
Menjelang maghrib, acara istighotsah itu selesai... Sebagian jamaah menunggu untuk ikut maghrib-an berjamaah di sana, sebagian lagi berpamitan pulang. Aku termasuk yang berpamitan pulang lebih dulu, karena tuan Bagas sudah tidak betah duduk... Dia lelah dan ingin rebahan.
Awalnya aku agak bingung, mau ikut tuan Bagas atau ikut nyonya Supami, karena tadi kan aku pergi bareng nyonya, tapi sekarang ada tuan Bagas yang harus aku ikuti. Tapi waktu bilang mau pulang, tuan Bagas tidak berkata apa-apa padaku.
"Tuan... saya ikut tuan atau nyonya? " Tanyaku ragu-ragu.
"Ikut aku... " Sahut tuan Bagas pasti. Aku mengangguk patuh. Setelah itu aku membantu tuan untuk duduk di kursi rodanya.
Wuih...! Ternyata membantu tuan berdiri itu berat sekali. Tuan Bagas mengalungkan lengannya di pundakku, sementara tuan Darmawan membantunya dari arah belakang.
"Jika kamu tidak ingin menyulitkan istrimu lebih lama, rajin-rajinlah terapi... " Ujar tuan Darmawan saat membantu anaknya duduk. Mendengar ucapan ayahnya, tuan Bagas seketika memandang ku. Aku tidak melihatnya secara langsung, tapi dari ekor mataku aku tahu, tuan Bagas seperti yang sedang menebak apa yang aku pikirkan... Aku pura-pura sibuk menempatkan kakinya dengan benar di pijakan kursi.
"Sudah, aku pergi dulu... " Pamitnya. Kembali aku bingung. Sebagai seorang menantu, seharusnya aku mencium tangan para tetua itu. Tapi sebagai seorang pelayan tentu saja akan menjadi tidak sopan kalau berani menyentuh anggota tubuh mereka...
"Permisi, tuan... nyonya... " Pamit ku akhirnya sambil membungkukkan badan. Aku tidak berani lancang sebelum ada petunjuk lebih lanjut. Mereka cuma mengangguk dan membiarkan aku pergi menyusul tuan Bagas.
Aku membantu tuan Bagas naik ke mobil bersama pak supir. Sementara Pak supir menyimpan kursi roda tuan ke bagasi mobil. Aku memperhatikannya sambil berpikir, aku harus duduk dimana? Sungguh, status baru ini membuat aku bingung dan penuh dilema. Kalau saja kami menikah karena kami memang saling mencintai tentu tidak akan sekaku ini rasanya.
Statusku memang sudah menjadi istrinya, tapi posisiku tetap pelayan.... Kalian ingat apa yang dikatakan (diingatkan) nyonya kepadaku sebelum kami menikah tadi kan?
"Bukankah kamu bersedia mengabdi pada anakku... "
MENGABDI... Kata itu perlu diberi garis bawah dan dicetak tebal untuk menekankan artinya. Jadi aku tahu diri... aku ini dinikahi cuma untuk mensyah kan pekerjaan yang harus aku lakukan, mengurangi resiko khilaf yang mungkin terjadi diantara kami. Aku takut malah aku yang khilaf nanti ๐ ....
Ya habis, walaupun tidak bisa berjalan, secara lahiriah tuan Bagas itu sebenarnya hampir sempurna. Wajah tampan penuh kharisma, khas milik para bangsawan. sekali lirik saja bikin hati gonjang-ganjing enggak karuan. Badannya juga proporsional, enggak kekar juga enggak lembek. Kulitnya putih bersih, enggak seperti aku yang sedikit berwarna. ๐
Ah pokoknya, kalau saja tuan bisa berjalan, jangan pernah berharap tuan bakal sempat ngelirik aku. Dijamin, antrian wanita yang mengharapkan nya sama panjangnya dengan kereta api angkutan lebaran...
"Nur...! " Panggil tuan tiba-tiba mengejutkan ku.
"Ya, tuan... " Sahutku sambil membungkuk melongok ke dalam ke arah tuan.
"Kamu masih nungguin apa? " Tanyanya. Aku lihat posisi duduk tuan sedikit menepi, seperti memberi ruang untuk orang lain duduk di sebelahnya.
"Eng... enggak nungguin apa-apa, tuan..." Sahutku. Apakah ruang itu dia sediakan untukku?
"Kalau gitu cepatlah... aku sudah lelah... " Katanya lagi setengah menggerutu.
"Baik tuan..." Sahutku.
Aku menegakkan punggung lebih dahulu sambil menatap supir yang sudah masuk dan duduk di kursinya. Ah, supir... supir.... mau jadi buruh, mau jadi juragan, kalau supir tempat duduknya pasti disitu... enggak kayak aku yang bingung duduk gara-gara posisi... ๐คฆโโ๏ธ
__ADS_1
Ku beranikan diri duduk di jok belakang, di samping tuan. Aku pikir tuan menepi karena memberi tempat untukku kan? Mau buat siapa lagi coba.
"Ayo jalan, pak... " Perintah tuan kemudian pada supir.
"Baik tuan... " Sahut supir sambil mulai menghidupkan mesin mobil.
Dari spion aku lihat tatapan heran di mata pak supir saat melihat aku duduk di samping tuan. Aku hanya bisa membuang pandangan keluar jendela menyadari arti tatapan itu. Tuan juga tidak berkata apa-apa selama perjalanan. Kami hanyut dalam pikiran kami masing-masing.
"Eh, tuan. Ini bukan jalan pulang ke rumah kan?" Tanyaku spontan saat mobil tiba-tiba berbelok ke arah yang berlawanan dengan arah yang tadi aku lalui saat pergi bersama nyonya.
"Kata siapa?" Tuan Bagas malah balik bertanya.
"Eng... rasanya tadi waktu datang saya lewat jalan yang itu... " Kataku sambil menunjuk arah yang menurutku seharusnya diambil supir tadi.
"Kalau kamu lebih tahu jalan, mustinya kamu yang jadi supir... " Ucap tuan Bagas lagi, membuat aku seketika merasa malu karena sudah bersikap seolah sok tahu, padahal aku kan cuma menyampaikan pendapatku...
"Maaf... " Ucapku lirih sambil menunduk.
Tiba-tiba ada jari yang menyentuh dagu dan memutar wajahku hingga menghadap ke arah tuannya.
"Maaf untuk apa?" Tanya tuan. Kulihat tuan tersenyum lembut padaku. Seketika hatiku berdesir melihat senyuman itu.
"Maaf karena saya sudah bersikap sok tahu... " Jawabku.
"Tidak tuan... " Jawab ku cepat. Aku takut tuan benar-benar berpikir seperti itu padaku. Tapi melihat reaksi ku, tuan Bagas malah tertawa kecil.
"Kau ini... " Katanya sambil mendorong pelan dagu ku yang sejak tadi digenggam nya.
Aku tersenyum saat tuan mendorong ku. Aku tidak merasakan suatu penolakan dari dorongan itu, justru aku merasakan suatu keakraban dari sentuhan tuan.
"Kamu bisa masak enggak?" Tanya tuan kemudian mengganti topik pembicaraan.
"Eng.... enggak yakin sih, tuan... " Jawabku jujur. Aku memang tidak merasa familiar dengan perkakas dapur, jadi aku enggak berani jamin kalau aku bisa masak.
"Ya sudah, aku suruh orang buat siapin makan malam kita.... " Ucap tuan Bagas akhirnya.
"Terima kasih tuan... "
***
Setelah beberapa lama berkendara, mobil memasuki kawasan sebuah perumahan. Bukan perumahan model yang dibangun oleh suatu pengembang Tapi perumahan rakyat biasa, karena dilihat dari model bangunan serta ukuran rumah tidak sama satu dengan yang lainnya.
__ADS_1
Lalu tak lama kemudian, mobil memasuki pelataran parkir sebuah rumah yang kelihatannya cukup besar dibandingkan dengan rumah-rumah disekitarnya , walaupun tidak sebesar rumah keluarga tuan Darmawan pastinya.
Dari dalam rumah keluar dua orang wanita berbeda usia dan seorang pria paruh baya. Yang pria langsung mendekat dan membantu tuan Bagas untuk turun, sementara supir sudah menurunkan kursi rodanya.
"Tuan.... " Sapa pria itu. Tuan Bagas cuma mengangguk singkat. Aku berjalan mendekat, bersiap kalau-kalau tuan butuh bantuanku. Tapi ternyata tuan sudah cukup bisa membantu dirinya sendiri.
Tuan meluncur masuk, aku mengikuti dibelakangnya. Sementara supir membawa mobil yang membawa kami barusan ke garasi.
"Nur, ini Pak Surip, itu istrinya, dan itu Murni..." Ucap tuan Bagas sambil menunjuk mereka satu persatu...
"Assalamu'alaikum... saya, Nurul... " Salamku sambil membungkukkan badan sedikit untuk menghormati mereka.
"Waalaikum salam..." Sahut bapak dan ibu Surip. Yang bernama Murni sesaat menatapku tajam sebelum menjawab salam.
"Ayo Nur...." Ajak tuan kemudian sambil mendahului masuk ke dalam rumah. Aku kembali mengangguk untuk berpamitan sebelum mengikuti tuan masuk.
"Mak, siapkan makan malam... sebentar lagi kami turun..." Ucap tuan sebelum masuk ke dalam lift.
"Baik tuan... " Sahut mak Surip.
Aku tetap mengikuti tuan karena memang tidak tahu lagi harus ngapain.
Di lantai dua, tuan keluar lift, dia langsung menuju sebuah kamar yang ada di dekat pintu lift itu. Sebuah kamar yang besar.
"Nur, siapkan air mandi ku... " Perintah tuan. Aku mengangguk, lalu mengedarkan pandangan mencari letak kamar mandi di ruangan itu. Ternyata kamar mandinya ada di sudut kanan, bersebelahan dengan pintu masuk.
Aku masuk ke kamar mandi dan menyalakan kran air, mengatur suhu air yang keluar serta besarnya aliran air yang mengalir. Setelah menghidupkan air kran, aku keluar kamar untuk menyiapkan pakaian gantinya.
"Sudah...?" Tanya tuan begitu aku keluar.
"Sudah tuan... " Jawabku sambil menoleh kearah tuan karena reflex, tapi aku langsung membuang pandang saat melihat tuan sudah melepas atasannya.
"Ayo bantu aku... " Ucap tuan Bagas kemudian sambil meluncur ke kamar mandi.
Nah, loh... Status mah boleh berubah, tapi deg-degan sih tetap aja. Apalagi sekarang, aku enggak punya alasan untuk menolak pekerjaan ini...
Pekerjaan yang selalu bikin aku sport jantung.
.......
.......
__ADS_1
...๐bersambung๐...
.......