perhatian dari kekecewaannya, karena gagal dapat pujian. Dia lalu melangkah ke arah pintu.
__ADS_1
"Eh, kamu mau kemana?" Tanya Bagas sambil seketika mencekal tangan Nurul sebelum dia menjauh.
"Mandi... " Jawab Nurul. "Tadikan aku udah ngomong mau mandi... " Gerutu Nurul dalam hati.
"Mau mandi, kamar mandinya di sana..." Ucap Bagas sambil menunjuk ke arah kamar mandi. "Kenapa kamu malah jalan ke sana..." Lanjutnya sambil menunjuk ke arah pintu keluar.
"Ya.... saya kan mau mandi di kamar mandi belakang...." Sahut Nurul jujur. Maksudnya dia mau mandi di kamar mandi tempat biasa para pelayan mandi, di bagian belakang rumah. Dekat dengan kamar tidurnya.
"Udah, enggak usah cari alasan untuk keluyuran. Disini ada kamar mandi, ngapain jauh-jauh ke kamar mandi belakang...?" Ucap Bagas. Nurul enggak yakin itu kalimat tanya atau kalimat tuduhan...
"Eehh... malah bengong, katanya mau mandi...!" Tegur Bagas saat melihat Nurul malah diam terpaku.
"Eh.. eng... iya.... " Ucap Nurul saat tersadar. "Tapi tuan, perlengkapan mandi saya ada di kamar saya.... "
"Perlengkapan mandi apa? Enggak usah banyak alasan.... Di kamar mandi sini apa yang enggak ada...? Pastinya lebih lengkap dari punyamu... " Potong Bagas.
"Ya... tapi, itu... anu... " Nurul kebingungan. Sebenarnya dia mau bilang, kalau pakaian dalamnya enggak ada di sini... tapi mau ngomong "daleman" aja malu... gimana caranya ya...? Bagas malah berpikir kalau dia mau keluyuran lagi...
"Itu... anu... maksudnya apa? " Tanya Bagas tak paham.
"Tuan... pakaian saya... "
"Itu pakaianmu.... "
"Bukan itu, pakaian... dalam... " Akhirnya dengan menahan malu, Nurul mengatakannya juga walaupun dengan suara yang pelan di akhir kalimat.
"Kyaaaa, tuan...!" Pekik Nurul lagi dengan kagetnya mendengar jawaban itu.
Sekali lagi Bagas tertawa terbahak melihat ekspresi wajah Nurul yang menatapnya dengan tatapan horor.
"Tuan.... " Rengek Nurul enggak betah lama-lama ditertawakan oleh Bagas.
"Sudah... sudah, sana pergi mandi... udah sore... " Perintah Bagas akhirnya setelah menguasai tawanya.
Dengan ekspresi wajah masih ditekuk, Nurul akhirnya melangkah ke kamar mandi.
"Sudahlah... urusan daleman gimana nanti aja... sekarang lebih baik mandi dulu, daripada diomelin sama tuan..." Begitu pikirnya.
Tanpa Nurul ketahui, setelah dia masuk ke kamar mandi, Bagas menghubungi mbok Darmi dan memintanya menyiapkan semua keperluan Nurul.
Bagas malah sudah mengatur, agar mereka bisa makan berdua di kamar saja, karena untuk sementara, Nurul belum bisa duduk bersamanya di meja makan. Dan karena Bagas tidak ingin makan sendiri di ruang makan, makanya dia merasa lebih baik mereka makan di kamar saja.
Ya, untuk sementara kemunculan Nurul sebagai istrinya memang masih dirahasiakan di rumah ini. Hanya beberapa orang saja yang diberi tahu. Salah satunya ya mbok Darmi, karena beliau adalah orang yang paling senior diantara para pelayan di rumah ini. Lagi pula beliau adalah kepercayaan nyonya Supami.
Tanpa banyak bertanya, mbok Darmi langsung menyuruh cucunya langsung untuk menyediakan keperluan Nurul. Rara paham, karenanya dia langsung bergerak. Sebelum Nurul selesai mandi, semua keperluannya sudah dia antar ke kamar itu.
__ADS_1
Nurul yang di kamar mandi mendengar suaranya, segera dia melongok kan kepalanya keluar ambang pintu yang hanya terbuka sedikit untuk meyakinkan diri.
Ya, tak jauh dari tempatnya, terlihat Rara sedang berpamitan pada Bagas.
"Rara...!" Panggil Nurul, tentu saja dia enggak berani manggil keras-keras. Rara yang merasa namanya dipanggil menoleh kearah asal suara. Bagas juga ikutan menoleh.
"Ya...?" Tanya Rara saat melihat hanya kepala Nurul yang kelihatan. Nurul melambaikan tangannya menyuruh Rara mendekat. Sepintas Rara menoleh kearah Bagas mohon izin untuk mendekat ke arah Nurul. Bagas tidak menjawab, tapi sepertinya dia enggak keberatan. Karena itu, Rara lalu berjalan mendekat.
"Ada apa? " Tanya Rara setengah berbisik saat mereka sudah berdekatan.
"Kamu ngapain di sini? " Tanya Nurul ikutan ngomong pelan.
"Nganterin pakaian dalam nyonya Bagas..." Jawab Rara setengah resmi setengah meledek. Mendengar jawaban Rara, tanpa memperdulikan intonasi yang dipakai Rara, Nurul langsung tersenyum lega.
"Syukur deh... Ra, tolong bawain ke sini dong pakaian ku... aku tadi lupa bawa..." pinta Nurul.
"Kenapa kamu enggak ambil sendiri aja... Menangnya aku pembantumu? " Tolak Rara sambil bercanda.
"Rara... jangan gitu dong... " Ucap Nurul merasa enggak enak, karena sudah menyuruh Rara. Tapi dia memang perlu bajunya untuk bisa keluar dari kamar mandi. "Please.... " bujuk Nurul penuh permintaan.
"Iya... iya... baju yang mana sih?" Tanya Rara kemudian.
"Baju yang di kantung hitam. Kantungnya ada di atas kursi..." Jawab Nurul.
Rara melangkah mendekati kursi, tempat beberapa kantung teronggok. Dia meraih sebuah kantung hitam dan menunjukkannya pada Nurul yang masih melongokkan kepalanya, mengikuti gerakan Rara dengan pandangannya. Melihat kantung yang ditunjukkan Rara, Nurul mengangguk.
Rara kembali mendekati Nurul dengan kantung hitam itu.
"Nih...! Aku langsung keluar ya..." Katanya sambil menyerahkan kantung itu ke tangan Nurul. Nurul mengangguk.
"Makasih ya Ra. " Katanya sambil tersenyum.
Rara mengangguk.
Nurul kembali menutup pintu kamar mandi, sementara Rara kembali berpamitan pada Bagas.
"Tuan, saya permisi... "
"Hem... "
Mendengar "Hem" dari Bagas, Rara segera angkat kaki dari ruangan itu....
🍿
🍿 bersambung
__ADS_1
🍿