Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Me Time.


__ADS_3

Usai, berbasa-basi sebentar dengan anak-anak kandang, aku dan Sulis segera kembali ke rumah.


Sulis segera melakukan tugasnya menata kue-kue itu diatas nampan, untuk dibawanya ke masjid. Sesuai perintah dari nyonya tadi.


Aku semula berniat untuk membantunya menata kue (sambil icip-icip sedikit maksudnya.... ๐Ÿ˜…), tapi baru saja dapat satu baris aku menata pada sebuah nampan berbentuk kotak itu, datang seorang temanku mengatakan kalau aku dipanggil oleh nyonya Santi.


"Nur, kamu disuruh ke ruang tengah sekarang... " Katanya. Aku mengangguk.


"Rezeki mu Lis, pekerjaan ini buat kamu semua..." Kataku. Sulis mendecih. Aku tertertawa.


Setelah menghabiskan potongan kue yang sudah terlanjur aku gigit tadi, aku segera pergi menemui nyonya di ruang tengah.


Di ruang tengah ternyata nyonya Santi tidak sendirian. Ada nyonya Supami juga.


"Nur... sini... " Panggil nyonya Santi begitu matanya melihat kehadiranku. Aku berjalan lebih mendekat.


"Dalem, nyonya... " Ujarku setelah berdiri jarak sekitar satu meter dari tempat nyonya duduk.


"Kamu siap-siap ya... habis ashar nanti kamu ikut ke pondok. Bantuin bawa kue-kue untuk anak-anak pondok..." Kata nyonya Santi padaku.


"Inggih, nyonya... " Jawab ku.


Buatku, nyonya Santi ini benar-benar seperti seorang nyonya sejati. Beliau ini kalau bicara lembut, tapi tegas. Dan kerennya lagi. kalau memerintah, nada suaranya sama sekali enggak bossy, tapi orang-orang yang diperintahkannya selalu merasa melakukan tugasnya dengan hati ringan dan penuh tanggung jawab.


"Kita enggak bisa lama-lama di sana kan, bu... sebelum maghrib kita harus sudah pulang.... " Lanjut nyonya Santi pada nyonya Supami.


"Iya... nanti kan ada istigosah, enggak enak kalau kita datang terlambat..." Sahut nyonya Supami.


"Wes, ndhuk. Kamu siap-siap sana. Nanti setelah sholat ashar langsung kita berangkat, supaya enggak keburu-buru di sana... " Ucap nyonya Santi kembali kepadaku.


"Inggih nyonya, saya permisi dulu..."


Setelah melihat nyonya mengangguk, aku mengambil langkah mundur beberapa langkah, kemudian baru berbalik melangkah pergi.


Mau diajak ke pondok...? Berarti aku harus pakai pakaian yang "pantas". Dan mengingat baju-bajuku hampir semuanya adalah baju bekas. Rasanya enggak ada yang cocok kalau dipakai untuk mendampingi para nyonya. Entah aku atau nyonya yang bakal malu kalau aku nekat pakai pakaian harianku.


Dengan pertimbangan itu, akhirnya aku memutuskan untuk memakai salah satu gaun yang kemarin dibelikan tuan untukku.


Aku pergi ke kamar tuan Bagas. Membuka pintu lemari paling bawah, tempat pakaian ku kemarin ku simpan.


Di lemari itu masih ada beberapa pakaian tuan tersimpan. Sebenarnya tuan sudah menyuruhku untuk memindahkan barang-barangnya ke ruang lain di lemari itu, agar tempatku menaruh barang lebih luas. Tapi karena Barang-barangku tidak banyak, hanya dengan meluangkan satu deret tumpukan saja, baju-bajuku sudah tertampung semua.


Kupilih sehelai gamis berwarna kunyit, dengan hiasan bordir di bagian bawah leher serta ban tangan. Sangat sederhana, tapi aku suka.



Selesai memilih, aku lalu mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.


"Enggak apa-apa lah, mandi di sini kan enggak ada orangnya..." Begitu pikirku.


"Kalau mandi di kamar mandi belakang, nanti malah ribet pakai bajunya. Orang-orang pasti kepo dan banyak komen soal baju ini..."


Karena berpikir begitu, aku lalu masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Kunikmati waktu mandi ini dengan bersantai memanjakan diri. Berendam di bathub yang airnya kuberi sabun wangi agak banyak, hingga jika aku semakin banyak bergerak tercipta gelembung-gelembung air yang semakin banyak juga.


Asik sekali aku bermain gelembung, sambil sesekali bersenandung lagu Marry You dari Bruno Mars


๐ŸŽถ ๐ŸŽถ


...It's a beautiful night,...


...we're looking for something dumb to do...


...Hey baby,...


...I think I wanna marry you...


...Is it the look in your eyes...


...or is it this dancing juice?...


...Who cares, baby,...


...I think I wanna marry you...


^^^๐ŸŽถ ๐ŸŽถ^^^


Kuciptakan gelembung besar dengan meniup lingkaran jari jempol dan telunjuk. Saat gelembung besar tercipta, ku tiup-tiup agar gelembung itu lebih lama melayang di udara.


๐ŸŽถ ๐ŸŽถ


...Don't say no, no, no, no, no...


...And we'll go, go, go, go, go...


...If you're ready, like I'm ready...


^^^๐ŸŽถ ๐ŸŽถ^^^


Sesekali, aku berakting seakan aku sedang menyanyi di depan mic dengan menggunakan kepalan tangan sebagai pengganti mic nya.


๐ŸŽถ ๐ŸŽถ


...Just say I do...


...Tell me right now, baby...


...Tell me right now, baby, baby, oh...


...*It's a beautiful night,...


...we're looking for something dumb to do*...


...*Hey baby,...


...I think I wanna marry you*...

__ADS_1


...*Is it the look in your eyes...


...or is it this dancing juice*?...


...*Who cares, baby,...


...I think I wanna marry you*...


^^^๐ŸŽถ ๐ŸŽถ^^^


Sumpah! Aku benar-benar happy banget saat ini. Rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah merasa sebebas dan senyaman ini.


Di kamar mandi belakang mana bisa mandi berendam... bathtub nya aja enggak ada. Belum lagi terlalu banyaknya orang yang menggunakan kamar mandi itu, membuat para pengguna kadang harus mengantri beberapa lama. Jangankan bisa mandi sambil nyanyi-nyanyi. Belum selesai mandi aja kadang sudah digedor orang minta cepat gantian...


Sebenarnya aku masih betah berendam seperti itu, kalau saja telingaku tidak mendengar kumandang adzan dikejauhan.


"Mati aku..." Ucapku sedikit panik. Ternyata aku sudah kelamaan mandi. Adzan ashar sudah berkumandang, tapi aku bahkan mandi pun belum selesai...


Aku segera bangkit dari bathtub. Membuka penyumbatnya dan buru-buru membilas tubuh di bawah shower. Pokoknya sampai aku siap, semua aku lakukan dengan buru-buru.


Buru-buru berpakaian, buru-buru sholat, berdandan (padahal cuma pakai pupur sama lip tint doang) ๐Ÿ˜… dan langsung cuuus... setengah berlari aku pergi ke ruang tengah untuk menemui nyonya.


"Sudah siap kamu nduk... " Sapa nyonya Santi saat melihatku berjalan cepat menghampiri.


"Inggih nyonya... " Jawabku sambil berhenti beberapa meter di dekatnya. Kuatur nafasku agar tidak terlihat tersengal.


"Minta tolong pak Mamat untuk membawa kue-kue itu..." Perintah nyonya. Aku mengangguk.


"Ayo, bu. Kita tunggu di depan... " Ajak nyonya Santi pada nyonya Supami.


Nyonya Supami tidak berkata apa-apa, tapi beliau bangkit dari duduknya dan menyambut uluran tangan menantunya itu. Dengan bergandengan, mereka berjalan menuju pelataran, tempat mobil keluarga mereka sudah terparkir menunggu.


Aku bergerak mengambil bungkusan kue yang kecil dan menyusul mereka ke pelataran.


"Tinggal yang bungkusan besar, pak. Enggak kuat ngangkatnya aku... " Kataku pada pak Mamat saat kami berpapasan di ambang pintu.


"Beres, Nur. Urusan pak Mamat kalau masalah angkut mengangkut mah... " Canda Pak Mamat sambil tertawa.


Sesaat aku celingukan mencari.


"Sepertinya Nani enggak ikut ini. Enggak mungkin Nani masih di belakang, sementara nyonya nya sudah siap naik ke mobil. " Pikirku sambil mendekati mobil.


Aku menaruh bungkusan itu di bagasi, setelah itu berjalan kearah depan untuk duduk di samping supir. Ya, kalau enggak ada Nani, pos ku memang di sini...


Pak Mamat memasukkan bungkusan kue itu ke bagasi mobil. Setelah itu dia bergegas ke belakang kemudi. Setelah memastikan semuanya siap. Mobil pun bergerak pelan meninggalkan pelataran rumah.


...ยฎbersambungยฎ...


...*ยฎ*...


...*ยฎ*...


...*ยฎ*...

__ADS_1


silahkan mampir ke ceritaku yang berikut ya kak, jangan lupa tinggalkan jejak, agar author tahu kalau kalian sudah mampir... tengkyu... ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™



__ADS_2