Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Kedatangan Nyonya Santi.


__ADS_3

Tadinya, sebelum aku ketemu sama Sulis n' friends di ruang belakang. Rencananya setelah aku selesai mandi mau melanjutkan pekerjaan di kamar tuan. Tapi setelah ketemu Sulis, aku malah lupa. Habisnya, begitu keluar kamar, aku udah langsung 'diseret' ke halaman belakang.


Kami berlatih gerakan dance dari lagu 'Mendung tanpo Udan' yang lagi hits itu beberapa kali, sambil tertawa-tawa. Kebetulan, sore dan malam ini bukan tugas kami untuk melayani para juragan. Jadi tidak ada yang mencari untuk menyuruh-nyuruh kami.


Kalian pasti berpikir, emang sesantai itu kehidupan kami menjadi pelayan di rumah ini? Ya memang begitu adanya. Mungkin saking banyaknya pelayan di rumah ini, memungkinkan setiap orang hanya bertanggungjawab untuk pekerjaan khusus mereka. Dirumah ini enggak ada istilah kerja rodi, yang mengharuskan kami kerja mulai dari pagi buta hingga matahari tenggelam. Kami cukup melakukan tugas kami masing-masing dan membantu teman seperjuangan kalau mau. ๐Ÿ˜… Makanya, kami betah saja kerja di sini. Kamu pikir emang ada juragan seperti itu? Ya, adalah... buktinya ya, juragan kami ini...


Hanya saja, jangan ditanya berapa upah kami. Kalau dilihat nominalnya dan dibandingkan dengan upah orang lain yang seprofesi... (keren ya bahasanya) ๐Ÿ˜… Upah kami termasuk kecil. Tapi jangan ditanya juga kesetiaan para pelayan di rumah ini... Bisa dipastikan, mereka itu (setidaknya para senior) berani pasang badan untuk membela juragan mereka. Bisa dibilang, majikanku ini seperti mempunyai warga sendiri di suatu komunitas. Kalau seandainya majikanku itu mengikuti pemilihan suara untuk jadi kepala desa (misalnya) bisa diyakini majikanku ini sudah menggenggam separuh kuota suara.


Yang bikin enggak nyaman itu sikap angkuh para pelayan senior... Tapi ya, wajar lah... namanya senior ๐Ÿ˜‚... eh, bukan. Maksudnya, mereka kan yang mengkoordinasi pekerjaan kami. Para juragan tidak akan menegur si koki kalau ada yang salah dalam makanan mereka. Tapi mereka akan menegur kepala dapur untuk itu. Makanya, enggak usah kamu bayangkan sebesar apa kepala para senior itu kalau sedang bertugas. Enggak sampai melayang meninggalkan tubuh mereka saja sudah bagus.


Balik lagi ke kegiatan kami bikin video tik tok... Akhirnya, setelah beberapa kali uji coba, kami bisa meng upload video pendek tarian kami. Sekedar informasi.... kenapa aku mau ikutan bikin video tik tok...?


Sebenarnya itu idenya Rara... dia pikir, mungkin saja kalau ada orang diluar sana yang merupakan keluarga, kerabat, teman, atau orang pernah kenal aku, melihat video itu, mereka bisa mengenali aku dan datang mencariku... tapi nyatanya, sampai beberapa bulan berlalu... taktik itu belum berhasil. Enggak ada orang yang mencari aku... kalaupun ada bukannya karena mereka kenal aku, tapi karena mereka mau mengajak kencan... ๐Ÿคฆโ€โ™€๏ธ


Rencana untuk ngobrol bareng Rara juga batal. Ternyata Rara punya tugas kampus yang harus diselesaikan dengan teman-temannya, sehingga malam itu dia menginap di kost-an temennya. Dan akhirnya, aku lalui malam itu dengan penuh 'kemerdekaan' .


Aku tidur lebih awal tanpa sengaja, Niatnya mau baca buku bende Mataram yang sempat terabaikan beberapa hari ini... Aku sudah kangen mengikuti perjalanan Sangaji yang dibikin pusing oleh para gurunya. Tapi baru membaca beberapa lembar aku malah ketiduran.


Esoknya, aku bangun diwaktu yang hampir sama dengan biasanya... melakukan pekerjaan yang biasa juga, sambil menunggu waktu untuk masuk dan melakukan pekerjaanku di kamar tuan Bagas.


Tapi... kemana tuan Bagas?


Aku mendapati keadaan kamar masih sama dengan saat aku tinggal kemarin. Tumpukan kertas di meja juga tidak berubah. Apalagi kasur. Enggak ada tanda-tanda kalau habis ditiduri. Semua masih rapih.


"Apa tuan Bagas enggak pulang ya?" Tanyaku dalam hati. "Tidur dimana dia?" Tanya ku lagi pada diri sendiri. Tapi sedetik kemudian aku menepuk kepalaku sendiri.


"Kenapa juga aku jadi kepo begini... mo tidur dimana kek... itu kan urusan dia, kenapa aku harus repot. Sebelum ini juga dia enggak tinggal disini... dia pasti punya rumah sendiri kan... " Lagi-lagi aku bicara sendiri.


Aku lalu mulai rutinitas bersih-bersih di kamar itu. Sebelum melanjutkan pekerjaan ku yang kemarin, aku juga menyempatkan diri untuk makan. Aku enggak mau merasakan kelaparan seperti kemarin.


Aku sempat ngobrol dan bercanda dengan teman-teman di meja makan. Tapi berulang kali aku ingatkan diriku sendiri untuk tidak sampai terbawa obrolan mereka. Karena itu, selesai makan, aku segera kembali ke kamar tuan Bagas dan mulai menghidupkan komputer.


Beberapa menit... beberapa jam berlalu tanpa terasa. Aku begitu fokus pada pekerjaan ku sampai tahu-tahu sudah menjelang makan siang. Aku meregangkan tubuh yang mulai terasa kaku karena sejak tadi duduk terus di depan komputer.


Baru saja aku beranjak dari kursi, ketika terdengar pintu diketuk dan langsung dibuka dari luar. Aku segera berjalan mendekat untuk melihat siapa yang datang.


Aku lihat seorang pelayan berdiri sambil membawa sebuah kotak berbahan karton tebal dalam pondongannya.


"Ya mbak....?" Sapaku pada pelayan itu saat sedetik kemudian aku melihat sosok lain berdiri tak jauh di belakang sang pelayan. Nyonya Santi.


"Loh... Nyonya...!" Kataku kaget. Seketika aku mengangguk takjim dan menunduk menghadap nyonya itu. Rasanya aku seperti sedang di sidak oleh penguasa rumah ini. "Untung saja aku tadi enggak bikin macem-macem di kamar tadi... " Pikirku.


"Kamu sedang apa?" Tanya nyonya dengan nada datar. Tapi tetap saja bikin jantungku deg-degan.


"Saya sedang melanjutkan input data yang kemarin tuan Bagas perintahkan, nyonya... " Jawabku jujur.

__ADS_1


"Boleh masuk? " Tanya nyonya.


"Oh, tentu nyonya... " Seketika aku menepi memberi jalan pada nyonya dan pelayan pribadinya itu untuk masuk. Aku mengikuti mereka beberapa langkah di belakang.


"Taruh di situ saja... " Ucap nyonya pada sang pelayan.


"Baik nyonya. " Jawab sang pelayan dan langsung mendekat dan menaruh kotak itu diatas pembaringan. Aku cuma mengawasi gerakan sang pelayan yang begitu hati-hati meletakkan kotak itu, seperti takut kalau isinya bakal pecah.


"Sekarang kau beritahu nyonya Supami, kalau kotaknya sudah diserahkan... " Ucap nyonya lagi yang juga dijawab oleh jawaban yang sama.


"Baik nyonya... "


Setelah itu, sang pelayan mengangguk dan melangkah pergi ke luar kamar.


Aku kembali menepi, saat dia lewat di depanku. Sesaat pandangan kami saling bertemu. Ada tatapan senioritas dari matanya. Aku hanya bisa mengangguk sebagai tanda menghormatinya. Dia terlihat mengangkat dagu dan berjalan menjauh. Aku hanya bisa menatapnya dengan sudut bibir sedikit tertarik ke atas.


Ya... ya... aku tahu, walaupun sama-sama pelayan 'pangkat' dia lebih tinggi dari ku...โ˜บ


"Ehem... " Terdengar suara deheman dari arah belakang ku. Seketika aku berbalik dan menghadap nyonya Santi dengan kepala menunduk.


"Maaf nyonya... ada yang bisa saya lakukan untuk nyonya...?" tanyaku dengan sedikit was-was. Bagaimana enggak was-was coba... Sang nyonya menyuruh pelayan pribadinya untuk pergi meninggalkannya di sini cuma denganku. Aku yakin ada sesuatu yang penting yang akan nyonya katakan... sesuatu yang bersifat 'rahasia'.


Nyonya tidak langsung menjawab. Beliau menatap seputar ruangan, seakan mencari cela untuk dikomentari. Aku bersyukur karena selain masalah kebersihan, semua hal yang ada di kamar ini bukan hasil karyaku. Jadi nyonya tidak bisa komplain soal itu.


"Duduklah...!" Perintahnya.


Aku berjalan mendekat lalu duduk di lantai di hadapannya, (Mana berani aku duduk di kursi di hadapan nyonya ini...).


"Sudah berapa lama kamu tinggal di sini?" Tanya nyonya.


Sejenak aku berhitung.


"Sekitar empat atau lima bulan, nyonya..." Jawabku.


"Bagaimana? Apakah kamu betah tinggal di sini?" Tanya nyonya lagi.


"Batah nyonya... "


"Apa yang membuatmu betah?"


"Saya seperti mempunyai keluarga di sini nyonya. Keluarga nyonya serta teman-teman sudah berbaik hati mau menampung saya yang tidak jelas statusnya ini.... Terima kasih banyak, nyonya... " Ucapku sambil membungkuk dalam-dalam.


"Apakah kau senang bekerja untuk anakku?" Tanya nyonya Santi kemudian, membuat keningku sedikit berkerut. Apakah pertanyaan ini mempunyai tujuan yang sama dengan pertanyaan yang diajukan oleh nyonya Supami?


"Ya nyonya... " Jawab ku lugas.

__ADS_1


"Apakah kamu tetap mau mengabdi padanya walaupun kondisi anakku tidak sehat?" Tanya nyonya lagi.


"Ya nyonya... "


"Kenapa?"


Kenapa? Haruskah hal itu dipertanyakan? Aku ini cuma pelayan... tugasnya ya melayani. Bagaimanapun kondisi juragan ku, itu tidak bisa membuatku mempunyai pilihan untuk menolak bukan? Kecuali aku mau pergi dari rumah ini...


"Tidak ada alasan nyonya... Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga ini." Jawabku akhirnya.


"Jika kamu tidak menjadi pelayan di sini... apa yang akan kau lakukan?" Pertanyaan nyonya ini seketika membuatku mendongak.


"Apakah nyonya hendak memecat saya?" Tanyaku khawatir.


"Tidak... " Jawab nyonya sambil tersenyum saat melihat kekhawatiran di wajahku.


"Ah, syukurlah... " Ucapku lirih dengan leganya, Sedetik pandangan kami bertemu. Aku melihat mata nyonya yang terlihat teduh, sebelum aku sadar sudah berbuat lancang dan segera menurunkan pandangan.


"Maaf nyonya... " Kataku lirih sambil kembali membungkuk. Aku mencuri pandang sekilas. Kulihat nyonya tersenyum kecil memaklumi.


"Sudahlah..." Katanya. Aku terdiam. Ada rasa lega untuk satu masalah tapi kekhawatiran ku yang tadi belum hilang. Ada apa nyonya mencari ku?


"Nurul... Aku ingin kau mengabdi pada anakku... Apakah kau mau?" Ucap nyonya sekaligus bertanya.


"Sendiko nyonya... " Jawab ku.


"Baik, Terima kasih atas kesediaanmu. Sekarang, kau bersiaplah... ibu akan mengajakmu menemui seseorang.... pakai pakaian yang ada di kotak itu..." Perintah nyonya. Aku mengangguk patuh.


Setelah itu, nyonya bangkit dari duduknya dan melangkah untuk keluar kamar.


"Kau pakai saja kamar mandi yang ada di kamar ini... Kalau sudah selesai, langsung ke depan. Ibu menunggu di sana... " Ucap nyonya lagi sebelum melewati ambang pintu.


"Baik nyonya..."


Nyonya berlalu... aku masih berdiri menatapnya, di pintu hingga tubuh nyonya menghilang dibalik pintu rumah utama.


Bagitu nyonya tidak kelihatan, aku segera bergegas mendekati kotak tadi. Penasaran aku dengan isinya...


.


.


...๐Ÿ‘‰bersambung๐Ÿ‘ˆ...


.

__ADS_1


__ADS_2