Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Ini Siapa lagi sih...?


__ADS_3

Setelah selesai, seperti biasa. Sebelum kembali menemui bapak dan mas Bagas, aku berkaca dulu. Merapihkan rambutku dengan telapak tangan yang sudah kubasahi.


Saat tengah berkaca itu, samar-samar aku mendengar suara aneh. Serta merta aku celingukan, memperhatikan keadaan sekitar. Memastikan...


Suara apa itu...?


Perlahan aku melangkah dengan memasang kuping sebaik-baiknya, menuju arah dari mana suara itu berasal.


Selangkah demi selangkah, suara yang terdengar semakin jelas. Semakin dekat hatiku juga jadi semakin enggak enak. Bersaman dengan itu, otakku juga jadi ikutan travelling enggak karuan. Gimana enggak kayak gitu, kalau yang kamu dengar itu serupa dengan desah tertahan gitu... 🥴


Aku berhenti di depan ruang linen. Aku yakin, suara itu berasal dari dalam sana. Harusnya aku abaikan saja kan suara itu. Tapi rasa penasaran juga sudah menguasai ku. Perlahan, kubuka daun pintu ruang itu...


CKLEK...


Ishh... kok malah bunyi sih...


Ketanggungan... ku dorong pintu itu agar terbuka lebar sekalian. Seketika suara-suara tadi berhenti. Hampir bersamaan dengan itu, mataku menemukan dua orang yang posisinya sepertinya tidak menguntungkan untuk dipergoki.


Yang perempuan sibuk merapihkan baju atasannya yang kancingnya sudah terlepas. Sedangkan yang laki-laki buru-buru menarik ritsleting celananya. Aku malah sempat berpikir...


Untung enggak terjepit itu "makhluk" gara-gara terlalu cepat dimasukkan kembali ke sarangnya...


Jangan ditanya ekspresi kedua orang itu... Pastinya mereka merasa malu tapi juga marah padaku. Buktinya mereka menatapku seperti orang yang shock gitu.


Yang laki-laki malah sampai melotot melihatku hadir disana menginterupsi kegiatan mereka.


Aku sendiri sebenarnya malu sih. Rasanya seperti kalau kamu lagi nonton bo*kep terus ketahuan sama bokap kamu... Bingung kan kamu, mau ngapain...


"Sorry..." Cuma itu yang bisa kukatakan sambil berbalik pergi.


"Anna?"


Terdengar suara yang laki-laki menyebutkan sebuah nama.


Awalnya aku akan berlalu dari situ dan bersikap seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa barusan. Toh, yang mereka lakukan tidak berhubungan langsung denganku. Tapi saat suara laki-laki itu menyebutkan kata "Anna", Otakku langsung bekerja...


Anna itu namaku kan? ... Apa dia juga mengenaliku?


Aku berhenti di depan pintu ruang linen itu dan berbalik. Tadinya aku mau balik lagi masuk ke dalam untuk bertanya siapa dia... Tapi laki-laki itu justru sudah mengejarku ke luar.


" Anna... Kau sudah kembali... Emm ... ini tidak seperti yang kamu pikirkan... " Katanya.


Buatku pernyataan itu terdengar lucu... Kalau kamu di posisiku, dan melihat adegan seperti barusan, Kira-kira apa yang terlintas dikepala mu? Apa kamu akan berpikir, mereka sedang bermain polisi menggeledah maling? Mungkinkah ada konotasi lain?


"Maksudnya apa?" Tanyaku pura-pura bodoh.


"Itu... aku dan dia..."


Sepertinya dia sendiri juga kesulitan untuk merangkai alasan.


"Ah, sudahlah... Bukan hal yang penting juga..." Ucapku sambil berbalik untuk pergi. Seketika aku lupa dengan alasanku berhenti melangkah tadi. Tapi laki-laki itu malah mengejarku.


"Anna..."


"Anna... Anna... Kamu siapa? Kayaknya kita enggak saling kenal deh..." Kataku ketus. Tapi sepertinya dia enggak mau menyerah deh...


"Anna... maafkan aku..." Katanya sambil mencekal lenganku, menahanku untuk lanjut melangkah.

__ADS_1


"Minta maaf untuk apa?" Tanyaku tidak mengerti. Apa hubungannya, dia berlaku begitu lalu minta maaf padaku?


"Sudah, ah...!" Aku mengibaskan tangannya yang masih mencekal lenganku. Cekalannya terlepas, tapi dia masih belum mau pergi. Akhirnya aku yang berbalik dan melangkah pergi duluan.


"Apakah kamu datang untuk menjenguk ayahmu ..? Ayo aku temani..." Kata laki-laki itu malah menjajari langkahku.


"Ayah...?" Ulang ku.


Apa yang dia maksud itu pak Ruswanto?


"Aku sudah bertemu dengannya tadi..." Jawabku sekenanya.


"Sudah bertemu...? Emmm apakah dia membicarakan tentang aku?"


"Untuk apa kami membicarakan perihal kamu...?" Aku balik bertanya.


"Kamu pikir, siapa kamu... hingga kami harus membicarakan tentang kamu..." Ucapku sambil menatap wajahnya tajam. Meneliti setiap perubahan ekspresi diwajahnya.


Sebenarnya kan, apa yang aku katakan itu rasional banget. Aku enggak kenal dengan laki-laki ini, jadi untuk apa membicarakannya. Tapi sepertinya kalimat ku barusan diartikan lain oleh laki-laki itu...


"Anna, tolonglah. Jangan seperti itu padaku..." Katanya dengan nada sedikit memelas.


"Seperti apa maksudmu...?" Aku malah jadi bingung. Tapi sebelum sempat dia menjawab, terdengar suara seseorang memanggil...


"Dan...!"


Laki-laki itu menoleh dan berhenti melangkah. Rupanya perempuan yang tadi yang memanggilnya. Aku yang merasa enggak enak pada perempuan itu, juga karena sudah enggak mau tahu soal laki-laki itu, segera melangkah pergi, kembali ketempat bapak dan mas Bagas kutinggalkan tadi.


Dasar orang yang aneh...


"Dari mana kamu?" Tanya mas Bagas begitu aku kembali bersama mereka. Rupanya bapak sudah berhasil menebus obatnya, dan Mas Bagas juga sudah selesai menelpon.


"Dari toilet..." Jawabku.


"Kok lama? Kamu enggak apa-apa, kan?" Tanya mas Bagas lagi.


"Enggak, cuma agak nyasar tadi...." Jawabku lagi sedikit ngasal. Ya, habis mau gimana lagi, masa mau bilang abis nontonin orang indehoy.... bikin malu aja.


"Udah yuk. Kasihan Yoga udah nungguin dari tadi..." Kataku mengalihkan perhatian.


Kami melangkah menuju pintu keluar. Baru saja melintas di pintu, terdengar suara klakson menarik perhatian kami. Siapa lagi kalau bukan Yoga yang membunyikan, Tanpa tunggu lama, kami langsung menuju kearahnya.


Seperti yang sudah direncanakan, kami mampir dulu ke hotel untuk mengambil perlengkapan kami. Tapi mas Bagas menolak untuk check out. Katanya biar hotel ini menjadi alamat sementara kami di kota ini.


Setelah mengambil perlengkapan sekedarnya, kami lanjut menuju rumah yang menurut bapak berada di seputaran bengkel tempat kami memperbaiki mobil.


Sesuai dengan intuisi ku... Bangunan tempat tinggal itu ada dibelakang bengkel. Pintu masuknya selain lewat bengkel itu, ada juga lorong panjang yang lebarnya sekitar dua meter, di apit oleh bangunan bengkel dengan bangunan rumah tetangga di sebelahnya, membuat rumah itu terkesan tersembunyi dari lingkungan luar.


Aku melangkah disamping ibu, dengan mas Bagas di depanku. Aku merasa perlu untuk mendorong kursi roda mas Bagas, karena jalan yang kami lalui sedikit berbatu. Agak sulit jika menggunakan mesin dorong seperti biasanya.


"Nah, sudah sampai..." Ucap Ibu sambil langsung membuka pintu.


"Ayo masuk... masuk... " Lanjutnya sambil membukakan pintu lebih lebar untuk mas Bagas.


"Terima kasih..." Ucap mas Bagas. Di lantai keramik itu, dia bisa menjalankan kursinya sendiri.


"Kalian istirahatlah dahulu... ibu akan menyiapkan makan malam kita...." Kata ibu lagi. "Yoga, antarkan mbak mu ke kamarnya..." Lanjut ibu memerintah Yoga yang baru masuk, karena dia tadi harus memarkirkan mobil lebih dulu.

__ADS_1


"Ayo mbak..." Sahut Yoga. Lalu dia mendahului melangkah. Aku dan mas Bagas mengikutinya sambil memperhatikan segala sesuatu yang kami lewati.


"Kami pamit istirahat dulu, pak... bu..." Pamit mas Bagas sebelum mengikuti Yoga tadi. Bapak dan ibu mengangguk.


***


Aku membanting tubuh di kasur, menyusul mas Bagas yang sudah lebih dulu rebahan.


Kasihan sekali dia.... sepertinya sejak pulang dari menemui dokter Tony tadi pagi, dia duduk terus. Enggak di mobil ya di kursi roda...


"Capek kah, mas?" Tanyaku prihatin.


"Sedikit..." Jawabnya. Tapi ekspresi wajahnya menunjukkan kalau dia benar-benar lelah dan lega sekali bisa berselonjoran. Enggak kebayang kalau aku jadi mas Bagas yang seperti terikat di kursi roda... pastinya saat aku bangkit dari kursi itu sudah tumbuh akar di bo*kong*ku.


"Aku pijit-pijit sebentar, ya..."


"Kamu enggak capek?"


"Enggak secapek mas Bagas lah..."


Mas Bagas tersenyum. Setelah itu dia tidak berkata apa-apa lagi, tapi dia mengambil posisi menelungkup, siap aku urut.


Pelan-pelan aku urut kakinya kanan kiri sampai ke bokong. karena aku memperhitungkan, bagian inilah yang paling terasa pegal kalau kamu dalam posisi duduk terlalu lama.


Rasanya baru sebentar kami ada di kamar itu. Kamar yang katanya milikku, tapi belum aku utak-atik. Karena selain lelah, aku juga masih ragu...


Ini beneran kamarku bukan ya...


"Kamu laper enggak...?" Tanya mas Bagas memecah keheningan.


"Laper sih... tapi mau pesan makanan enggak enak, katanya ibu tadi mau nyiapin untuk makan malam..." Jawabku.


"Iya, sih..." Ujar mas Bagas.


Kami kembali terdiam. Aku merebahkan diri disamping mas Bagas. Mas Bagas meraih tanganku dan mempermainkan nya di atas perutnya.


Salah satu usaha pengalih perhatian dari rasa lapar kurasa. Hingga tiba-tiba kami dengar suara ribut-ribut di luar. Aku dan mas Bagas saling bertukar pandang.


Entah apa yang terjadi. Tapi kami kemudian mendengar suara langkah mendekat disertai suara seorang wanita mengomel....


"Dasar, anak enggak tahu diuntung... sudah menghilang berbulan-bulan, pulang bukannya segera nengokin ayahnya. Padahal sudah sampai rumah sakit, kok malah balik lagi dan enak santai-santai disini....!"


Suara omelan itu terhenti bersamaan dengan terbukanya pintu kamar tempat kami berada..


"Kamu...!" Sentak wanita itu marah saat melihat kami.


Ini siapa lagi sih...?


...*...


...*...


...*bersambung*...


...*...


...*...

__ADS_1


__ADS_2