Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Nyaman


__ADS_3

"Mas... malam ini, bolehkah saya tidur di sini menemani ayah...?" Aku minta izin pada mas Bagas. Mas Bagas terlihat berpikir sejenak sebelum mengangguk setuju.


"Boleh, biar aku nanti tidur di sofa saja..." Jawabnya.


"Eng... Kalau mas mau pulang... "


"Dan meninggalkan kamu sendiri di sini? Tidak akan..." Potong mas Bagas cepat. Seketika senyumku melebar. Kuraih tangannya dan menciumnya.


"Makasih, mas..." Ucapku tulus.


Akhirnya, malam ini, aku jadi menginap di rumah sakit. Untung hanya untuk menjaga dan bukan menjadi pasien.


Sekitar pukul sepuluh malam, ibu, bapak serta bunda berpamitan untuk pulang. Aku mengiyakan. Biarlah malam ini bunda beristirahat dengan nyaman dikamarnya. Tapi bunda mengingatkan, kalau besok, akan ada orang yang akan menjemput kami. Besok kami harus pulang ke rumah keluarga Yudhistira. Lebih bagus lagi kalau pulangnya bareng dengan ayah. Aku langsung mengamini perintah itu.


Setelah mereka semua pergi dan hanya tinggal aku dan mas Bagas, mas Bagas aku minta tiduran di kasur yang disediakan untuk penunggu pasien. Awalnya mas Bagas menolak dan menyuruhku tidur disana. Tapi aku berhasil membujuknya.


"Mas, sofa itu terlalu pendek untuk ukuran tubuh mas Bagas yang tinggi. Kasihan kakinya kalau harus menggantung..." Bujuk ku. Akhirnya Mas Bagas setuju untuk tidur di kasur tambahan itu. Tapi dia juga memintaku untuk tidur bersamanya. Aku tersenyum dan mengangguk.


Aku memeriksa keadaan ayah, memastikan kalau ayah sudah tidur dengan nyaman. Kuperhatikan wajah ayah sesaat.


"Anna... Tiba-tiba terdengar suaranya memanggilku.


" Aku disini ayah..." Sahutku.


Tapi rupanya ayah hanya mengigau. Karena setelah mendengar jawaban ku, beliau tetap pulas tertidur, bedanya, kini kulihat ada seulas senyum samar dibibirnya.


Apakah ayah begitu menderita karena kehilangan diriku...?


Kutunggu beberapa saat reaksi ayah selanjutnya. Tidak ada. karena itu aku mendekat kembali ke pembaringan kami.


Karena tidak banyak yang bisa aku lakukan untuk ayah, aku lalu mulai mengurut-urut kaki mas Bagas. Aku tidak menguasai ilmu pijat memijat. Aku hanya ingin membuat otot-otot kaki mas Bagas lebih rileks, karena seharian tadi dia sudah lelah duduk terus.


"Sudah malam... ayo tidur..." Ajak mas Bagas sambil menarik ku untuk berbaring disebelahnya. Aku menurut. Aku rebahkan tubuhku disamping mas Bagas. Pembaringan yang agak kecil membuat kami harus saling merapat supaya aman. Aku berbaring miring menghadap ke pembaringan ayah, membelakangi mas Bagas. Tapi untung mas Bagas tidak keberatan. Dia malah memelukku dari arah belakang.



Sengaja pula aku tidak menutup rapat kelambu yang menjadi pembatas ruangan ayah, agar aku bisa mengamatinya dari tempatku berada.


"Nur..." Panggil mas Bagas pelan setelah beberapa menit kami saling diam.


"Hum..." Gumamku.


"Belum tidur?" Tanya nya. Pertanyaan yang enggak perlu dijawab sebenarnya. Karena kalau aku masih bisa menyahut berarti aku belum tidur kan? Tapi tetap saja aku menjawabnya.

__ADS_1


"Belum..."


"Apa yang kamu pikirkan...?" Tanya mas Bagas lagi. Aku termenung dan tidak segera menjawab pertanyaannya. Sesaat aku berpikir, apa yang sedang aku pikirkan barusan?


"Aku enggak berpikir apa-apa, mas. Semua ini seperti mimpi buatku, sampai-sampai otakku blank rasanya." Jawabku kemudian. Terdengar suara mas Bagas mendengus sambil tersenyum.


"Bagaimana perasaan mu, setelah mengetahui kalau kamu anak Pak Yudhistira...?" Tanya mas Bagas.


"Tentu saja senang..." Jawabku spontan.


"Tahukah kamu siapa dia?"


Aku menggeleng.


"Memangnya siapa pak Yudhistira itu?" Tanyaku.


"Dia itu seorang pengusaha sukses. Usahanya meliputi berbagai macam sektor..." Mas Bagas memberi tahu.


"Oh..." Cuma itu komentar yang keluar dari mulutku.


"Akankah kamu berubah setelah mengetahui siapa keluargamu?"


"Berubah bagaimana...?"


Aku mulai bergerak merubah posisi. Kini aku menghadap kearahnya.


"Mas...!" Tanpa sadar aku menaikkan nada suaraku menghentikan ucapannya.


Tidak pernah terlintas dalam pikiranku untuk meninggalkan mas Bagas. Apalagi untuk kembali menjadi tunangannya Ramdan... Hih, sangat tidak mungkin.


"Aku hanya takut kamu akan pergi meninggalkan aku, setelah kamu tahu siapa dirimu..." Lanjut mas Bagas. Kalimat yang diucapkan dengan suara lirih itu kontan membuat ku terkejut.


"Kenapa mas bisa berpikir begitu?"


"Ya... Lihatlah dirimu... Kamu itu sekarang bukan lagi seorang pelayan yang papa...Kamu adalah seorang gadis muda putri seorang milyuner. Kamu cantik dan sehat sempurna... Sedang aku... Aku hanya seorang pria yang menderita lumpuh..." Ucap mas Bagas dengan nada getir.


Tak terasa mengalir air mataku mendengar kalimat mas Bagas.


"Mas... Aku mungkin anak dari seorang pengusaha kaya. Tapi aku tidak punya ingatan soal itu... Yang aku tahu, sekarang ini aku adalah istri mas Bagas. Mas Bagas lah pusat hidupku sekarang, Tolong jangan berpikir untuk meninggalkan ku..."


"Tapi aku ini laki-laki cacat, Nur..."


"Bukankah kita sedang mengusahakan untuk kesehatan mas Bagas? Supaya mas Bagas bisa kembali berjalan dengan normal?" Ucapku meyakinkan.

__ADS_1


"Kalau tidak berhasil bagaimana?" Mas Bagas nampak masih ragu.


"Kita usahakan saja... Bagaimanapun hasilnya, kita berserah pada Allah..." Kulihat mas Bagas tersenyum kecil lalu menarik ku lebih merapat padanya. Dengan senang hati aku mendekat, bahkan aku menelusupkan kepalaku di dadanya. Rasanya nyaman sekali.


Baru kali ini aku berani dengan sengaja menelusup begitu. Biasanya ada rasa takut atau sungkan jika aku sedang berduaan dengan mas Bagas, tapi kini entah karena sudah terbiasa atau karena rasa percaya diriku yang mulai tumbuh, aku berani bermanja padanya.


Kuhirup aroma tubuh mas Bagas sepuasnya. Setelah itu aku menarik kepalaku agak menjauh, agar bisa menatap wajahnya.


"Mas... aku kangen susana di rumah..." Kataku mengalihkan pembicaraan. Sengaja aku lakukan hal itu, agar mas Bagas tidak terpikir soal latar belakang keluargaku dan keraguannya akan pengobatan yang akan dia jalani.


"Rumah mana?" Tanya mas Bagas sambil balas menatapku.


"Ya rumah tuan Darmawan... "


"Tuan itu sekarang bapak kamu, Nur..." mas Bagas memotong. Aku tersenyum menyadari protes mas Bagas.


"Apa yang kamu kangenin di sana...?"


"Aku kangen sama temen-temen di sana... mereka baik-baik, mas. Mereka mau menerima aku walaupun aku ini enggak becus apa-apa soal pekerjaan rumah... Sering kali, jika aku mendapat tugas, mereka membantuku menyelesaikannya. Kalau aku enggak bisa, mereka mengajariku..."


"Iya?" komentar mas Bagas.


"Iya..." Jawabku sambil kembali menelusupkan wajahku ke dada mas Bagas.


"Pasti lelah sekali kan, bekerja seperti itu...?"


"Lelah... iya. Tapi kegiatan itu mengalihkan perhatianku dari perasaan nelangsa dan kesepian..." Jawabku tanpa bermaksud untuk mengadu.


"Mas tahu, mereka itu pernah jail sama aku... waktu itu di rumah pas ada acara tahlil umum (tahlil rutin setiap minggu yang tempatnya bergiliran) ... Nyonya menyuruh kami membuat bakso untuk sajian para jamaah tahlil.


Setelah acara selesai, aku kebagian semangkuk bakso untuk ku nikmati. Tapi ternyata, diam-diam teman-teman ku itu selalu menambahkan isian bakso ke dalam mangkuk ku. Ada yang menambahkan mie... ada yang menambahkan pentol nya, ada juga yang menambahkan potongan tahu... Mas tahu... aku sampai bingung, kenapa isi mangkukku enggak habis-habis..." Ceritaku sambil tertawa kecil diikuti tawa mas Bagas.


"Sudah malam... tidurlah...." Ucap mas Bagas kemudian lalu dia mengusap-usap pundakku pelan.


Kamu tahu... setelah sekian bulan, baru kali ini rasanya aku merasa senyaman ini. Nyaman dalam arti sebenarnya. Nyaman jiwa dan raga. Aku sudah tahu latar belakang keluarga ku... dan aku juga sudah punya pijakan untuk melangkah ke masa depan.


...*...


...*...


...*bersambung*...


...*...

__ADS_1


...*...


...--- makasih banget buat para pembaca yang masih setia membaca cerita ini. Lop yu ol gaes. 😘😘😘 ---...


__ADS_2