
Kutatap laki-laki yang terbaring lemah di ranjang pasien rumah sakit... Beliau adalah Yudhistira, ayahku. Ayah biologis ku...
Menurut cerita yang aku dengar, kesehatan beliau drop, sejak mengetahui kalau anak tunggalnya hilang tak tentu rimbanya. Dan anak yang dimaksud itu adalah aku.
Ingatanku tentang beliau memang tidak ada. Tapi perasaan sayang, haru dan cemas yang aku rasakan terhadap orang yang mereka sebut ayahku itu ternyata memang ada.
Aku terharu, karena ternyata, tanpa aku tahu selama ini... bukan cuma aku yang merasa kehilangan... keluargaku juga merasa kehilangan diriku. Bolehkah aku merasa bahagia untuk itu? Aku bahagia karena ternyata aku bukanlah seorang yang terbuang...
Aku juga cemas, karena akibat kehilangan diriku, membuat orang yang aku sayangi sampai menderita sakit seperti ini.
Bahkan dalam ketidaksadaran nya, beliau terus memanggil namaku...
"Anna.... Anna..." Panggilnya lirih.
Aku menggenggam tangannya erat.
"Ayah.... aku disini..." Sahutku tak kalah lirih. Suaraku bagai tercekat ditenggorokan.
Anna, itu panggilan mereka untukku, penggalan dari nama Widiana. Sementara Yudhistira, itu nama ayahku. Karenanya nama yang tercantum di semua dokumen pribadiku adalah Widiana Yudhistira...
Mengenai ibuku.... Dalam dokumen, tertulis, kalau aku adalah putri dari seorang Retno Wulandari, beliau adalah istri ayahku. Ya... Wanita yang tiba-tiba masuk ke kamar dan ngomel-ngomel enggak jelas tadi... Tapi sebenarnya, aku lahir dari rahim ibu Sofia...
Awalnya agak rumit mendengar cerita mereka. Bagaimana bisa aku punya dua ibu serta dua ayah... tapi memang begitulah adanya. Untuk lebih jelasnya, lain kali saja aku ceritakan. Sekarang aku ceritakan, bagaimana aku bisa sampai di rumah sakit ini. Rumah sakit tempat aku dirawat siang tadi...
Ya...selesai makan malam tadi, kami berkumpul di ruang tengah. Aku duduk disamping kursi roda mas Bagas. Sementara yang lain duduk semau mereka.
Ibu Sofia duduk di sofa panjang di depanku bersebelahan dengan bunda Retno (begitu katanya aku biasa memanggil istri ayahku itu). Di sebelah kanan, Bapak duduk di sofa single di samping bangku panjang yang diduduki Ramdan sambil merokok. sementara Yoga, dia berdiri diambang pintu ruang tengah dan ruang makan.
Kami mulai saling bercerita... bapak, ibu, Yoga, juga bunda, menceritakan siapa diriku sebenarnya. Bunda sampai menunjukkan foto KK yang ada di ponselnya. Katanya KK itu sengaja beliau foto untuk mengurus beberapa syarat administrasi yang mendadak diperlukan. Ramdan juga ikut cerita sih, tapi cerita dari dia tidak terlalu aku indahkan, karena cerita dia selalu berputar tentang aku sebagai tunangannya.
Mereka juga bertanya tentang apa yang terjadi padaku selama ini. Sayangnya aku sendiri tidak tahu. Yang bisa aku ceritakan hanya sekedar cerita yang aku dengar dari orang lain, bahwa aku adalah satu-satunya penumpang bis yang selamat.
"Bisnya terperosok masuk ke jurang, dan meledak. Menewaskan semua penumpang serta sopir dan kondektur nya. Tidak ada yang tersisa untuk diteliti, karena serpihan bis dan penumpangnya jatuh ke sungai yang arusnya deras dan hanyut... " Kataku menceritakan ulang apa yang orang-orang bilang.
"Ya Allah, anakku..." Ibu Sofia seketika bangkit dari duduknya dan langsung memelukku sambil menangis...
Semula aku bercerita dengan nada biasa saja, tapi setelah mendengar ibu Sofia menangis, tiba-tiba saja air mataku ikut mengalir.
"Aku terbangun dirumah sakit, tapi aku tidak ingat sedikitpun, siapa dan dari mana asal ku..." Lanjut ku bercerita sambil terisak.
"Aku kesakitan... aku kesepian... tapi aku enggak tahu, kemana harus mengadu. Beberapa bulan aku tinggal di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Sebagai imbalan atas pelayanan itu, setelah aku cukup sehat, aku bekerja serabutan di sana, karena tidak bisa selama itu aku bisa hidup gratis...Hingga kemudian aku diambil ke keluarga mas Bagas dan akhirnya kami menikah..."
"Nak Bagas.... Terima kasih banyak karena kamu dan keluargamu telah sudi menampung anakku... Kalau tidak ada kalian, entah jadi apa anakku ini... Dia pasti akan luntang-lantung enggak karuan... " Ucap Ibu pada mas Bagas.
"Justru saya yang berterima kasih pada Nurul, bu... karena berkaca padanya, saya jadi punya semangat lagi..." Ucap mas Bagas.
Kami tidak menyinggung bagaimana awal mulanya aku masuk ke keluarga Darmawan. Biarlah hal itu dibicarakan kemudian, karena bunda Retno kemudian menyinggung tentang ayahku.
__ADS_1
"Anna... Bunda tahu kalau kamu lelah dan juga masih bingung dengan kondisi mu saat ini... tapi bunda harus mengatakan hal ini... Ayahmu sakit. Dia sangat mengharapkan kehadiranmu..."
"Ayahku...? Maksudnya bukan pak Ruswanto...?" Tanyaku dengan nada menggantung karena tidak yakin sambil menoleh kearahnya. Aku lihat pak Ruswanto baik-baik saja. Pasti bukan bapak ini yang dimaksud oleh bunda.
"Bukan, yang sakit ayahmu... ayah kandung mu..." Jawab bunda Retno.
Mendengar hal itu aku langsung berpikir, kalau ibu Sofia dengan ayah Yudhistira pastinya dulu adalah pasangan suami istri yang sekarang telah bercerai dan mempunyai pasangan masing-masing. Muncul pertanyaan baru... apakah karena hal itu maka dalam dokumen pribadiku harus dituliskan nama ibuku yang baru? Harusnya tidak perlu kan?
"Anna... kamu mau kan, menjenguk ayah...?" Tanya bunda lagi.
"Kapan?" Tanya ku
"Sesegera mungkin... kasihan dia... dia selalu memanggil-manggil namamu."
Aku menoleh kearah mas Bagas.
"Bagaimana, mas? Bisakah kita pergi malam ini juga? Atau lebih baik menunggu hingga esok?"
"Kalau kamu tidak lelah, sekarang juga boleh..." Jawab mas Bagas.
"Mas sendiri? Apakah mas tidak lelah?"
"Tidak apa-apa... Kamu pasti ingin segera bertemu dengan ayahmu kan?" Kata mas Bagas sambil tersenyum menenangkan.
"Terima kasih..." Kataku sambil meraih tangan mas Bagas dan menciumnya. Mas Bagas membalas dengan mengusap puncak kepalaku.
Akhirnya, setelah bersiap-siap sebentar, jadilah kami pergi mengunjungi ayah. Ibu dan bapak juga ikut. Yoga memilih tinggal di rumah, sementara Ramdan, dia pamit pulang sesaat sebelum kami berangkat ke rumah sakit.
Bisa kamu bayangkan bagaimana perasaanku? Aku sendiri enggak bisa mengidentifikasi perasaan yang aku rasa sekarang. Semua campur baur, membuat dadaku deg-degan enggak karuan.
Ayah Yudhistira dirawat diruang VVIP rumah sakit itu. Selain perawat, disana juga terlihat beberapa orang berjaga, yang begitu melihat bunda dan kami datang, langsung menepi memberi privasi.
"Anna... lihatlah, itu ayahmu..." Kata bunda, saat kami sudah berada di dalam kamar ayah. Ayah terbaring di dalam bilik tersendiri dari ruangan itu.
Sementara yang lain berdiri menunggu diambang pintu, perlahan aku mendekat. Jantungku semakin cepat berdetak diikuti rasa gelisah saat melihat sosok ayah yang tidak aku kenal terbaring lemah sedemikian rupa di ranjang pasien.
"Ayah..." Panggilku lemah.
Ayah yang aku panggil rupanya sedang tertidur. Aku menoleh kearah bunda dan ibu. Mereka menggerakkan tangannya, menyuruhku untuk terus mendekat. Aku menoleh kearah mas Bagas. Dia mengangguk. Karena itu ku lanjutkan langkah semakin mendekati pembaringan ayah.
"Ayah..." Panggilku lagi. Ku beranikan diri untuk meraih tangannya.
Ku amati wajah ayah. Sepintas aku merasa, kalau aku pernah melihat wajah serupa ini.
Apakah ingatanku sudah kembali?
Aku berusaha menggali ingatanku. Dimana aku pernah melihat wajah ini...
__ADS_1
Tapi ingatan yang muncul adalah saat aku melihat sosok ayahku itu di layar televisi saat bersama mas Bagas.
Ya... itu sih bukan ingatan lama...
Tanpa sadar aku mengeluh kecewa. Ingatanku itu adalah saat pertama kali melihat ayah yang jatuh pingsan saat membagikan sembako di suatu perumahan kumuh... Hanya itu, tidak lebih.
Sungguh aneh. Aku benar-benar tidak merasa mengenal laki-laki itu, tapi aku merasa begitu dekat dengannya, dan bersedih melihatnya dalam kondisi lemah begitu.
Aku duduk di kursi yang ada di samping pembaringan.
"Ayah..." Panggil ku lagi. Kali ini kucium tangannya. Kucium berulang-ulang. Hingga....
"Anna..." Terdengar suara lirih seperti merintih menyebutkan namaku.
Aku mendongak.
"Ayah..."
Kulihat matanya sudah terbuka dan menatapku dengan nanar. Ada air mata menggenang di sana.
"Anna... kemana saja kau nak..." Ucap ayah sambil berusaha untuk bangun. Tapi sepertinya badannya kurang kuat, hingga tubuhnya malah limbung hendak terguling. Pak Ruswanto segera bergerak membantuku menegakkan tubuh itu dan mengganjal nya dengan bantal.
"Anna..."
"Ayah..."
Refleks kami saling memeluk dalam tangis.
Entah karena merasa terlalu bahagia atau bagaimana... Tiba-tiba saja nafas ayah tersengal. Dokter segera dipanggil untuk memberikan penanganan. Untuk sementara kami hanya duduk tegang di ruang tunggu kamar itu. Hingga akhirnya dokter berhasil memenangkan ayah, dan beliau tertidur kembali.
"Mas... malam ini, bolehkah saya tidur di sini menemani ayah...?" Aku minta izin pada mas Bagas. Mas Bagas terlihat berpikir sejenak sebelum mengangguk setuju.
"Boleh, biar aku nanti tidur di sofa saja..." Jawabnya.
"Eng... Kalau mas mau pulang... "
"Dan meninggalkan kamu sendiri di sini? Tidak akan..." Potong mas Bagas cepat. Seketika senyumku melebar. Kuraih tangannya dan menciumnya.
"Makasih, mas..." Ucapku tulus.
*
*
*bersambung*
*
__ADS_1
*