
Anna melihat Bagas menatap wanita itu dengan pandangan nanar. Pandangan Anna mendadak ikutan nanar. Seperti ada sesuatu yang mencubit hatinya.
"Mas... selama kita berpisah, aku baru sadar, kalau ternyata aku masih sayang banget sama sampean, mas... Aku mau memperbaiki hubungan kita mas..."
Sesaat Anna terdiam bagaikan beku. Dadanya terasa sesak, otaknya mendadak macet. Dia bingung mau ngapain.
Dia pasti mantan tunangan mas Bagas yang dulu diceritakan Rara... Kenapa dia ada disini? Kenapa dia kembali di saat kami mau meresmikan pernikahan kami...? Enggak, enggak boleh...! Mas Bagas itu milik ku...! Enak saja dia datang dan pergi semaunya...!
Setelah berfikir seperti itu, Anna seperti sudah mengambil keputusan. Dia enggak rela Bagas kembali bersama dengan wanita itu. Demi Bagas, dan demi harga dirinya.
Anna menghela nafas panjang sekali, lalu dia menegapkan badannya. Berjalan lebih mendekat, hingga berdiri sejajar di samping kursi Bagas.
"Assalamu'alaikum, selamat pagi mas... Ditungguin dari tadi ternyata, mas Bagas ada di sini..." Sapa Anna dengan memasang wajah cerianya, seakan tidak melihat ada orang berlutut di depan Bagas.
Bagas mengerjapkan matanya, berusaha mengendalikan emosi yang sudah menyelimuti nya saat bertemu dengan mantan tunangannya itu.
Melihat ada seorang wanita yang menyapa Bagas demikian manis, membuat Wulan segera bangkit dari posisinya.
"Ehem..." Dehem Wulan berusaha mengembalikan kepercayaan dirinya, yang dia rasa sempat hilang karena ketahuan sedang berlutut pada seseorang.
"Eh, ada orang toh, maaf enggak lihat tadi...." Anna pura-pura kaget sambil menoleh kearah Wulan.
"Em, Nur... ini Wulan... Wulan, ini Nurul..." Ujar Bagas memperkenalkan keduanya. Matanya menatap kedua wanita di dekatnya itu bergantian.
Wulan mengulurkan tangan untuk menyalami Anna.
"Hai, kenalkan... Aku Wulan, tunangan Bagas..." Ucap Wulan penuh percaya diri.
"Oh, ya...? Mas Bagas kok enggak pernah bilang ya, kalau punya tunangan..." Sahut Anna sambil membalas uluran tangan Wulan dengan gaya sok ramah, sementara matanya menatap tajam pada Bagas.
Terlihat kalau Bagas terkejut mendengar ucapan Wulan, dan menatap Anna dengan tidak enak hati karena rasa bersalah.
"Nurul ini siapanya, mas Bagas, ya?" Tanya Wulan sambil menatap Anna dan Bagas bergantian, menebak siapa yang akan menjawab pertanyaannya.
"Oh, iya. lupa kasih tahu... Saya istrinya mas Bagas..." Anna menjawab cepat mendahului Bagas yang sudah membuka mulut hendak bicara. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang sangat jelas dipaksakan.
Wulan terperengah mendengar jawaban itu. Seketika dia menatap Bagas minta konfirmasi. Yang ditatap kini malah menatap wanita di sampingnya dengan pandangan yang sulit dia artikan. Ada seulas senyum tipis di bibirnya.
__ADS_1
"Ya.. dia istriku..." Jawab Bagas sambil meraih pinggang Anna untuk lebih mendekat. Hingga Anna terduduk di pegangan kursinya.
Walaupun awalnya Anna yang menunjukkan sikap posesif, karena tidak mau ada wanita lain "mendekati" Bagas. Tapi saat Bagas membalas dengan perlakuan yang sama posesif nya, Anna merasa rikuh juga.
"Sampean sudah menikah, mas? Kapan?" Tanya Wulan tidak percaya.
"Beberapa hari lalu... Minggu depan kami akan langsungkan acara resepsinya... Kalau ada waktu datanglah..." Jawab Bagas sambil tersenyum masih sambil memeluk pinggang Anna.
"Oh... emm... ya..." Ucap Wulan seperti kehabisan kata-kata. Pandangannya langsung dia edarkan ke seputaran hotel guna mengalihkan perhatiannya. Dia merasa, bendungan air matanya seperti mau jebol.
"Emm... kalau begitu selamat untuk kalian... Emm, maaf sudah mengganggumu, mas... permisi."
Ucap Wulan lagi. Lalu, tanpa menunggu jawaban dari Bagas apalagi Anna, dia segera berbalik dan pergi.
Bagas menatap kepergian Wulan dengan perasaan setengah hati yang terluka. Jujur, dia tidak ingin melihat Wulan menangis. Dia sama sekali tidak ingin menyakiti wanita itu. Tapi di sampingnya kini sudah ada wanita lain yang hatinya harus dia jaga.
Anna melihat Wulan menjauh. Dari gerakan tangannya, Anna bisa menebak, kalau Wulan berusaha mengusap air matanya. Dan Anna seperti mau ikutan menangis, kala menoleh kearah Bagas, dilihatnya laki-laki itu menatap sang mantan dengan pandangan terluka.
Masih ada rasa diantara mereka...
Perlahan Anna melepaskan pelukan Bagas dan beranjak dari kursi rodanya.
"Emmm kita mau sarapan dimana, Nur?" Tanyanya sambil mengikuti langkah Anna yang berjalan masuk lagi ke dalam hotel.
"Aku sudah enggak mood sarapan..." Sahut Anna terus berjalan menuju tangga untuk kembali ke kamarnya, meninggalkan Bagas yang kesulitan untuk mengikutinya ke sana.
"Nur... Nurul...!" Panggil Bagas bingung campur kesal.
Dia bingung dengan sikap Anna yang mendadak berubah menjadi dingin begitu. Dia juga kesal pada diri sendiri, karena tidak mampu mengejar Anna melalui tangga. Kalau sudah seperti ini, dia ingin segera berobat supaya cepat sembuh rasanya. Keterbatasan ini benar-benar membuatnya tidak berdaya.
Akhirnya, Bagas hanya mampu menatap Anna yang berjalan menjauh hingga hilang di ujung tangga.
Bagas meraih ponselnya. Berusaha menelpon Anna. Tidak ada yang menjawab. Entah Anna tidak mendengarnya karena belum sampai kamar, atau malah telponnya itu diabaikan oleh Anna.
Akhirnya dia cuma bisa kirim pesan.
Bagas : Dek...
__ADS_1
Bagas : Maafkan mas, dek.
Bagas : Apapun yang telah terjadi, tidak akan merubah apapun. Kamu tetap istri mas...
Bagas : Mas sayang kamu, dek... Dan mas minta maaf untuk semua kesalahan yang sudah mas lakukan.
Bagas : Tolong jangan marah sama mas... jangan acuhkan, mas...
Rentetan pesan itu masuk membuat ponsel Anna yang biasanya tidak pernah bunyi, jadi menjerit bising, karena nada notifikasi yang berdering terus menerus.
Yoga yang semula masih tertidur sampai terbangun karena nada notif itu. Sesaat dia celingukan bingung, mencari sumber kebisingan. Hingga matanya mendapati Anna yang tengah memegang ponselnya di dekat pintu masuk.
"Pesan dari siapa sih? Berisik amet." Gerutunya setengah jengkel.
Anna tidak menjawab. Anna tidak membuka aplikasi pesan itu, tapi dia membaca pesan Bagas dari jendela notifikasinya.
Dia tahu, Bagas tidak akan kembali pada mantan tunangannya itu, tapi kalau melihat ekspresi wajahnya tadi, Anna bisa menebak, kalau memang masih ada rasa diantara mereka. Dan mengetahui hal itu membuatnya kesal!
Anna berusaha untuk paham. Karena walau bagaimanapun, perempuan itu pernah ada dalam hati Bagas, tidak akan mudah menghapusnya begitu saja dari sana. Tapi tetap saja, kalau ingat cara Bagas menatap wanita itu bikin hati Anna kesal dan sedih.
Telolet... telolet...
Nada notifikasi itu berbunyi lagi.
Bagas : Nurul, sayang...
"Mbak... itu pesannya dijawab kenapa... bikin pusing aja tau...!" Protes Yoga yang rupanya, kembali tertidur dan kaget karena bunyi notif itu.
Anna menoleh sekilas sambil mendelik kesal pada Yoga. Yoga enggak lihat, karena kepalanya sudah dia tutup dengan bantal.
Anna akhirnya menghela nafas panjang sebelum mengirim pesan balasan pada Bagas.
Anna : Pulang gih, Bawain aku baju ganti. Udah gatel nih...
...β...
...πππbersambung πππ...
__ADS_1
...β...