
Tuan Bagas sudah selesai mandi dan berpakaian. Aku bantu dia seperti kemarin. Kini giliran aku yang mandi, tapi masalahnya.... aku kan enggak bawa ganti. Aku mana tau mau di ajak ke sini.
"Tuan.... " Panggilku ragu.
"Hemm... " Sahut tuan Bagas. Tangannya masih menyisir rambutnya yang masih agak basah. Sementara matanya menatapku lewat cermin di depannya.
"Eng... boleh saya mandi di sini? " Tanyaku hati-hati sambil menunjuk kamar mandi tuan Bagas.
"Lah?! Memangnya kamu mau mandi dimana lagi? " Tuan Bagas malah balik bertanya.
"Eng... enggak tahu tuan... " Jawab ku bingung. Di rumah ini ada berapa kamar mandi pun aku enggak tahu, mau disuruh milih pula...
"Nur.... sini... " Perintah tuan kemudian sambil menepuk kursi yang ada di depan meja rias. Aku mendekat, lalu ragu-ragu duduk di kursi yang dia tunjuk.
"Nur.... aku mau tanya. Siapa aku untuk kamu?" Tanya tuan saat kami sudah duduk berhadapan.
"Tuan, majikan saya... " Jawab ku. Mendengar itu terlihat tuan Bagas menghela nafas.
"Lalu... apa fungsinya acara ijab kabul tadi siang? " Tanya tuan Bagas lagi, nadanya terdengar setengah frustasi kayaknya.
Tanpa sadar aku menggigit-gigit kuku ibu jariku karena gugup.
"Maaf... saya.... saya.... " Sungguh aku bingung mau ngomong apa. Aku benar-benar takut untuk berharap, kalau tuan Bagas akan menganggapku seperti layaknya seorang istri.
"Apa kamu menyesal, menikah dengan orang cacat seperti aku?" Tanya tuan Bagas tiba-tiba membuatku kaget.
"Tidak... bukan begitu tuan... " Jawabku cepat.
"Lalu...? "
"Saya... saya merasa tidak layak untuk tuan... Saya ini cuma perempuan tanpa kasta tanpa keluarga yang jelas.... " Sahut ku sambil menunduk. Kata-kata 'Nurul binti Fulan' kembali terngiang di telinga.
Nampaknya tuan ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi urung. Mulutnya yang sudah terbuka untuk berbicara kembali menutup.
"Kita bicara lagi nanti. Sekarang kau mandi dulu, ganti baju, terus kita makan. Aku sudah lapar... " Ucap tuan Bagas kemudian sambil melepaskan daguku dengan sedikit dorongan.
"Tapi tuan... saya enggak bawa baju ganti... " Kataku.
"Sementara, kamu pakai saja bajuku dulu, pilih di lemari yang cocok untuk kamu pakai. Besok kita beli baju untuk mu... " Jawab tuan.
"Terima kasih tuan... " Sahut ku.
Berbekal izin dari tuan, aku menghampiri lemari baju tuan. Ku amati tumpukan pakaian yang ada di sana. Lalu aku ambil selembar kaos lengan pendek dengan celana panjang model training pack.
__ADS_1
"Saya ambil yang ini ya, tuan... " Kataku sambil menunjukkan pakaian yang aku ambil.
"Hem... " Gumam tuan sambil lalu. "Agak cepat ya... " Ucap tuan menambahkan.
"Iya tuan... " Setelah menjawab itu, aku buru-buru ke kamar mandi, buru-buru mandi dan buru-buru juga berpakaian. Enggak sampai sepuluh menit aku sudah berdiri siap di depan tuan.
"Sudah tuan... " Kataku. Tuan Bagas menatap dan memperhatikan penampilanku sebentar.
"Kebesaran ya....?" Komentarnya saat melihat kaos yang agak berkibar aku pakai. Aku tersenyum.
"Tapi nyaman tuan... " Jawabku ringan.
"Kamu enggak keramas?" Tanya tuan melihat rambutku tetap kering.
"Katanya tadi disuruh cepat... jadi enggak sempat tuan..." Jawabku lagi.
"Ya sudah keramas besok pagi aja." Katanya sambil tersenyum aneh. Aku sama sekali enggak menangkap hal yang aneh dari kalimat itu, makanya aku cuma bilang...
"Iya tuan... " Padahal aku masih bingung kenapa tuan tersenyum seperti itu tadi...
"Ayo makan. Aku sudah lapar sekali..." Ujar tuan kemudian mengalihkan perhatian sambil melajukan kursinya menuju pintu. Aku bergegas mendahului untuk membukakan pintunya.
Kami menuju ruang makan. Di meja makan sudah terhidang menu makanan yang sepertinya disiapkan oleh mak Surip dan Murni.
Ada sayur sop, sambal, tempe, tahu dan ayam goreng.
"Silahkan tuan... " Katanya. Dia fokus sekali dengan tuan, sama sekali tidak menganggap aku. Aku menepi dan mengambil piring untuk mengambilkan tuan nasi. Tapi sepertinya Murni tidak suka aku melakukan hal itu. Dia segera mengambil piring juga dan mengambilkan nasi untuk tuan.
"Segini cukup tuan...?" Tanyanya sambil menunjukkan nasi yang dia ambilkan.
"Hem... " Gumam tuan. Matanya menatapku yang masih memegang piring yang sudah aku isi nasi.
"Nur... duduk sini..." Kata tuan sambil menunjuk kursi disebelah nya.
Aku mendekat dan duduk di kursi yang dimaksud diikuti tatapan tidak suka dari Murni, dan kening berkerut mak Surip. Tuan mengambil piring nasi yang aku pegang.
"Ambilkan aku sayur dan tempe gorengnya... " Perintah tuan padaku. Tanganku langsung bergerak mengambilkan apa yang diminta tuan.
"Sudah cukup, tuan?" Tanyaku setelah menyendokkan sayur ke piring tuan.
"Iya... Ayo kamu ambil untukmu sendiri..." Kata tuan. Aku mengangguk dan mengambil piring lain untuk mengambil makanan untukku sendiri.
"Kamu mau makan bareng?" Tanya tuan tiba-tiba pada Murni yang masih berdiri setengah terpaku melihat kami siap makan. Mata tuan terarah pada piring nasi yang dipegang Murni.
__ADS_1
"Oh... tidak, tuan... " Sahut Murni saat menyadari arah tatapan tuan. "Permisi..." Ucap Murni meninggalkan ruang makan bersama piring nasi yang dia ambil tadi. Mak Surip menatap punggung Murni yang berlalu setengah bingung.
"Maaf tuan... ada yang bisa saya siapkan lagi?" Tanya mak Surip.
"Tidak ada... nanti biar Nur yang siapkan keperluan ku... " Jawab tuan. Mak Surip mengangguk paham.
"Kalau begitu saya permisi tuan... kalau ada apa-apa, saya ada di dapur... " Katanya, tuan mengangguk. Aku juga mengangguk padanya sebagai ucapan terima kasih karena telah menyiapkan makan malam ini.
"Boleh saya bertanya tuan?" Tanyaku setelah beberapa saat kami saling diam dan menikmati makanan kami.
"Tanya apa?"
"Apakah tuan selalu makan sendiri disini?" Tanyaku sambil menatap tuan takut-takut.
"Iya... kenapa?" tuan menjawab sekaligus bertanya.
"Eh enggak kenapa-napa sih.... " Sahut ku menggantung.
Dalam benakku, betapa sepinya hidup tuan ini. Makan sendiri... melakukan semuanya sendiri, padahal dia punya keluarga dan karyawan yang banyak.
Sejak aku mengalami amnesia, satu hal yang sangat menakutkan untukku, yaitu hidup sendiri dan kesepian. Makanya aku tidak mengerti jika tuan malah memilih untuk hidup menyepi seperti ini.
"Ada apa? " Tanya tuan lagi saat mendengar nada menggantung di suaraku.
"Enggak ada apa-apa tuan... " Jawabku berusaha bersikap normal, tapi tanpa aku sadar, ada nada tercekat di tenggorokan, membuat tuan tidak percaya kalau memang tidak ada apa-apa. Dia terus menatapku menunggu jawaban ku lebih lanjut.
"Saya... saya takut kalau harus hidup sendiri tuan... " Jawabku akhirnya sambil menunduk hampir berbisik.
Sungguh, bayangan aku harus hidup sendiri itu benar-benar terasa begitu menakutkan. Sangat menakutkan. Hingga walaupun hanya membayangkan saja membuat aku menggigil takut. Terbayang kembali beberapa bulan pertama setelah aku kena amnesia, saat-saat aku masih tinggal di rumah sakit. Tidak ada sanak saudara, atau kerabat yang datang menjenguk, tidak ada teman apalagi sahabat untuk berbagi. Benar-benar frustasi. Sepi dan merana sendiri.
Waktu itu, aku benar-benar ingin sekali bisa pulang. aku ingin sekali bisa memeluk seseorang... mungkin ibu atau ayahku... adik atau mungkin kakakku... apakah aku masih memiliki mereka? Ingin rasanya walaupun dalam mimpi, aku bisa bertemu mereka... Tapi ingatanku kosong... tidak ada kenangan apapun yang bisa aku gali, yang bisa menghangatkan hati ini... Bayangan kesepian itu sungguh membuat dadaku sesak.
Aku merasa tubuhku diraih oleh tuan. Tuan memelukku erat dan tanpa bisa aku cegah, dalam pelukkannya aku mulai terisak.
"Saya takut sendirian tuan... saya takut..." Gumamku disela isak.
Kurasakan tangan tuan menepuk-nepuk punggungku pelan.
"Sst... jangan takut. Mulai sekarang kamu tidak akan sendirian.... Ada aku yang akan selalu menemani mu... " Bisik tuan menenangkan ku.
.... ...
.... ...
__ADS_1
...👉bersambung👈...
.... ...